Sah!,  sejak tanggal 06 Mei 2021 larangan mudik mulai diberlakukan, seluruh moda transportasi pengangkut penumpang dipersempit ruang geraknya dan beberapa titik perbatasan antar daerah diperketat penjagaanya. 

Mudik, merupakan sebuah tradisi masyarakat Nusantara di akhir bulan Ramadhan, yang kini tinggal kenangan.

Mudik sudah menjadi bagian dari rentetan tradisi menyambut hari raya idul fitri, yang memiliki arti "kembali" sama halnya dengan makna dari idul fitri yang sering kita dengan "kembali menjadi suci".

Manusia merupakan makhluk sosial,  wajar bila ia merindukan lingkungan pertama dirinya dilahirkan.  Bahkan sekelas Nabi dan Rasul, juga mengalami kerinduan kepada kampung halamannya. 

Pandemi yang terus mempermainkan perasaan para pemudik, sudah memasuki tahun ke-2. Seolah libur panjang pada awal April lalu, sebagai percobaan untuk mengetes apakah corona masih ada.

Hasilnya?ambyar! , angka kasus penularan corona melambung. Bahkan muncul klaster baru, di daerah Boyolali setelah warganya melakukan piknik bersama,  sebanyak 36 orang terjangkit virus corona.

Obrolan menarik terjadi saat istirahat kantor, antara saya dan teman se-nasib tidak dapat mudik. Saat sedang berdiri sejenak untuk meluruskan punggung, akibat terlalu lama duduk di kursi, tiba-tiba teman yang duduk disebelah saya bertanya “kapan ya kita bisa lebaran di kampung lagi?”. Seolah ada bagian dari dirinya yang hilang ditelan oleh keadaan.

“Sabar mas”, saya berlagak sok kuat dengan mengatakan kalimat positif yang beracun. Lha gimana mau sabar, ini sudah tahun kedua. Teman saya meninggalkan pusat dunianya, di tempat yang berjarak ribuan mil dari tempat duduknya sekarang, sepertinya sedang dilanda penyakit malarindu. Saya paham betul, hatinya ditutupi kabut kerinduan kepada keluarganya di kampung.

Rasa ingin tahu dalam diri saya muncul, terlebih pada kegiatan yang dilakukannya saat mudik apa saja. Hal tersebut mendorong saya untuk mengajukan pertanyaan kepada dirinya  “kalau pulang kampung biasanya ngapain saja mas? “, raut wajahnya terlihat bingung dengan pertanyaan saya, seolah pertanyaan yang saya ajukan aneh.

“Ya, kumpul sama main biasanya” jawabnya dengan penuh kewaspadaan, seolah tahu pertanyaan ada pertanyaan susulan. Saya, yang masih ingin lebih jauh lagi mengetahui porsi kegiatan teman saya.

Sebenarnya lebih banyak mana  porsi main dan berkumpul dengan keluarga, akhirnya saya melancarkan satu pertanyaan “lebih banyak main, atau kumpul sama keluarga”, sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia menjawab “sepertinya main deh”.

Obrolan siang itu menjadi sebuah diskusi hangat, yang tidak kalah dengan teriknya matahari khas pesisir pantai, saya mencoba bertanya kepada teman yang berada di depan saya, perilakunya yang sedari tadi khusyuk menatap layar monitor lengkap dengan headset yang menancap di telinganya.

“Kalau kamu coy?”, teman saya langsung melepaskan headset yang menancap ditelinganya, dan membalikan badannya ke arah saya.  Ternyata ia tertarik pada medan magnet diskusi siang itu.  “kalau saya, banyak mainnya, semenjak corona saya jadi merenung", jawabnya.

"Kenapa dulu saya lebih memilih main sama teman, ketimbang kumpul bersama keluarga” tutupnya dalam sesi itu.  Jawabannya yang begitu menohok bagi saya. 

Dua jawaban teman saya siang itu, membawa saya pada satu kesimpulan yaitu rasa  penyesalan, yang pada akhirnya menyadarkan saya bahwa ada yang salah dengan kegiatan mudik tahun-tahun sebelum pandemi. 

Hingga muncul satu pertanyaan besar hasil dari diskusi pada siang itu. Apa jangan-jangan  pandemi sedang berusaha melahirkan pemudik berkualitas unggul?.

Apa yang dialami oleh teman-teman saya, juga saya lakukan saat melaksanakan mudik. Ya, hanya menganggap mudik sebagai rutinitas di akhir bulan Ramadhan. Tetapi pada hari itu saya tersadar, ketika pandemi datang dan menyebabkan pembatasan aktivitas.

Mudik menjadi sesuatu yang sangat berharga, ah andai saja ada mesin waktu untuk memperbaiki kesalahan saya pada waktu itu. Padahal saya mengira para perantau melakukan hal semacam itu suatu kewajaran,

Lha, keberanian para manusia untuk meninggalkan tanah kelahirannya demi suatu tujuan tertentu adalah sebuah pencapaian tersendiri menurut saya, karena ada proses yang tidak didapatkan layaknya pendidikan formal, tetapi pada kenyataanya itu belumlah cukup. 

***

Pada tahun ke dua pandemi, dimana jangka pelarangan mudik di perpanjang sekaligus diperketat. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai  pembelajaran, bahwa saya dan manusia nusantara lainnya perlu belajar agar menjadi pemudik yang terdidik. 

Yaitu pemudik yang kepulangannya, dihabiskan untuk mendapatkan kehangatan sosial dari orang terdekat.Bahkan momentum mudik, adalah waktu yang tepat untuk menyembuhkan luka diri sendiri sekaligus luka orang terdekat. Akibat rindu yang terlalu lama ditimbun.

Ada hasil penelitian menarik yang dilakukan oleh seorang ilmuwan bernama Sheldon Cohen (Goleman,2017), terkait dengan kedatangan orang tersayang kaitannya dengan penyembuhan pasien virus Rhino.

Pada penelitian tersebut, Cohen membuat rekomendasi pada pasien yang terserang virus Rhino agar membuat “Sekutu biologis”, yang dimaksud adalah melakukan pencangkokan terhadap orang-orang baru pada jaringan sosial, terutama kepada orang yang membuat kita terbuka.

Hasil lebih lanjut menyebutkan, bahwa orang yang terintegrasi secara sosial , yaitu memiliki hubungan sosial yang intim terhadap oranglain, serta mengambil bagian secara luas dalam hubungan tersebut, akan pulih lebih cepat dari penyakit dan hidup lebih lama.

Penelitian dari Cohen diperkuat dengan 18 studi serupa, sehingga keabsahannya tidak bisa dianggap remeh. Sampai pada satu kesimpulan bahwa ada kaitan yang kuat antara konektivitas sosial dengan mortalitas. Saya jadi teringat pada satu kisah biarawati dari daratan Perancis, pada awal bulan Februari lalu.

Biarawati yang sudah berusia 116 tahun dinyatakan positif virus corona, alih-alih takut dan panik. Ia justru senang karena akan pulang kepada Tuhannya, dan segera menemui  keluargannya yang sudah lebih dahulu meninggal dunia. Menariknya, alasan kuat tersebut, berakibat pada kesembuhan.

Penelitian dari Cohen dan kisah biarawati tersebut menyadarkan saya, bahwa pulang merupakan kemewahan yang tak ternilai, pulang itu menyenangkan sekaligus menyehatkan. 

Seandainya momentum ini bisa menjadikan manusia sembuh sekaligus menyembuhkan, tidak berlebihan jika mudik pantas mendapatkan label barang mewah di tengah pandemi.

***

“Mudik adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh perantau”, saya mencoba memodifikasi quote dari Tan Malaka. Karena mudik di masa pandemi merupakan kegiatan yang begitu mewah, secara makna apa artinya sebuah perjalanan, apabila pergi tanpa kembali.

Dengan demikian kesadaran akan arti penting mudik, begitu sangat membekas pada  jiwa para perantau. Ketika dunia mulai normal kembali, dan perantau dapat melaksanakan mudik.

Ingatlah hari di saat pandemi, bahwa mudik pernah menjadi satu-satunya barang mewah pada masa itu. Sehingga kita menjadi pemudik yang terdidik, dan mendapatkan arti pulang sejati.