Kemajuan teknologi yang terjadi pada kehidupan manusia saat ini memudahkan disegala bidang dengan melahirkan embrio baru, berbagai macam kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder dapat diakses tanpa perlu membuang banyak energy tanpa sekedar wira-wiri. Kemajuan teknologi saat ini tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia.  Ingin shooping, melihat peta, dan  bahkan jalan-jalan secara virtual layaknya di dunia nyata sudah tidak asing lagi. Hal ini tak lepas dari peran internet, dengan adanya internet manusiapun bisa menggakses semua yang terintegrasi. 

Bagaimana tidak betah, berjam-jam orang berselancar didunia maya hanya untuk mengisi kekosongan waktu luang atau waktu beristirahat untuk santai. Main gaway bersama teman, sahabat, komunitas dari jarak jauh bukan halangan untuk tetap bisa berkomunikasi satu sama lain. Hanya kuota internetlah yang jadi penentu sebagai sumber energy dan nyawa manusia, bukan lagi jantung hati dan pikiran, bahkan mereka rela untuk membeli internet dari pada untuk membeli sebungkus nasi. 

Bahkan yang lebih tragis lagi seorang remaja berusia 19 tahun asal provinsi Jiangsu, Tiongkok, dia sengaja memotong tangannya sendiri demi mengobati kecanduan berinternet. dilansir laman The Telegraph, Sabtu (7/2/2015), di rumah sakit A & E Jiangsu tim dokter bedah dirumah sakit tersebut mampu mengobati tangan remaja yang namanya disebut ‘Little Wang’, namun hal tersebut belum tentu tangan remaja tersebut berfungi normal kembali.

Yang terbaru kasus kebocoran 91 juta data pengguna Tokopedia yang diretas  pada 2 Mei 2020 dampaknya Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menggugat Tokopedia dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rp 100 miliar atas kesalahan ini. Dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis ( 7/5/2020 ).

Budak Masa Depan

Berkaitan dengan fakta tersebut manusia saat ini seperti ditelanjangi karena tidak memiliki hak untuk menjaga kerahasiaan peribadinya, semuanya telah membawa perubahan pada peradaban manusia ke suatu era dimana batas waktu dan ruang dihilangkan. Dalam  teorinya mengenai teknologi sebagai perluasan tubuh manusia atau human extension dan konsep global village,  McLuhan mengemukakan era baru tersebut menghasilkan masyarakat informasi. Teknologi tidak hanya berdampak positif melalui kegunaannya, tetapi juga melahirkan suatu dampak negatif yang disebut McLuhan sebagai autoamputation. 

Manusia semakin teramputasi dari fungsi-fungsinya secara fisik dan biologis yang menyebabkan dehumanisasi pada diri manusia sebagai makhluk social. Manusia yang harusnya bebas merdeka dengan pilihan hidup masing-masing sesuai yang diyakini. Hal tersebut berdampak pada penindasan terhadap suatu kaum., kaum yang hanya terisolir sebagai pengguna gaway yang memiliki akses biasa dan kaum yang memiliki hak ases secara keseluruhan. Masing-masing sama pada dasarnya sebagai pengguna namun haknya dibatasi.

Balik lagi pada initi bahasan tentang masa depan dan kehidupan sosial masyarakat yang terpenuhi dengan kemudahan-kemudahannya, masa depan baru, kehidupan baru, gaya dan culture budaya baru kini terlahir. Peradapan kuno yang sudah punah dan ditinggalkan hanya menyisakan cerita untuk dikisahkan melalui film maupun video dokumenter. Layaknya hidup normal, manusia justru dihadapkan pada persoalan mengikuti arus baru, mereka di tuntut untuk tidak tertinggal informasi up to date yang ter-update dari berbagai macam teknologi. Karenanya teknologi bukan menjadi barang haram untuk di nikmati entah software maupun aplikasi yg tidak memiliki licensi pun banyak beredar dipakai untuk bekerja maupun dijual.

Munculnya Aplikasi Sosial Baru

Belum lagi dimasa pandemic dengan adanya virus covid-19 ini manusia berekspansi ke dunia virtual dengan menggunkan aplikasi gratisan ZOOM Meeting maupun Google Meeting sebagai media bersosial. Padahal data diri mereka secara tidak langsung diberikan secara Cuma-cuma, seperti data wajah mereka, nomer hp  bentuk ruangan rumah dan masih banyak yang tidak bisa disebutkan. Kalau kita tahu tentang ilmu komputasi mengenai biometric atau suatu ilmu yang mempelajari tentang menganalisis fisik dan perilaku manusia dalam dunia teknologi informasi. Maka data wajah maupun perilaku kita dapat dimanipulasi dengan mudah karena data-data perilaku kita sudah ter-record  di dalam database di dunia virtual.

Dan lebih parahnya hidup sosial di dunia maya di samakan dengan di dunia nyata, mereka asik memainkan gawe yang terhubung internet dan asik memberikan hak akses ketika setiap kali mendaftar di sebuah situs jejaring social maupun lainya, mereka tidak menyadari propaganda yang terstruktur sistematis supaya orang berekspansi untuk merubah cara dan gaya hidup yang konvensional menjadi modern, imbasnya adalah manusia menjadi ketergantungan terhadap teknologi saat ini. 

Saya masih ingat ketika mendapatkan beasiswa perkuliahan di salah satu universitas terbaik di Indonesia sebut saja UI, waktu  itu materi tentang data science yang mana dosen saya lulusan dari Universitas di jepang Tokyo Institute of Technology bidang computer science  ahli dalam bidang tersebut dan mengembangkan sebuah deteksi mobil meliputi harga, tahun keluar, jenis mobil, dan bahkan kategori mobil mewah atau bukan mampu dibaca oleh sistem yang telah beliau buat.  

Namun yang paling lucu bagi saya adalah ketika beliau bercerita kisahanya selama di Japan bahwa beliau sangat tergantung terhadap teknologi yang ada di dalam sebuah smartphone, budaya sosial yang biasanya dia lakukan di indonesia ketika tidak tau suatu daerah untuk sekedar bertanya saja anti untuk di bertanya kepada penduduk asli Japan. Ini mengindikasikan bahwa karena teknologilah semua berubah, yang duluanya mampu mandiri dengan apa yang dimiliki di dalam diri sesesorang kini cenderung berubah terbalik 360 derajat.

Menyikapi dengan Bijak

Tentunya memang tidak mudah untuk meninggalkan era teknologi saat ini karena manusia diciptakan untuk berfikir dan berproses sehingga mampu menciptakan hal baru, namun harapan dari kehidupan dan era yang serba teknologi ini, alangkah baiknya kita sebgai pengguna  sekaligus penikmat di era teknologi ini tidak terlalu maniak ikut-ikutan sebagai manusia alay karena ada hal baru, maka control self pada diri kita mulai kita tumbuhkan dalam artian kita bisa melihat dampak baik buruknya hal yang kita pakai saat ini sudah sesuaikah pada tataran pilihan kita.