Ada sebuah film drama perang yang cukup menarik. Film yang dirilis tahun 1998 itu berjudul Legionnaire. Drama perang yang dibintangi oleh Jean-Claude van Damme ini membawa saya untuk kembali mengingat sebuah semboyan sektarian Pasukan Legiun Asing Prancis yang berbunyi: Legio Patria Nostra (Legiun adalah Tanah Air).

Ketertarikan saya dengan semboyan itu dikarenakan dalam drama perang tersebut, Alain Lefevre, yang diperankan Van Damme sebagai tokoh sentral, memberikan pembenaran dan penguatan yang cukup ciamik.  

Semboyan ini menitikberatkan pada nilai moral untuk menjunjung tinggi rasa setia kawan atau Esprit de Corps (Jiwa Korsa). Berbakti kepada korps, bukan kepada negara atau tanah air. 

Semboyan tersebut kini seolah menjadi sasanti wajib dan kitab suci bagi semua pasukan elite dan khusus di seluruh dunia. Epistemi jiwa korsa ala Legiun Asing Prancis tentunya berasal dari sebuah sirkumferensi yang mendukung. 

Pasukan Legiun Asing Prancis adalah para buangan, residivis, pecandu, dan sejumlah atribut sampah masyarakat lainnya yang kemudian dilatih untuk berperang membela korps dengan bayaran tinggi.

Karakteristik jiwa korsa Pasukan Legiun Asing Prancis memanglah sangat kental. Resep kesetiakawanan yang ditawarkan cocok menjadi bumbu paling sedap atas keragaman kewarganegaraan yang ada di tubuh pasukan elite tersebut. 

Pun begitu, semua ideologi dan segalah isme dimatikan total. Yang ada hanya ideologi perang; membunuh atau dibunuh! 

Mereka kuat bersatu di bawah payung semboyan itu, walaupun dengan latar belakang kewarganegaraan, riwayat pekerjaan, karakter, dan ideologi yang berbeda-beda. Legiun Asing ini jelas berbasis bayaran, petualangan, dan keterampilan tinggi, serta jiwa korsa tentunya.

Kemudian satu lagi film dokumenter durasi pendek dengan judul Je Serai Légionnaire atau Aku Akan Jadi Legionnaire yang diunggah di YouTube, membuktikan pola pelatihan dan perekrutan nonideologis. Semua ideologi negara asal dinetralkan.

Film dokumenter tersebut fokus pada proses perekrutan, pelatihan dasar, hingga pelantikan sebelum resmi berdinas di Legiun Asing. Mereka menyebut latihan dasar militer sebagai “15 Minggu di Neraka” atau dikenal sebagai Hellweeks.

Legiun Asing Prancis atau French Foreign Legion atau yang dikenal juga dengan sebutan Legion de Estrenge (LE) mempunyai kesamaan model perekrutan yang diterapkan Israel dalam membangun kesatuan tempurnya, Lone Soldier yang multiras, multiagama, dan multibangsa.

Ideologi mereka adalah bayaran atau duit. Ada uang kita berperang. Itulah kelebihan uang. Lone Soldier (Chayal Boded) Israel dan Legiun Asing Prancis (Legion de Etrangere) dibesarkan dan diikat dengan bayaran yang menggiurkan. Mereka hanya bersatu dalam dua hal, bayaran tinggi dan jiwa korsa.

Tidak ada kepatuhan lain yang harus dan layak dijunjung tinggi kecuali atas nama korpsnya masing-masing. Bukan pula membela ideologi yang sifatnya abstrak. Yang mereka tahu adalah: Jangan tinggalkan teman di belakang! Bukan sebaliknya, jangan tinggalkan ideologi di belakang!

Legiun Asing Prancis itu tidak berbakti kepada Pemerintahan Prancis. Legiun Asing Prancis berbakti kepada korpsnya. Tentunya juga kepada tuan besarnya, uang.

Kemudian kita hubungkan efek dari jiwa korsa ini dengan apa yang sedang ramai diperbincangkan di dunia maya. Tersebutlah Enzo, calon Taruna Akmil TNI yang berdarah Prancis itu. 

Setelah videonya viral, seperti biasa, akan muncul pro dan kontra. Salah satunya adalah keterkaitan latar belakang Enzo yang diduga simpatisan HTI. Apakah berbahaya? Seberapa jauh pengaruh paparannya?

Kekhawatiran khalayak memang beralasan dari perspektif permukaan. Masyarakat menggunakan silogisme sederhana untuk mendukung kekhawatiran tersebut. Mereka beranggapan, jika Enzo terpapar radikalisme, maka sungguh bahaya tubuh TNI. Mari kita lihat satu per satu titik terangnya.

Pertama, untuk jiwa korsa, diketahui bahwa Enzo juga ingin bergabung dengan Kopassus, korp baret merah yang terkenal dengan jiwa korsanya itu. Ada beberapa peristiwa yang telah mengiringi dan menguji kekuatan jiwa korsa Kopassus, seperti peristiwa Cebongan. 

Mereka bertempur untuk kesatuan atau korpsnya. Beberapa peristiwa bentrok TNI-Polri juga dipicu kekuatan jiwa korsa.

Kedua, sejarah masa lalu juga membuktikan bahwa penyaringan ketat dengan fokus ideologi ala TNI juga terlihat kurang efektif dengan adanya peristiwa tentang Pasukan Pengawal Presiden, Cakra Bhirawa yang bermasalah hingga melakukan penculikan. Apakah mereka kurang Pancasilais?

Seberapa ketat sistem seleksi ideologi ala tentara pasti jebol juga. Sebab yang diseleksi dan yang digarap adalah pemikiran (ideologi) yang sifatnya dinamis dan fluktuatif.  

Ketiga, jangan kagetan dengan kedatangan wajah-wajah bule di tubuh TNI. Bukankah yang melatih pertama saat pembidanan kelahiran Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu juga berwajah bule? Dialah Rokus Bernardus Visser, orang Belanda, yang kemudian berganti nama menjadi Mohammad Idjon Janbi setelah masuk Islam.

Belajarlah kepada Legiun Asing Prancis dan Lone Soldier Israel. Ideologi bagi mereka sudah bukan barang garapan psikologi militer lagi. Yang terpenting adalah Legio Patria Nostra, Jiwa Korsa, dan uang tentunya. 

Kekuatan jiwa korsa dan duit unit ini sudah dibuktikan dengan eksisnya mereka di dua Perang Dunia. Jiwa Korsa dan uang bisa menyatukan kumpulan orang-orang yang beraneka ragam latar belakang ideologinya.

Dalam peperangan, mereka beraksi tanpa kemarahan dan tanpa kebencian atas nama ideologi. Namun, mereka bisa marah atas nama korps dan bayaran. Mereka akan dengan mudah untuk selalu menghormati ideologi musuh-musuhnya yang gugur. 

Mereka tidak akan pernah meninggalkan teman-temannya yang gugur atau terluka, walau beda ideologi. Karena bagi mereka, di mata mereka, hanya ada dua ideologi yang teragung. Dialah jiwa korsa dan uang.