Aktivis
1 tahun lalu · 766 view · 2 min baca menit baca · Budaya 74609_22119.jpg
Google Image

Entar Juga Kawin!

Harapan oleh dan bagi mereka yang dibilang "Melawan Kodrat"

‘Entaran juga yei kewong (dibaca kawin) punya keluarga sakinah eim. Pokoknya kewong!’

Itu adalah doa garis tipis harapan yang sering kali terlontar dari beberapa teman yang kebetulan memiliki ketertarikan secara romantik dan seksual kepada sesama, baik jenis seks biologis (biasa dikenal dengan jenis kelamin) maupun sesama identitas gender.

Doa setipis dengan harapan itu berbanding serupa dengan harapan dari keluarga, teman, lingkungan, dan masyarakat secara umum kepada temannya sendiri, atau anggota keluarganya sendiri yang juga memiliki ketertarikan sesama.

Kondisi di atas adalah kondisi yang lumrah didapati di dalam ruang-ruang interaksi kita sehari-hari. Hayo ngaku? Iya, kan?

Eits….. tapi ga cuma itu kok ;)

Normal 

Normal dalam tulisan ini tentu saja mengacu kepada sebuah norma yang dianggap umum dan pantas sehingga menjadi kepantasan yang ajeg dan menjadi nilai bagi setiap individu maupun kelompok di masyarakat kita. Di dalam kehidupan yang kita hidupi sehari-hari, perempuan memiliki ketertarikan kepada laki-laki, baik secara romatis maupun seksual.

Pun sebaliknya adalah sebuah kepantasan. Kepantasan ini kemudian dilembagakan ke dalam sebuah struktur bernama perkawinan di mana negara dan agama mengambil andil dalam pelembagaan tersebut. Perkawinan biasanya dianggap sebagai sebuah ‘kesuksesan’.

Kepantasan yang menjadi sebuah norma kemudian seolah-olah menjadi yang paling benar. Sehingga, bila ada yang keluar dari kelurusan norma tersebut, tentu saja akan mendapat label ubnormal dengan berbagai sebutan, mulai dari sekong alias sakit, belok alias ga lurus, berdosa dan melawan kodrat, hingga disebut-sebut sebagai proxy war.

Norma kepantasan tentang pantas dan tidaknya seseorang berpasangan ini ditanamkan kepada setiap anak manusia yang terlahir di muka bumi, termasuk bumi bagian dataran Indonesia. Ingat ya, dataran bukan datar. Hehehe..

Sehingga, bila didapati seseorang atau bahkan mendapati diri tidak berkesesuaian dengan kelurusan norma tersebut, maka akan cenderung melakukan penghakiman bahwa itu adalah sebuah ketidak-lumrahan. Wajar saja, ‘Semoga bisa kembali normal’ adalah doa sekaligus harapan yang dikumandangkan oleh mereka yang menggap diri normal juga pada diri yang merasa ubnormal.

Meski perkawinan menjadi ‘tujuan hidup’ atau ‘capaian sukses’ bagi seseorang, bagi penulis, melembagakan kehidupan berpasangan ke dalam perkawinan adalah sebuah pilihan. Bisa dipilih oleh orang-orang yang memiliki ketertarikan sesama juga sebaliknya. Pilihan itu biasanya (ini menunjukkan tidak semua loh ya) dipilih berdasarkan ketetapan norma yang ditanamkan.

Acapkali kita menyelamati teman heteroseksual kita yang akhirnya beranjak ke pelaminan, namun tak jarang juga kita mencaci teman homoseksual kita yang menikah secara hetero dengan berbagai latar belakang alasan, salah satunya norma dan atau ‘capaian sukses’; perkawinan’.

Bahwa benar adanya, banyak orang homoseksual menyerah pada keadaan yang ditanamkan atas ‘capaian sukses, yakni kawin secara heteroseksual’ untuk menyenangkan keluarga. Namun, juga ada yang memutuskan bahwa hidup ya membutuhkan pasangan dan perlu dilembagakan dalam perkawinan. Tak peduli siapa pasangannya, yang penting nikah aja dulu...

Ada yang yang berdoa agar menjadi normal dan sukses dengan kawin, tapi ada juga yang memutuskan untuk tidak tunduk pada sebuah kepantasan yang ditentukan oleh masyarakat. Tapi, sesungguhnya ga sesuai sama kita yang ngejalanin.

Tidak hanya kelompok homoseksual, pada kelompok heteroseksual juga demikian. Tak kuat lagi menahan beratnya tekanan yang disandarkan oleh keluarga dan lingkungan tentang menikah adalah sebuah tangga kesuksesan, mau tak mau digapai juga.

Penanaman kepantasan norma bahwa yang pantas berpasangan adalah perempuan dengan laki-laki, lalu kian sukses jika menjajaki tangga selanjutnya, yakni perkawinan, ini memang sungguh luar biasa jahanam. Ia mampu memporak-porandakan pertahanan diri. Tak ayal, ketika pertahanan diri rontok, maka menyerah adalah pilihan terakhir.

Artikel Terkait