Mahasiswa
1 bulan lalu · 122 view · 3 min baca menit baca · Puisi 57459_91990.jpg
Photo by Markus Spiske on Unsplash

Enigma yang Lama

Lupakan hari ini

Semiotok pada wajahmu penuh tanya, menyiratkan berakhirnya delusi persekusi pada kita. Juga, rona-rona pada wajahmu seperti hampir padam, tidak pula seperti jingga yang memerah dihari kemarin. Siluet yang kau bawa, menyiratkan gambaran kelam jika bersamamu kelak.

Letih nelangsa hasrat kemarin

 Jujur, telah muak nalar ini menyusun andai untuk menyapamu, dikala selamat tinggal hampir terucap. Banyak yang hilang dari semestaku yang kukira itu kau. Tegur sapamu tiada warna warni didalamnya. Kita begitu kelam, juga rentet peristiwa lini masa menjadi tenggelam.

Lupakan hari-hari kemarin

Resah menjadi betah pada kita. duduk saja sudah bisu, apalagi kelak bisa abadi dalam kalbu. Persetan dengan cita-cita yang pernah saling berpadu. Lupakan omong kosong di hari yang lalu! Sebab memang kita telah di ambang waktu.

Menjauh adalah inginku                                                   

Menafikan rasa yang pernah tertanam, sampai aku lupa cara mencabutnya. Membunuh cinta mati yang pernah kau tuturkan. Setan apa yang pernah menjelma begitu indah padamu?! Seperti menyihir, menggoda, merayu hingga candu.

Di tepian kota ini aku saksikan

Betapa kenangan kita tersebar di mana-mana. Serta, ketidakjelasan yang kau janjikan telah menjadi parasit. Kubunuh saja dengan kalimat-kalimat setan, yang kutumpahkan pada curamnya tepian kota kumuh. Juga, pada tempat-tempat bersarangnya rindu-rindu munafik!

Remang-remang mulai tiba

Angin yang sejuk itu mulai menanggalkan kesan keramat. Juga, cahaya abadi letih menemani, dan suara-suara kutukanku masih saja menggema. Untukmu yang berhianat, aku telah membunuh kenangan kita. Sampai jumpa dalam alienasi...


Kekeh

Ada sebuah jawab yang kau tagih
Ada aku yang penuh diam
Ada bingkisan cuaca yang menenangi
Air langit itu turun seenaknya
Tapi kita mau saja diburunya
Jika tanyamu sudah bosan
Hingga kita yang kemarin akan sirnah
Dengan seenaknya kau pergi
Tiada bosan menghampiriku
Lelah jiwamu adalah khawatirku
Resah jiwamu adalah kekalutanku
Air matamu adalah hujanku
Kasih...
Lambat laun membikin genangan
Padaku yang terikat kenangan
Matilah aku tenggelam jauh
Dalam kenangan...


Baca Juga: Enigma Cinta

Gerbang Fajar

Diantara ingar bingar azan
Disaksikannya oleh kejora
Ribuan cahaya jatuh berserakan
Menghujani ibu pertiwi
Rona-rona diberanda mulai cemburu
Dayanya tak ada apa-apanya
Berkah subuh nan indah
Romantis menyentuh hati
Dan yang dingin untukmu
Calon kekasih...


Sajak Kerinduan

Dan jika dingin membuatmu betah dalam selimut, untuk apa lagi aku hadir membawa kehangatan. Tidurlah dewi, senyumanmu terpatri dalam renunganku ditengah savana. Merajut angann untukmu di hari lusa, sebab esok milik kekasihmu.


Pak tua sebatang kara

Nasibnya sudah tentu
Lapang dada dalam hari-harinya
Nelangsa pada malam-malam beku
Usahanya...bukan main
Hampir satu abad dalam kesunyian
Berpeluh-peluh diantara bangun dan tidurnya
Memang, nasibnya sudah tentu
Akhir derita hanya satu-satunya
Hanya ajal...


Urbanisasi

Di tepian kota kita renungkan
Usai tangis mulai meredam
Burung-burung bernada sumbang
Jalan-jalan penuh salut
Orang-orang melangitkan doa
Lihat langitku yang lapang
Seperti sedang kalut
Tatap wajah bumi
Nelangsa, meraung memberi isyarat
Pada rona-rona yang menyala
Usahamu telah abadi
Kaki langit membawa pesan
Carilah roh pada tempat-tempat ibadah.


Buta

Laksana imbuhan tanpa teman kata
Terbata-bata dalam satu frasa
Bait puitis tidak begitu adanya
Sudahi aneka rasa yang kau paksa
Diksi tidak sepusing itu di kepala
Renjana tiada bisa dipaksa
Dan kau masih belum peka
Seumpama kita sama
Sadar akan ada dalam dada.


Perjumpaan dalam Senja

Kita begitu nelangsa
Kau bagai puisi yang terbang bebas
Sedang aku terpaku bagai karya ilmiah
Kau dapat berpadu dalam terik mentari
Sedang aku baka di sudut malam
Dalam senja aku melihat raut wajahmu
Begitu putih bagai selumut kalbu
Hingga waktu kembali bertahta
Melihat kau kembali bersamanya
Dalam peraduan yang indah.


Uang

Uang...uang...uang...
Sebab uang rusuh rumah tangga
Uang...uang...uang...
Listrik mati sebab uang
Mati motor, mobil, pesawat, anggora, persia
Mati sebab uang!
Mati aku sebab uang
Uh...
Mati cinta sebab uang
Eh! Cinta lahir sebab uang?

Baca Juga: Cinta yang Luka


Anggun

Yang diam tetaplah diam, sebagaimana anggunnya diam
Yang bercicau tetaplah beradu dengan suara-suara alam
Menjadi simfoni yang anggun
Sedang yang lainnya, biarkan dia teduh

Sampai rona-rona menjadi cemburu karena anggunnya
Berkah subuh nan anggun, romantis menyentuh tubuh.


Kapitalis Cinta

Doa untukmu, ialah permintaan yang tiada batasnya
Kutawarkan pada tuhanku raga untuk menjagamu
Kumohon!
Kau adalah pangsa pasar dalam menciptakan produk kata
Dan aku hanyalah seorang proletar karena rindu yang kau monopoli
Selamat tidur, kapitalis cintaku.


Rambut Gondrong

Seumpama pelihara kucing di kepala
Saban hari ingin dimanja dan dimain-mainkan
Tapi, sekali waktu dia mengganggu tidurku maka akan kupotong


Tipes

Perihal dingin aku rasai betul
Panas apalagi
Belum lagi langit-langit itu berayun-ayun
Pusing...pusing...
Bosan lidahku dengan ludahku sendiri
Semestaku pun menjadi jingga
Beracun.

Artikel Terkait