FKIP yang merupakan singkatan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Salah satu fakultas yang ada di berbagai universitas di Indonesia.

Dibentuknya fakultas ini bertujuan untuk menyiapkan mahasiswanya terjun di dunia pendidikan.

Entah sebagai guru atau tentor di berbagai lembaga kependidikan lainya. Tak jarang juga yang berhasil menduduki posisi di dinas kependidikan di berbagai daerah.

Tetapi secara umum Fkip selalu dikaitkan dengan lulusanya yang akan berprofesi sebagai guru.

Didalamnya pun diberikan beberapa step dasar kependidikan. Mulai dari pembuatan Rpp dasar pendidikan dan lain sebagainya.

FKIP, Pabrik Pembentukan Embrio Guru

Fakultas yang harusnya mendidik dan membentuk mahasiswanya menjadi calon Guru Kini tak lagi kuat dalam penciptaan daya tarik untuk berprofesi sebagai Guru.

Guru adalah profesi yang sudah familiar di telinga kita maupun di masyarakat umum. 

Bahkan setiap hari Guru menjadi topik pembicaraan yang tak hentinya untuk di bicarakan.

Tetapi hari ini, bukan bertapa mulianya profesi guru. Tetapi sebaliknya betapa menyedihkanya kehidupan mereka.

Finansial yang tak menentu menjadi salah satunya. Nilai insentif yang jauh daru kata cukup untuk sekedar menyambung hidup.

Seakan akan masa depan profesi seorang guru yang horor, suram dan penuh ketidakpastian.

Hal ini lah salah satu alasan mahasiswa yang mulai realistis. Mereka enggan untuk sekedar bercita cita menjadi guru.

Ironis memang bertapa menyedihkanya, mereka yang belajar tentang keguruan tapi enggan menjadi guru.

Seakan mereka kuliah hanya untuk memuaskan hobi mereka. Jika diibaratkan mereka sedang membangun fondasi rumah tapi tak ingin menjadikanya sebuah rumah.

Enggan Menjadi Guru, Salah Siapa?

Kurang lebih 3 tahun saya keluar masuk sebagai seorang mahasiswa FKIP. Hari hari pun saya lalui sebagaimana mestinya.

Keluar masuk kelas, mengikuti zoom mengerjakan tugas para dosen dan sebagainya. Membentuk suatu circle kehidupan yang begitu saja.

Tapi yang saya rasakan berbeda jauh sesuai ekspektasi saya sebelumnya. Bahkan untuk mengambil prodi di fakultas ini pun perlu kematangan berfikir yang luar biasa.

Bahkan jika perlu Fakultas ini dibubarkan saja. Agar tidak banyak korban dari institusi pendidikan yang memproduksi calon calon guru yang gagal.

Padahal profesi guru merupakan ujung tombak pembentukan fondasi kemajuan negara ini.

Tetapi dalam lapangan, hanya sedikit mahasiswa yang berkeinginan menjadi seorang guru. Mengkualitaskan anak bangsa dan mewujudkan mimpi indonesia maju.

Lalu siapakah yang harus bertanggung jawab dalam hal ini?

Sejak awal kita menjadi mahasiswa baru di FKIP, hanya sedikit yang menyinggung tentang profesi seorang guru.

Para dosen dalam selinganya mengajarkan materi selalu menyinggung menariknya menjadi seorang bussines man.

Seorang wirausaha yang kaya bergelimang harta seakan menjadi bahan doktrin bagi kita.

Padahal di luar sana tak semuanya harus berhubungan dengan uang. Masih banyak hal penting yang harus kita ketahui.

Pembentukan mental anak anak indonesia menjadi pemuda yang powerful. Menjadikan pribadi yang bergairah memajukan bangsanya. Suatu hal yang terlihat sederhana tapi besar pengaruhnya.

Dibelenggunya Seorang Guru dengan Realitas dan ironinya

Untuk menjadi guru, kita dituntut tak sekedar mengajar tapi haruslah mampu mendidik.

Mengajarkan ilmu pengetahuan merupakan hal nomor sekian tetapu mengajarkan budi pekerti, kerjasama dan semangat tinggi adalah hal yang utama.

Tapi dalam realitas hari ini guru seakan di belenggu dengan berbagai aturan dan regulasi. Mereka dikurung dalam sangkar sehingga sulit untuk mengembangkan pembelajaranya.

Mereka di tuntut sama oleh kurikulum dan RPP oleh kementrian padahal setiap daerah mempunyai kultur dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Pribadi guru adalah di gugu dan di tiru. Maka dari itu kita sudah di gembleng di kampus untuk tidak hanya memberikan materi pembelajaran.

Tetapi lebih dari itu, seorang gueu haruslah di gugu dan di tiru.

Maka seharusnya ada suatu kepercayaan dalam hal ini. Dengan regulasi tersebut saya malah beranggapan bahwa guru bukanlah sosok yang pantas diberikan kepercayann, walaupun hanya di dalam kelas.

Gelar pahlawan tanpa jas pun masih relevan rasanya pada hari ini. Bagaimana seorang guru erat kaitanya dengan pengabdian.

Mirisnya perhatian pada profesi guru yang rela bergaji kecil demi bisa mendidik para siswanya.

Dengan semangat yang tertatih tatih mereka yakin bahwa anak kecil yang mereka ajar hari ini, akan menjadi generasi emas penuh karya pada bangsanya 

Sebenarnya masih banyak hal yang perlu diperdebatkan, tetapi seolah semuanya tidak penting karena banyaknya kecacatan sehingga tidak bisa berfokus pada hal yang fundamental.

Dan alangkah lebih indahnya pemerintah mulai menyejahterakan elemen elemen kependidikan, menata dan memperbaiki sistem dan tidak lupa untuk memberikan kepercayaan kepada guru.

Hal ini dibarengi dengan peningkatan kualitas mahasiswa keguruan dan para guru pada umunya.

Dan dengan itu kita berharap dunia pendidikan indonesia akan semakin maju. Dan kemajuan bangsa ini akan terlihat semakin nyata.

Dan yang terpenting adalah bahwa kemuliaan dan marwah seorang guru, kembali terangkat. Dan generasi-generasi yang akan datang akan kembali mendambakan untuk menjadi seorang guru.