“Harga kecap kemarin kayaknya enggak segini, Koh.”
“Dari agennya memang naik. Lu enggak percaya? Cek aja toko sebelah.”
“Enggak ah.”
“Kenapa? Lebih mahal?”
“Bukan. Di sebelah enggak bisa ngutang.”

Itu adalah penggalan percakapan antara Koh Afuk dengan salah satu pelanggan yang cukup doyan berutang di tokonya. Cek Toko Sebelah adalah sebuah drama keluarga karya seseorang yang beretnis dan beragama ‘minoritas’ di Indonesia, Ernest Prakasa.

Sebelum membahas lebih mendalam, berikut sinopsis dan beberapa pihak yang terlibat di dalamnya...

Sinopsis:

Erwin (Ernest Prakasa) menikmati hidupnya dengan karir gemilang di usia muda, dan kekasih cantik yang tak kalah sukses, Natalie (Gisella Anastasia). Tapi semua jadi pelik saat Koh Afuk (Chew Kin Wah) yang kesehatannya makin memburuk, ingin mewariskan toko sembakonya kepada Erwin, anak kesayangannya.

Sementara itu, Yohan (Dion Wiyoko) kakak Erwin, naik pitam karena dilangkahi. Sebagai anak sulung yang merasa lebih perhatian pada kedua orang tuanya, Yohan yakin ia dan istrinya, Ayu (Adinia Wirasti), adalah yang paling berhak meneruskan toko tersebut. Sayangnya, Koh Afuk sulit mempercayai Yohan yang selalu memberontak. (Sumber: 21 Cineplex)

Yang terlibat:

Jenis Film : Drama, Comedy
Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Sutradara : Ernest Prakasa
Penulis : Ernest Prakasa
Produksi : Starvision
Pemain: Ernest Prakasa, Dion Wiyoko, Gisella Anastasia, Adinia Wirasti, Chew Kin
Penulis Skenario: Ernest Prakasa
Konsultan Skenario: Jenny Jusuf

Ulasan

“Kalau toko itu dijual, kan, masalah selesai. Kamu enggak akan diribetin lagi, dan kamu dengan Koh Yohan enggak akan sirik-sirikan lagi!”

“Dari sekian banyak film komedi Indonesia, Cek Toko Sebelah masuk dalam sedikit yang meluncurkan rangkaian lelucon dengan frekuensi tinggi dan hampir selalu mengena.”
(Rolling Stone Indonesia, 2016)

Rasanya sulit untuk tidak sepakat dengan hal tersebut. Selepas menonton Cek Toko Sebelah, di grup komunitas, saya mengatakan, “Aku barusan nonton Cek Toko Sebelah. Aku enggak bisa bilang film ini bagus atau jelek. Aku mau kalian merasakan sendiri sensasinya ketika menonton. Karena itu mahal sekali.”

Dari sekian banyak film Indonesia yang pernah saya tonton, Cek Toko Sebelah adalah film yang paling banyak membuat saya tertawa dan menangis.

Film ini cukup padat dengan durasi yang ‘hanya’ 104 menit. Di awal film, cerita bergulir dari satu tokoh ke tokoh lain sebagai latar belakang yang akan kemudian menjadi fondasi pada keseluruhan film. Koh Afuk, pemilik sebuah toko agen sembako yang memiliki dua putra—yang tampan sekali ya Tuhan—yaitu Yohan (Dion Wiyoko) dan Erwin (Ernest Prakasa).

Kedua anak Koh Afuk memiliki latar belakang yang cukup berbeda.

Yohan menjadi laki-laki yang ‘laki banget’ dengan pekerjaan sebagai fotografer dan memiliki seorang istri yang sangat manis, Ayu (Adinia Wirasti). Karena ‘datang’ ke dalam keluarga tersebut lebih dulu, Yohan merasakan sesuatu yang lebih besar daripada Erwin. Kasih sayang, perjuangan, beban, rasa bersalah, dan kehilangan.

Hal tersebut ditunjukkan dengan ia yang cukup rutin mengunjungi makam sang ibu, pun dengan Yohan yang memikirkan ‘bagaimana Papa’ ketika Ayu mendapatkan kesempatan di tempat lain demi mewujudkan mimpinya. Tidak hanya itu, tetapi alasan ia sangat ingin meneruskan toko tersebut juga berhasil membuat saya berderai air mata.

Sementara Erwin tumbuh menjadi eksekutif muda, memiliki pacar yang tak kalah cemerlangnya dalam karier. Dan baru saja mendapatkan posisi yang sangat bergengsi dan akan berkantor di luar negeri.

Konflik mengalir dengan sangat alami. Di mana Erwin menjadi anak kebanggaan bagi Koh Afuk. Putra keduanya yang berhasil menyelesaikan kuliah di luar negeri. Jika dibandingkan dengan Yohan yang meski sudah menikah pun masih saja ‘bergantung’ kepadanya.

“Kamu itu bertanggung jawab atas satu kehidupan saja enggak bisa. Gimana sama kehidupan karyawan lainnya?”

Persoalan lain yang tengah dihadapi oleh Koh Afuk adalah penawaran dari Pembangun untuk membeli tokonya. Meski pada awal cerita hal ini bukanlah masalah yang besar, karena Koh Afuk cukup tegas menolak, tetapi di pertengahan, hal ini seakan menjadi penyelesaian masalah bagi Koh Afuk.

Air mata saya menderas ketika malam itu, Koh Afuk menangis, meraung, meratap, dan seakan memohon kepada mendiang istirinya untuk berada di sana, untuk memberitahunya apa yang sebaiknya ia lakukan, sudah tepatkah atau justru ia tengah menuju sebuah kehancuran.

Secara keseluruhan cerita, segalanya terasa indah.

Sekarang kita beranjak menuju karakter tokoh. Setiap tokoh, saya ulang... setiap tokoh dalam film Cek Toko Sebelah memiliki karakter yang kuat. Tidak ada tokoh yang hanya tempelan. Bahkan anak tukang ketoprak hadir sebagai pelumer suasana saat itu.

Sejujurnya, saya begitu kesal setiap kali ada film-film yang menampilkan keseksian perempuan sebagai sesuatu yang dijual. Dan ketika tokoh asisten Robert datang dengan tampilan begitu, saya sempat, “Ah males deh. Murahan ah. Sebal.”

Dan engingeng. Saya ditampar. Saya salah. Itu saja.

Dalam mengulas film Indonesia—baik lisan maupun tulisan—yang selalu saya soroti adalah pemain-pemain tambahannya. Kali ini, saya jatuh cinta setengah mati. Tidak ada ‘pemain tambahan’. Semua pemain penting, semua tokoh penting. Duh, saya sudah bilang, ya?

Satu saja kritikan saya, aksi Gisella Anastasia terasa terlalu dibuat-buat. Terlalu drama. Jika dibandingkan (dan bahkan saya benci membandingkan, karena dalam perbandingan, kita hanya akan selalu gagal) dengan para pemain ‘tambahan’, Gisella Anastasia bisa diletakkan di bagian belakang. Semoga ia terus belajar, karena saya suka sekali dengan Gempi. #LohIniApa

Karena saya sudah berani mengkritik aksi Gisella tersebut, maka saya harus berani memuji aksi pemain lain, bukan? Chew Kin dan Dion Wiyoko menarik perhatian saya dua kali lebih kuat daripada pemain lain, termasuk si pendapuk kursi sutradara.

Cara bicara Koh Afuk yang agak terbata, sikap Koh Afuk yang agak kikuk, logat Tionghoa-nya yang kental, kebahagiaan yang ia miliki dan ia bagikan, kesedihan yang ia miliki dan ia simpan, kekuatan yang terlihat dan kelemahan yang ia sembunyikan. Chew Kin berhasil membuat saya mengiba dan hati tak keruan.

Sikapnya yang lembut dan hangat kepada istri, kelenturannya saat bergaul bersama teman-temannya, sosok kakak yang ditempa lebih keras oleh kedua orang tua mereka, sosok anak yang melemah di hadapan sang ibu, sosok anak yang mencoba mengalah kepada sang ayah. Keputusasaannya yang hanya mampu ia bagi kepada sang ibu dan sang istri. Dion Wiyoko berhasil mencuri hati saya, eh... maksud saya, aksi Dion Wiyoko berhasil mencuri hati saya.

Keseluruhan aksi pemainnya menyenangkan. Alami, terasa sangat dekat dengan keseharian. Menyenangkan, karena akhirnya saya menemukan film Indonesia yang aksi keseluruhan pemainnya bisa dikatakan padat. Tidak hanya itu, ah saya senang sekali, Ernest mewarnai berbagai detail di film ini (termasuk pada bagian credit title loh!) yang membuat saya berpikir, "Ini dibikinnya pakai hati, nih."

Percakapan yang ringan dan guyonan yang mudah dipahami. Bagi saya, ini sangat mahal. Dan jangan lupakan latar musiknya. Kata-kata dalam musiknya indah, dan melantun pas pada adegan-adegan tertentu.

Drama keluarga selalu berhasil mendapatkan perhatian saya. Dari Cheaper by The Dozen sampai The Hollars. Dan kali ini, film Indonesia, dari seorang beretnis dan beragam ‘minoritas’, Ernest Prakasa. Isu keluarga selalu terasa hangat bagi saya. Cek Toko Sebelah memberikan saya kehangatan, rasa bersalah, keresahan, rasa kehilangan, dan kebahagiaan saat mendapatkan kesempatan lain dalam hidup.

“Percaya deh, hidup bersama orang yang merasa bersalah seumur hidupnya itu enggak enak.”

Dan mengapa saya menyoroti etnis dan agama Ernest sebanyak dua kali? Karena di tengah keberagaman Indonesia yang sedang kritis, saya merasakan hal yang menghangat saat di studio kemarin. Masih banyak orang-orang dari ‘mayoritas’ yang mau datang, membayarkan tiket, duduk, tertawa, menangis, dan berbagi bersama atas sebuah film karya ‘si minoritas’.

Ah, film ini terasa sangat sentimentil bagi saya.

Terima kasih, Kawan-kawan, atas seratus empat menit yang berharga dalam hidup saya. Terima kasih juga karena telah membuat saya kembali percaya. Percaya kepada kredo anak Bangsa, percaya kepada kekuatan seni, dan percaya bahwa Bangsa ini masih memiliki harapan atas keberagaman. Terima kasih, Ernest.

"Tapi tanpa dirimu tak mungkin 'ku terus berlari tanpa kaki." -Berlari Tanpa Kaki