Gramercy of this aroint
Doth she come?
Sirrah crown cries well met
Doth she come?
Ye wast in hurry
Aroint! Thy head were seel

Syair-syair aneh era Elizabethan itu terus mengalir dari mulut-mulut pelanggan kedai. Mereka senyum bahagia, sebagian bergelak tawa riang gembira, tiada sedu sedan.

“Hidup penuh amarah tanpa canda,” seorang lagi datang dengan penat laku ala Kota Kirbeth yang gila kerja.

“Apalah arti tubuh jika jiwa tak terpuaskan,” satu lagi perempuan setengah baya dengan kerut kemurungan di wajah yang meninggalkan gelambir kulit muka yang memilukan.

Tubuh-tubuh yang tak diberi kesempatan untuk memproduksi endorfin alami. Jam biologisnya dipaksa terus untuk memproduksi homon kerja dan yang penuh harap dan cemas, adrenalin!

Warga Kota Kirbeth hanya mengandalkan kedai kecil milik si Lilith. Mereka lebih baik kerja keras daripada memproduksi zat bahagia tersebut.

Dalam sekejap, kedai mungil itu sudah penuh dengan sampah bungkus coklat dan panganan pedas lainnya. Bak tempat ajojing dan nongkrong para pecandu afrodisiak, penggenjot anugerah birahi ala Dewi Afrodit itu.

Ada papan yang bertulis menggantung di pintu kedai, Morphine No - Endorphine Yes

Tentunya, menu-menu kedai yang disajikan bukanlah semacam smoke beef, risoles, caramel coffee, cream cheese burger, atau sejenisnya. Malahan tak ada daftar menu yang biasanya diukir dengan kapur tulis.

Tak ada gelas, tak ada piring, atau peralatan masak lainnya. Hanya kursi-kursi tinggi khas bar dan satu meja besar yang mengisi perabot kedai itu.

Satu lagi, sebuah plang dari baja bergaya gotik berdiri tegak di depan kedai bertulis “Kedai Lilith, Endorfin Eceran”. Plang itu seolah menantang keangkuhan Kota Kirbeth yang sore itu mulai bercahaya terang.

Hampir semua gedung pencakar langitnya terbuat dari logam. Pondasi bangunan bak akar-akar dari baja yang menghunjam dan melilit bebatuan metamorf yang tersisa.

Tanah Kota Kirbeth hampir lenyap oleh sesar-sesar tektonik dan gerogot polusi cecairan kimiawi. Yang tersisa beberapa rangkaian cadas yang meraut sebuah petrologi yang mengerikan.

Untuk membuat pondasi bangunan dan jalanan, mereka harus memanaskan bebatuan sedimen dengan suhu 150 derajat dan tekanan ekstrem 1500 bar. Sebuah upaya mahal membuat pondasi bangunan dan jalan ketika tanah terkikis habis. Lingkungan hancur lebur.

Jalanan yang sempit, rongga-rongga yang tersebar merata, membuat pemandangan Kota Kirbeth bak skala hidup kehidupan semut-semut yang sedang berjalan di atas lubang-lubang sarang tawon!

"Aku minta lagi !" pinta seorang yang tampak kesakitan.

"Aku juga, arghhh!" gigil seorang lagi setengah sekarat.

"Aku mau, Lilith!"

Tiga yang menghiba itu masih saja membuntuti si Lilith yang berjalan sambil menari-nari gemulai.

"Sudah habis!" jawab Lilith.

“Kami bayar dua kali lipat!”

“Tidak!”

“Lima kali lipat!”

“Enam kali lipat!”

“Tidak!”

Penawaran menggiurkan itu membuat Lilith kembali menari gemulai sambil tangannya memegang botol kaca merah yang bersegel rapat. Kacanya berkelip, berpantul cahaya mentari pagi.

Tiga pembeli sekaligus penghiba kecewa, dikiranya setuju, Lilith malah melanjutkan langkahnya. Berjalan riang menuju ke sebuah taman gantung yang berplang “jannatul indurfin” (surga endorfin).

Lilith itu penjual zat yang mahal sekali. Orang-orang Kota Kirbeth sudah kehabisan akal untuk bahagia, tertawa, atau bahkan hanya sesungging senyum saja.

Coklat, panganan pedas sebagai pemicu endorfin tak mampu lagi mengatasi kemurungan warga Kota Kirbeth.

Di kedai Lilith itu mereka berebut endorfin eceran untuk gembira, tertawa, senyum ataupun hanya tersungging. Sungguh, mahal sekali untuk bisa senyum bahagia waktu itu.

Berbungkus-bungkus coklat dan panganan pedas yang mereka bawa, tak mampu lagi memproduksi endorfin tubuh. Mereka tetap tidak bisa tersenyum bahagia.  

Taman gantung “janatul indurfin” (surga endorfin) milik si Lilith, yang sekaligus tempat tinggalnya, adalah satu-satunya tempat yang berhasil membuat endorfin sintesis di Kota Kirbeth.

Senyawa kimia itu bisa membuat seseorang merasa senang dan bahagia. Endorfin bertindak seperti morfin. Bahkan 200 kali lebih besar nikmatnya dari morfin!

Endorfin tersebut diproduksi oleh tubuh ketika kita merasa bahagia termasuk saat tertawa, menolong orang lain, dan lain sebagainya.

Tidak ada keistimewaan pada taman tersebut. Tak lebih hanyalah sebuah taman vertikal tanpa media tanah. Tumbuhan pilihan tergantung dengan akar-akarnya yang hidroponik.

Cuma satu yang istimewa, si Lilith mempunyai aliran air yang bersih dan jernih dari sebuah sumber air artesis yang memancar kencang.

Dengan sumber air itu, Lilith berhidroponik untuk menghemat tanah yang juga sangat langkah di Kota Kirbeth.

Di sebuah ruangan kecil, di antara jajaran tanaman hidroponik itu, endorfin sintesis diproduksi secara rahasia oleh Lilith. Tak seorangpun tahu, apalagi korporat-korporat serakah Kota Kirbeth itu

“Ront! Kau kirim orang kita?”

“Sudah, Gil.”

“Berhasil, Ron?”

“Gagal! Sialan anjing dan kakaknya?”

“Kenapa, Ron?

“Susah ditembus, Gil!

Gillian dan Ront kehabisan akal untuk melakukan pengendusan tentang bagaimana menghasilkan endorfin sintesis itu.

Skema keamanan Jannatul Indurfin itu ketat sekali. Rudith, kakak dari Lilith, cukup lihai membuat demarkasi pertahanan Jannatul Indurfin hingga susah ditembus.

Rudith, sang kakak perempuan Lilith, tidak menggunakan bahan-bahan mesiu atau bubuk peladak lainnya untuk pengamanan Jannatul Indurfin. Rudith hanya menggunakan keunggulan ilmu-ilmu kimia untuk membuat perimeter.

“Kota ini perlu banyak endorfin agar kinerjanya stabil, hampir 60% penduduk kota sudah di ambang gelisah,” sang Wali Kota membuka pembicaraan.

“Dengan cara apa lagi, Pak?” tanya Kepala Polisi.

“Goblok kamu!” tak diduga, sang Wali Kota langsung beranjak dari kursinya, berjalan ke pintu, keluar ruang rapat.

“Sudah, pakai caraku saja,” bisik salah satu anak buah Kepolisian Kota Kirbeth.

Tim Penggandaan Endorfin langsung dibentuk, Kepala Polisi didukung anak buahnya menggodok cara jitu menggandakan endorfin yang susah dicari replikasi produksinya, kecuali si Lilith yang bisa.

“Kita bisa peralat si Ront dan Gillian,” usul seorang dari mereka.

“Apa hebatnya mereka?” tanya Kepala Polisi.

“Tipu dayanya,” jawabnya singkat.

Produksi morfin Ront dan Gillian bangkrut. Kalah bersaing dengan endorfin eceran milik Kedai Lilith.

Sementara itu, di kediaman si Lilith yang teduh dan sejuk; terdengar rintihan yang tak akan di tangkap oleh telinga orang yang berada di luar bilik khusus itu.

Lilith membuat endorfin itu dengan susah payah. Orang mengira itu sintesis. Namun, asli adanya!

Bisa dibayangkan, bagaimana susahnya ekstraksi hormon itu dari langsung dari tubuh. Sesuatu yang sulit dan tak lazim.

Sedang yang lazim semisal feromon, hormon maskulin yang diambil dari keringat untuk campuran parfum.

Tak ada kesulitan untuk mengumpulkan keringat yang tinggal sekah dengan kain terus diambil feromon-nya. Sedang endorfin, tidak keluar bersama cairan ekstraksi apapun dari tubuh.

Itulah yang membuat Lilith merintih, entah apa yang dilakukan untuk mengeluarkan endorfin dari tubuhnya. Belum sempat rampung pekerjaannya, pintu bilik didobrak paksa.

“Kak, Rudith?” Lilith terperangah, kakaknya sudah tak berdaya lemas di tangan Gillian dan Ront.

Sementara beberapa penyusup Jannatul Indurfin, mulai mengobrak-abrik ruangan kecil itu untuk menemukan peralatan dan bahan-bahan pembuatan endorfin milik si Lilith. 

Hanya ada beberapa kitab suci yang terbuka halamannya, tergeletak di atas meja kecil dengan beberapa coretan pensil. 

Mereka saling pandang, tidak ditemukan alat-alat ekstrasi apapun di ruangan itu. Juga tidak ditemukan pula bahan-bahan kimia pembuat endorfin sintesis.

Saat para pendobrak dalam suasana bingung dan keheranan yang makin memuncak, seekor anjing menyerang Gillian dan Ront. Dialah Gorgoth, anjing Herder piaraan Lilith yang lolos dari sergapan.

Lilith memanfaatkan kesempatan itu untuk lolos dengan menyeburkan diri ke kolam. Jalur pelolosan yang memang sudah disiapkan, berupa lubang dengan pintu palka yang terkontrol dari jam tangannya.

“Kalian memang mengecewakan! Tangkap anak kecil saja tidak bisa!” Kepala Polisi Kota itu berang.

“Sudahlah bos, dia masih kecil,” bela seorang anak buahnya yang mulai tergerus iba.

Para pendobrak kecewa, dilepaskan saja si Rudith yang lemas itu. Perimeter pertahanan Jannatul Indurfin bisa dibobol karena kesalahan si Rudith juga.

Gillian dan Ront itu menyuapnya dengan tiga botol pemantik hormon lainnya yang tak kalah mahalnya saat itu, progesteron. Rudith ambil resiko, tak kuat tiap hari mendengar pilu rintihan adiknya di bilik itu, saat memanen endorfin.

Dinikmatinya pemantik hormon progesteron itu dengan caranya sendiri, hingga lalai kebobolan pertahahan jannatul indurfin. Tiga botol kecil pemantik hormon progesteron yang terekstraksi dari kacang-kacangan hutan Amazon yang sudah hampir gundul itu, membuat adiknya, Lilith entah di mana sekarang.

"Kita bawa ke markas saja, Bos!"

"Kau yang gotong!"

Dibawalah tubuh lemas Rudith ke markas Tim Replikasi Endorfin.  Kemungkinan akan dipaksa untuk menjelaskan bagaimana proses pembuatan endorfin tersebut.

Sedang di gorong-gorong saluran drainase Kota Kirbeth, Lilith dan anjingnya berjuang menggapai akar-akar baja dari lilitan pondasi gedung-gedung pencakar langit. 

Akhirnya sebuah ujung baja sebesar jari kelingking  mengait pakaian Lilith. Disambarnya anjing kesayangannya itu. Di kejauhan terdengar kerumunan massa yang menyebut namanya.

"Lilith.....Lilith.....Lilith !!"

"Kami sekarat!!"

"Berikan kami endorfin!"

Wajah-wajah dan tubuh-tubuh warga Kota Kirbeth yang murung penuh dengan nyeri itu berarak-arak mencari Lilith. Kedainya sudah tak kelihatan lagi oleh lautan massa.

"Aku harus ke Gua itu!"

Lilith kembali masuk ke gorong-gorong bersama anjingnya. Mengikuti aliran air yang menuju gua yang dituju.

Dan apa yang terjadi si markas Tim Replikasi Endorfin? Tampak kakak Lilith, si Rudith sudah sadar. 

"Ceritakan kepada kami!" gertak Kepala Polisi Kota Kirbeth.

"Kami butuh endorin lebih banyak, kalau tidak, kota ini akan tumbang!" pintah yang lain.

"Kalian tak akan tega mendengarnya!" jawab Rudith menunduk, kedua pipi halusnya basah oleh air mata. 

Seluruh isi ruangan interogasi saling pandang.

"Kalian pasti akan histeris!" tambah si Rudith. 

Tiba-tiba Rudith turun di lantai dan duduk sambil menunduk penuh. Kaki dan tangannya diborgol. Kepalanya menengada ke langit-langit ruangan, dan membacakan syair-syair aneh.

Aye, thou art nay dispatch
Aye, thou art woe
Thou would'st be die
Hark now hie
Hark now hie

Kepala Polisi Kota Kirberth langsung memakai headset mengulang-ulang rekaman syair itu sambil tangannnya sibuk membuka-buka kamus leksikon William Shakespeare.

Setengah jam kemudian, perintah turun.

"Kalian semua ke Gua Qimrath!"

Saat itu juga mereka dengan kekuatan penuh menuju titik sasaran yang jauh di luar kota, tempat yang juga sedang dituju Lilith dan anjingnya.

Dan, di luar dugaan mereka, Lilith sudah berada di dalam gua Qimrath. Sebenarnya hanya onggokan bangkai kapal induk. Beberapa ruangan terlihat rapi dan bersih. Jajaran buku-buku bersampul kulit tebal, rapi tersusun di sebuah lemari logam. 

"Aku harus segera membuatnya, kasihan warga," gumam Lilith.

Mulai Lilith membaca halaman-halaman berbagai macam kitab suci yang sudah ditandai itu. Pada satu Kitab Suci yang paling akhir itu, banyak sekali coretannya. Lama ia meresapi hingga merintih seperti yang sudah-sudah.

Tangan Lilith berpegangan kuat pada pinggiran meja. Sementara pikiran melayang pada ayat-ayat yang dibaca,

Lo tov heyot ha’adam l’vado, pru uvu, pru uvu......
Kedushah ki tov......
Tikkun olam....
Pru uvu......pru uvu.....
Kavod ha-beriot.....

Tak baik kau sendirian, suburlah dan memancar
Kesucian ini sungguh baik
menjaga keseimbangan alam
suburlah dan memancar, suburlah dan memancar
hormat dan mulia semua manusia

Tanpa disadari Lilith yang sedang nikmat setengah sekarat itu, para pendobrak dari Kepolisian Kota Kirbeth sudah mengepung bangkai kapal itu. 

Dari luar mereka mendengar rintihan Lilith. Dari sebuah jendela kaca yang berbentuk lingkaran itu, mereka mengintip. Beberapa percikan cairan membasahi kaca jendela itu, dan suara gedebum benda keras jatuh. 

"Kalian pergi!!!!!" Lilith mengetahui kehadiran mereka. Belum sampai berhenti jeritan Lilith tersebut, mereka sudah histeris meyaksikan pemandangan dalam ekstrasi endorfin yang mahal itu.

"Sudah saya katakan, kalian pasti histeris," suara lembut itu membisik ke Kepala Polisi Kota Kirbeth yang setengah sekarat histeris. 

Kumpulan suara histeris pasukan pendobrak itu bersatu membentuk raungan yang sangat mengerikan.

"Biar aku saja yang melakukan, jangan kalian," suara itu lamat-lamat menjauh meninggalkan mereka yang masih histeria.

"Kalian hanya ambil bagian isi Kitab Suci yang berisi ayat-ayat amarah Tuhan saja, sedang ayat-ayat yang ini, jarang kau baca, karena kau anggap tak bermoral!" tambah si Lilith yang pasti tak didengar mereka yang sedang histeris. 

Lilith berjalan sambil menari gemulai. Riang menuju kerumunan massa yang siap membeli  ekstraksi mahal itu.