Di penghujung tahun 2022 kita semua mendengar bahwa pemerintah Indonesia saat ini sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri PPKM alias Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Hal itu dikarenakan  terus menurunnya kasus Covid-19. Walaupun belum tertulis di dalam aturan yang resmi, namun hal itu disambut baik oleh masyarakat. 

Pemerintah juga akan melakukan penutupan rumah sakit darurat Covid-19 atau (RSDC) atau kita mengenalnya dengan wisma Atlet Jakarta yang selama ini jadi tempat penangananCovid-19 dan tempat karantina bagi penderita Covid-19. sudah mengeluarkan surat secara resmi per tanggal 31 Desember 2022 bahwa wisma atlet ditutup secara resmi.  

Program vaksinasi merupakan salah satu alasan pemerintah untuk segera mengakhiri PPKM di akhir tahun ini. Kebiasaan masyarakat yang menerapkan budaya hidup sehat juga menjadi alasan bagi pemerintah. Hanya saja kebiasaan hidup sehat ini harus terus dilakukan agar kita kembali lagi ke waktu pandemi menyerang negara kita. Lalu pertanyaannya bagaimana nasib pendidikan kita pasca endemi Covid-19 ini.

Seperti yang kita ketahui selama dua tahun pandemi covid-19 memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi dunia pendidikan di Indonesia. Guru harus dihadapkan dengan perubahan pembelajaran dari tatap muka ke pembelajaran daring. Guru juga dituntut untuk terus bertahan dan terus belajar untuk tetap memberikan pelayanan yang terbaik dimasa pandemi kemarin. 

Berbagai pelatihan wajib diikuti oleh guru untuk menambah pengetahuan dan keterampilan dalam mengajar secara daring. Berbagai ilmu baru dalam mengajar pun lahir ketika pandemi Covid-19 sehingga memudahkan guru untuk memberikan pelayanan terbaik.

Disisi lain peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran daring keterbatasan sarana dan prasarana serta minimnya akses internet masih menjadi alasan utama bagi peserta didik dalam melakukan pembelajaran online. Namun tetap guru harus mencari metode, media yang terbaik untuk mengajar agar peserta didik ini dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Berbagai upaya pemerintah untuk terus bertahan dan mengadakan percepatan untuk memulihkan kondisi pandemi. Perubahan kurikulum juga dilakukan sebagai upaya pemerintah memperbaiki kondisi pendidikan setelah dihantam badai pandemi. Kurikulum merdeka lahir di tengah transisi pendidikan Indonesia yang diharapkan mampu menjadi solusi bagi dunia pendidikan Indonesia saat ini.

Kurikulum yang memberikan kemerdekaan seluas-luasnya setiap sekolah, tetapi pemerintah hanya membuatkan aturan yang harus dilakukan. Jadi inilah yang membuat berbedanya setiap satuan pendidikan dalam menerapkan kurikulum merdeka.

Lantas bagaimana kondisi pendidikan pasca endemi covid-19. Banyak yang menilai dampak positif pandemi covid-19 ini adalah perubahan pola mengajar guru yang sangat luar biasa sehingga ketika Indonesia sudah menjadi endemi pola mengajar guru-guru di Indonesia sudah tidak banyak perubahan artinya guru-guru sudah terbiasa mengajar dengan pendekatan teknologi. 

Hal itu sesuai dengan ciri-ciri Pendidikan Abad 21 merupakan pendidikan yang integrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan terhadap TIK. Kecakapan mengajar tersebut dapat dikembangkan dengan berbagai model pembelajaran dan aktivitas yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan materi pembelajaran yang dilakukan peserta didik.

Disisi lain kebiasaan peserta didik belajar ketika di masa pandemi itu pun akan terbawa pola kebiasaan belajar pada saat Indonesia menjadi endemic covid-19. Hal itu sesuai dengan pembelajaran abad 21 di mana UNESCO telah membuat 4 (empat) pilar pendidikan untuk menyongsong abad 21,yaitu: 

Learning to know (belajar untuk mengetahui) peserta didik sudah terbiasa belajar untuk mencari tahu terkait dengan bagaimana mendapatkan ilmu pengetahuan melalui penggunaan media atau alat yang ada. Semua sangat mudah didapat oleh peserta didik. Media pembelajaran tersebut dapat berupa buku, orang, internet, maupun teknologi yang lainya. Dalam penerapannya diharapkan peserta didik mencari tahu tersebut.

Learning to do (belajar untuk melakukan) peserta didik sudah terbiasa belajar untuk melakukan atau berkarya, hal initidak terlepas dari belajar mengetahui karena perbuatan tidak terlepas dari ilmu pengetahuan. Belajar untuk melakukan atau berkarya merupakan upaya untuk senantiasa melakukan dan berlatih keterampilan untuk keprofesionalan dalam bekerja.

Pandemi mengajarkan kita tentang banyak hal terkait dengan pembelajaran didalam kelas, maka belajar untuk melakukan ini diperlukan latihan keterampilan bagaimana peserta didik bisa menggunakan pengetahuan tentang konsep atau prinsip mata pelajaran tertentu dalam mata pelajaran lainnya atau dalam kehidupannya sehari-hari.

Learning to be (belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu mandiri yang berkepribadian) peserta didik terbiasa belajar untuk menjadi atau berkembang utuh, belajar untuk menjadi atau berkembang secara utuh berkaitan dengan kehidupan yang semakin sulit sehingga dibutuhkan suatu sikap pada diri setiap individu. 

Peserta didik juga belajar menjadi pribadi yang terus berkembang secara optimal yang memiliki kesesuaian serta keseimbangan pada kepribadiannya. Sehingga dalam melakukan pembelajaran, guru juga berkewajiban untuk mengembangkan segala potensi peserta didik yang sesuai dengan bakat dan minatnya agar peserta didik tersebut bisa menentukan pilihannya.

Learning to live together (belajar untuk hidup bersama) peserta didik terbiasa belajar hidup bersama ini sangat penting, karena masyarakat yang beragam, baik dilihat dari latar belakang, suku, ras, agama, etnik, atau pendidikan. Dalam pembelajaran, peserta didik harus memahami adanya  keberagaman tersebut bukan untuk membeda-bedakan, akan tetapi agar mengerti keberagaman tersebut yang nanti nya berguna ketika di dalam masyarakat.

Perubahan pandemi menjadi endemi sebenarnya tidak banyak perubahan bagi guru karena berbagai perubahan semua sudah dilakukan ketika pandemi melanda negara kita. Tinggal kita sebagai guru untuk terus mengasah kembali kemampuan kita dengan berbagai perkembangan teknologi yang ada agar peserta didik dapat merasakan perubahan kemampuan  mengajar kita yang lebih menyenangkan.