Sejak beberapa bulan ke belakang, kegiatan belajar-mengajar tidak lagi terlaksana dengan tatap muka sebagai respons atas ekspansi corona. Siswa SD, SMP, SMA, dan mahasiswa duduk di rumah sembari menunggu arahan atau tugas dari guru/dosen.

Metodenya hampir sama di tiap tingkatan. Guru/dosen menyiapkan bahan atau tugas, lalu sesuai jadwal akan dilakukan pertemuan melalui kelas online. Pada saat itulah guru/dosen memaparkan materi atau memberikan tugas kepada peserta didik.

Termasuk adik saya yang duduk di kelas 5 SD dan sudah tidak lucu lagi karena terbakar matahari.

Puji Tuhan, kelas online kampus saya berjalan cukup baik walau tetap ada dosen yang gaib. Karena itu, saya yang sudah 4 bulan kembali ke kampung halaman dan berkuliah dari rumah serta kembali membebani orang tua tidak terlalu risau akan kegiatan belajar adik saya.

Meskipun agak skeptis terhadap efektivitas belajar dengan medium WhatsApp, seiring waktu saya pikir akan aman-aman saja dengan sang ibu guru memberi tugas dari buku ajar lalu memberitahukannya ke grup WhatsApp orang tua.

Apalagi dalam memberi tugas maupun materi, (harusnya) beliau lebih punya banyak waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Karena saya pikir “ah, tinggal buka dan baca buku, lihat tugas, lalu kirim ke grup WhatsApp”. Simple.

Suatu waktu adik saya memanggil saya dari kamar untuk meminta bantuan dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Saya dengan senang hati mengiyakan dan saya ikut dia ke tikar tempat dia mengerjakan tugas.

Saya buka hand phone ibu saya dan grup WhatsApp orang tua murid untuk mengetahui tugasnya ada di halaman berapa. Saya buka halaman tersebut, dan astaga.

Dalam keterangan tugas tersebut masing-masing siswa diinstruksikan untuk menulis sebuah karangan pendek tentang lingkungan sekitar rumah. “Ceritakanlah bagaimana kamu bermain dengan temanmu, bagaimana lingkungan tempat kalian bermain, dan apa pekerjaan mayoritas orang di kampungmu” begitu kira-kira instruksi dari tugas tersebut. Sejauh ini masih belum ada yang salah ya.

Namun itu bukan tugas yang sesungguhnya. Di bawah instruksi tersebut, tersedia tabel kosong dengan instruksi sendiri. “Dengarkanlah temanmu membacakan ceritanya di depan kelas dan tulislah ide pokok serta kalimat pengembang ke dalam tabel ini, juga diskusikanlah dengan teman sebangkumu”.

Saya pernah mendengar dan membaca soal ‘teman bayangan' yang dialami beberapa anak. Namun seandainya pun adik saya adalah salah satu anak yang mengalami hal tersebut, saya tidak yakin seorang teman bayangan se-interaktif itu untuk menjadi teman diskusi tugas sekolah atau membuat cerita yang sama sekali berbeda dengan karangan adik saya.

Saya tidak akan kaget jika guru SD memberi tugas berdasar apa saja yang tertunjuk telunjuknya di buku. Tetapi untuk tidak membaca dan tidak dapat membedakan mana tugas individu dan mana tugas kelompok tentu itu sudah keanehan yang luar biasa. Apa mungkin guru memilih tugas dari daftar isi? Ya mungkin lah!

Ini adalah masalah endemik pendidikan Indonesia, sulit untuk menunjuk siapa yang salah atau siapa dalangnya karena sudah lama hal ini – profesionalitas guru – menjadi masalah. Sang ibu guru pun rasanya punya masalah yang sama saat masih duduk di bangku setingkat adik saya. Saya yakin beliau tidak punya privilese untuk bersekolah di sekolah internasional bahkan ke luar negeri seperti Nadiem Makarim, bosnya.

Berbicara soal runtutan masalah ini, kita bisa mulai dari proses rekrutmen dan pendidikan guru. Ada nepotisme? Ada. Ada korupsi? Ada. Dan kita hanya akan benar-benar menghargai hal-hal yang kita dapat dengan susah payah, termasuk pekerjaan.

Mungkin ada yang bersih, namun menjadi demikian karena kurangnya pembekalan dan sistem rekrutmen yang sepertinya tidak menyertakan tes konsentrasi dan kesehatan mata. Dan tentu harus ada evaluasi sana-sini.

Saya tidak tahu, entah mungkin ipk minimal untuk CPNS guru harus dinaikkan, atau pembekalan yang harus dievaluasi. Yang penting kita harus bergerak dari sini, atau dengan kata lain harus ada program dengan metode rekrutmen yang kalau memang harus ada korupsi maupun nepotisme, jangan masif-masif amat.

Ah, tapi itu terlalu positif dan sopan. Kalau boleh jujur, ya memang masih banyak guru yang malasnya minta ampun sejak dalam pikiran. Anak didiknya mengumpulkan tugas dan diterimanya lewat hand phone, pulpen di tangan kanan atau kiri, daftar nilai di atas meja dan dalgona di sebelahnya lagi (masih di atas meja), sudah deh tinggal kasih ceklis di nama adik saya dan temannya.

Enak betul. Enak betul menjadikan keadaan jadi tameng dari segala hujatan terhadap kemalasan. Bapak dan ibu guru sekalian kan sudah lama hidup di Indonesia!? Kan Mas Nadiem sudah bilang “…Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama”

Keren. Kelihatan kan Mas Nadiem sekolahnya bagus? Ya iyalah, mana pernah Mas Nadiem menginjak sekolah tak berkeramik mengkilap. Mana pernah Mas Nadiem pakai baju sekolah lusuh sehingga saat proses belajar merasa risih seperti anda!

Berhenti menyalahkan sistem Pak, Bu. Apalagi berharap. Mas Nadiem aja lepas tangan. Revolusi mental pada akhirnya ada di tangan tiap pribadi. Yang menggagas dan menjual idenya juga mungkin sudah menyerah, atau lupa.

Khususnya di situasi seperti sekarang, rasanya memang introspeksi dan berkaca secara mandirilah yang paling masuk akal untuk dilakukan.

Ayo bapak/ibu, semangat. Berat? Ya salah sendiri tidak mengenyam bangku sekolah internasional. Siapa suruh lahir di keluarga miskin?