Empirisme adalah doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin.

Empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Untuk memahami isi doktrin ini perlu dipahami dua ciri pokok dari empirisme, yaitu mengenai teori makna dan teori tentang pengetahuan.

Teori makna pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan teori ini diringkas dalam rumus "Nihil est in intellctu quodnon prius fuerit in sensu" (tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman).

Sebenarnya pernyataan ini merupakan tesis Locke yang terdapat di dalam bukunya, "An Essay Conerning Unduerstanding", yang dikeluarkannya tatkala ia menentang ajaran idea bawaan (Innate Idea) pada orang-orang rasionalis.

Jiwa (Mind) itu, tatkala orang dilahirkan, keadaan kososng, laksana kertas putih atau tabula rasa, yang belum ada tulisan diatasnya, dan setiap Idea yang diperoleh mestilah datang melalui pengalaman; yang dimaksud dengan pengalaman disini ialah pengalam inderawi. Atau pengetahuan itu datang dari observasi yang kita lakukan terhadap jiwa (mind) kita sendiri dengan alat yang oleh Locke disebut Inner sense (penginderaan dalam).

David Hume yang mempertegas teori ini dalam bab pembukaan bukunya Treatise of Human Nature (1793), dengan cara membedakan antara idea dan kesan (impression). Semua idea yang kita miliki, demikian Hume, datang dan kesan-kesan, dan kesan itu mencakup penginderaan, passion, dan emosi. Kemudian hal yang menjadi sanggahan mutlak bagi kaum empirisme yaitu berkaitan denagan Innate Idea (idea bawaan) berlanjut pada John Locke.

Dia menolak metode deduksi yang dilakukan oleh Descartes, namun ia tetap menggunakan metode skeptis yang diajarkan oleh Descartes sebagai salah satu metodenya. Penolakannya terhadap metode deduktif Descartes, membuatnya menggunakan sebuah generalisasi berdasarkan pengalaman (Induksi). Bahkan Locke menolak akal juga (reason). Hanya menerima pemikiran matematis yang pasti dan cara penarikan dengan metode induksi ini.

Buku Locke, Essay Concering Human Understanding (1689), ditulis berdasarkan satu premis, yaitu semua pengetahuan datang dari pengalaman. Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan idea atau konsep tentang sesuatu yang berada di belakang pengalaman, tidak ada Idea yang diturunkan seperti yang diajarkan oleh Plato.

Dengan kata lain Locke dengan tegas menolak adanya Innate Idea, seperti apa yang diajarkan oleh Descartes, Clear and distinc Idea,  Adequate Idea dari Sipnoza, Truth of Reason dari Leibinz, dan kesemuanya di tolak oleh Locke.

Argumen ini secara lurus menolak adanya Innate Idea, sekalipun ada, itu tidak dapat dibuktikan adanya. Lebih jauh ia berkata: Marilah kita andaiakan adaiakan jiwa itu laksana kertas kosong, tidak berisi apa-apa, juga tidak ada Idea di dalamnya. Bagaimana ia berisi sesuatu? Untuk menjawab pertanyaan ini saya hanya mengatakan: dari pengalaman; didalamnya seluruh pengetahuan didapatkan dan dari sana seluruh pengetahuan berasal.

Kemudian pandangan tabula rasa dari John Locke merupakan konsep epistemologi yang terkenal. Dan inilah teori tentanng pengetahuan empirisme. tabula rasa ( blank tablet, kertas catatan kosong) yang digambarkan sebagai suatu keadaan jiwa adalah pandangan epistemologis yang terkenal menurut Locke. Selain ini, hanya tinggal satu pandangan lagi,  yaitu hubungan antar Idea seperti dalam matematika, logika, dan konsep-konsep kebenaran trival seperti “kuda adalah hewan” dan semua idea itu juga datang dari pengalaman.

Sekarang epistemologi dan filsafat pada umumnya menjadi semacam psikologi dan memang kedua bidang ini sulit untuk dibedakan. Di dalam teori ini John Locke menggunakan 3 istilah: sensasi (sensation), yang oleh orang-orang empiris modern sering disebut sebagai data inderawi (sense-data); Idea-Idea (Ideas) bukan idea dalam ajaran Plato, melainkan berupa persepsi atau pemikiran atau pengertian yang tiba-tiba tentang suatu objek; dan sifat (quality) seperti merah ,bulat, berat.

Mengenai Idea sederhana (simple ideas) tentang sensasi, sebagaimana telah diputuskan, apa saja yang ada di dalam  alam ini, yang mempengaruhi penginderaan kita, akan menyebabkan adanya persepsi dalam jiwa  dan menghasilkan pengertian sederhana.

Jadi, idea tentang panas dan dingin, berat dan ringan, hitam dan putih, bergerak dan diam sama jelasnya di dalam jiwa sekalipun tidak begitu jelas bagaimana proses itu bisa terjadi terjadi sejak masuknya objek-objek Idea yang jelas tanpa mempehitungkan cara berprosesnya. Memang di sini ada dua hal yang harus dibedakan, yaitu objek yang dipahami dan kita yang mengetahui objek (putih, hitam, dan sebagainya).

Untuk menggali idea-idea kita itu lebih baik mengenal sifatnya, sebaiknya kita pisahkan dengan jelas istilahnya; pertama idea sebagai pengertian (tentang objek) yang ada dalam jiwa kita, dan kedua idea sebagai perubahan-perubahan matter dalam bodies yang menyebabkan persepsi pada kita. Yang terakhir ini, menurut pikiran saya, bukan gambaran (image) objek itu yang Inhern dalam jiwa saya.

Apapun yang dipahami oleh jiwa dalam dirinya sendiri, atau berupa persepsi tiba-tiba tentang objek, saya sebut idea, dan daya yang menghasilkan idea dalam jiwa saya quality dalam subjek. Oleh karena itu, bola es memiliki power untuk menghasilkan idea dalam jiwa kita yaitu idea tentang putih, bulat, dingin. Daya pada objek itu (di sini bola es) saya sebut qualities. Dan karena qualities itu merupakan sensasi atau persepsi dalam pemahaman kita, maka ia saya sebut idea.