Wiraswasta
1 bulan lalu · 59 view · 5 min baca menit baca · Politik 96583_85494.jpg

Empati Tikus

Tikus memiliki meta kognisi, mampu mengungkapkan perasaan empatik dan altruistik.

Ada yang membuat saya selalu bertanya-tanya tentang suara yang dihasilkan tikus sekarat akibat bidikan saya tepat. Saat meregang nyawa, tikus itu mengeluarkan semacam bunyi yang panjang tanpa henti. Suasana sepi, suara itu seperti peluit anjing yang ditiup panjang.

Setelahnya, wilayah tersebut sepi tikus. Berkali-kali saya mondar-mandir dari lubang satu ke lubang lainnya yang biasa saya sambangi, tak ada penampakan. Keesokan harinya pun demikian, tikus-tikus tak keluar sarang. Di hari keempat, barulah menemukan aktivitas tikus mencari makan lagi.

Mendapat pengalaman itu, saya tertarik mempelajari tentang perilaku tikus. Pastinya secara permukaan untuk sekadar tahu. Sebab saya tidak bercita-cita menjadi Profesor Tikus yang sebenarnya menjanjikan sebagai profesi di masa depan seiring ledakan penduduk. Karena tikus hidup di mana manusia pemberi sumber makanan tinggal. 

Tikus ternyata memiliki meta kognisi yang tak dimiliki oleh binatang lain. Tikus mampu mengungkapkan perasaan empatik (berusaha memahami perasaan yang dirasakan lainnya) dan altruistik (mementingkan kepentingan bersama ketimbang kepentingan sendiri).

Perilaku tikus tersebut mengingatkan akan sekelumit kisah dr. Moestopo mendaulat dirinya sebagai komandan. Ia bertindak demikian bukan karena ingin mencari popularitas atau berambisi menjadi pemimpin, tetapi lebih karena ia ingin menjadi seorang pelopor menggerakkan massa mempertahankan kemerdekaan Indonesia kala itu, khususnya di Surabaya.

Dan tiba-tiba Soekarno menghentikannya dengan alasan khusus yang akan diceritakan di bawah ini. 

Baca Juga: Pembunuh Tikus

***

Pergolakan Surabaya tahun 1945 menjadi mencekam. Pasukan Inggris yang mendaratkan tentara Gurkha berjumlah 4000 orang bertugas mengkapitulasi dan melucuti persenjataan Jepang yang kalah perang di Indonesia. 

Padahal dua puluh ribu lebih pucuk senjata api dan lebih dari seribu senapan mesin Jepang berhasil dirampas oleh para pemuda. Bahkan dua ribu kendaraan, beratus-ratus senjata mortir, artileri, tank, dan senjata anti-tank Jepang berhasil direbut pula. 

Komandan Angkatan Laut Shibata, menurut keterangannya sendiri, tidak memiliki pilihan lain menyerahkan peralatan tempurnya itu. Karena jika tidak menyerahkannya, maka penduduk sipil Jepang dan Belanda di Surabaya akan dihabisi.

Para pemuda mawas diri dengan kehadiran NICA yang sudah bersiap-siap di Australia untuk turut kembali ke Indonesia. Pasukan Inggris tersebut dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Ia harus berhadapan dengan gerombolan pemuda marah akan kedatangannya yang dikira turut di dalamnya NICA Belanda. 

Gerombolan pemuda marah yang melebihi jumlah pasukan Mallaby dipimpin oleh Moestopo, seorang dokter gigi yang mengangkat dirinya sendiri sebagai komandan tentara Republik Indonesia di Surabaya.

Pendaratan Inggris tersebut sukses tanpa perlawanan, oleh karena pihak pemerintah RI di Jakarta menginstruksikan larangan penyerangan.

Namun di tanggal 27 Oktober 1945, pesawat terbang Inggris di atas langit Surabaya menghujani selebaran dan pamflet berisi anjuran menyerahkan senjata. Raungan mesin pesawat Inggris di udara Surabaya tidak kalah sengit dengan ucapan Bung Tomo yang berapi-api membuka kedok Inggris sebagai kaki tangan NICA. Bung Tomo menyerukan untuk melawan Inggris.

Tidak mudah menggambarkan situasinya waktu itu. Namun ketika menyimak perlawanan rakyat Somalia terhadap raid ranger Amerika Serikat di film Black Hawk Down, begitulah kiranya perlawanan yang dapat saya pikirkan tentang masa yang digambarkan Lambert Giebel di bukunya: Sukarno, Biografi 1901-1950

Mallaby dalam tugasnya itu memerintahkan pasukannya bertindak polisionil bukan militer. Kesatuannya dipecah-pecah menjadi peleton. Tentara Inggris -India dibuat tunggang-langgang dengan kondisi perlawanan rakyat yang mencapai jumlah ratusan ribu orang. Sebagiannya bersenjatakan rampasan Jepang, sebagiannya bersenjatakan pisau, tombak, kapak, dan bambu runcing.

Tentara Inggris yang berhasil lolos dari serbuan massa yang mengamuk bertahan dalam lima gedung yang tersebar di pusat kota. Di sana mereka berusaha menangkis serbuan ribuan massa Surabaya. 

Mallaby khawatir pasukannya akan dihabisi, maka ia menelepon Christison di Jakarta untuk membantu meredam pergolakan tersebut. 


Christison meminta Presiden Soekarno menenangkan rakyat Surabaya. Bersama Wakil Presiden M. Hatta dan Amir Sjarifoedin, Presiden Soekarno menyambangi rakyat Surabaya yang tengah bertempur. 

Ketika roda pesawat masih menggelinding di landasan, riuh terdengar hujan peluru yang disasarkan ke pesawat. Setelah pesawat berhenti, Presiden Soekarno keluar lebih dulu sambil melambaikan bendera putih atas desakan Hatta dan Amir. Lantas disambut para penembaknya dengan teriakan-teriakan "merdeka atau mati". 

Pertemuan itu, dari pihak Inggris, diwakili oleh Hawthron. Efek proklamasi kemerdekaan dan semangat merdeka terasa menderu sanubari pemuda Indonesia di Surabaya 1945 kala itu.

Ketika kesepakatan gencatan senjata disepakati dengan Gubernur Jawa Timur Soerio yang republik fanatis, Amir memanggil beberapa pemimpin pemuda untuk menghadiri perundingan keesokan harinya dengan Mallaby dan Hawthron. 

Moestopo yang dijuluki 'komandan kota' pula hadir dengan baju serba hitam hingga wajahnya pun ditutupi syal warna hitam. Hatta meminta keterangan dan pertanggungjawaban tindakan lelaki berselubung hitam tersebut tentang aksinya melawan Inggris di Surabaya. 

Moestopo malah membalikkan kata-kata yang pernah diucapkan Hatta dan berbicara lantang bahwa setiap orang harus lebih suka mati berdiri daripada membiarkan dijajah lagi. Hatta putus asa mendengar jawabannya tersebut, khawatir perundingan gencatan senjata tak akan sukses. 

Secara politik, perundingan merupakan senjata perjuangan. Bagi kaum militan, mengangkat senjata dan bertempurlah merupakan perjuangan. Kemudian Hatta bertanya pada Soekarno apa yang harus dilakukan terhadap Moestopo itu. Karena perjuangan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan dua cara: perundingan dan angkat senjata.

Soekarno memutuskan mengangkat Moestopo menjadi jenderal lantas serta-merta pula menyuruhnya pensiun saat itu juga.

Presiden Soekarno, meski keputusannya terhadap dr. Moestopo unik, tetapi ia melakukannya mirip dengan tindakan Ratu Wilhelmina terhadap Van Mook yang sebenarnya sudah tidak bisa ditoleransi tindakannya atas nama Kerajaan Belanda. Sang Ratu kesal, Van Mook lamban dan terlalu bertele-tele menangani Hindia Belanda.

Namun Sang Ratu tidak gegabah begitu saja menghentikan seseorang yang tengah memegang kendali kekuasaan di tanah Hindia Belanda. Ia masih memberikan kesempatan Van Mook mengendalikan kondisi keamanan di Hindia Belanda meski pada akhirnya Van Mook harus dipecat juga.

***

Manusia dan tikus akan terus berdampingan sampai kapan pun. Di mana ada manusia, di situ ada tikus. Tentang pola emosi tikus, saya dapatkan bahannya dari makalah Profesor Neurolobiologi Peggy Mason PhD. 


Ditemukan pola emosi dari empati, dan memiliki perilaku menolong sangat aktif, ekspresif, dan jauh lebih kompleks dari empati. Sifat tersebut pula notabene dimiliki manusia. 

"Ketika kita bertindak tanpa empati, maka kita bertindak melawan warisan biologis kita," ujar Peggy Mason PhD.

Memang, Pilpres 2019, meski saling hujat, sudah terkesan barbar. Mulai dari hoaks sampai fitnah dilancarkan serangannya. Hingga kita kehilangan simpati dengan teman lama akibat perbedaan pendapat dan pilihan. 

Empati kita diserahkan kepada yang sejalan. Cara elegan yang cerdas seperti yang dilakukan Soekarno demi kepentingan bersama, musnah sudah oleh keputusan yang membabi buta tanpa perhitungan.

Artikel Terkait