Anda sudah mengenal Sabina Spielrein, psikoanalis perempuan pertama yang pemikiran-pemikirannya memengaruhi teori-teori utama dari Carl Jung, Sigmund Freud, Anna Freud, dan Melanie Klein? Jika belum, silakan baca di sini, ya. 

Dari karya-karyanya yang berhasil ditemukan dan diterjemahkan, perempuan yang sekian lama terabaikan ini dinobatkan pula sebagai psikoanalis feminis.

Para psikoanalisis, terutama pada zaman itu, memandang perempuan hanya dari fungsi biologisnya. Pandangan ini tentu saja dipengaruhi oleh pernyataan Freud: anatomi adalah takdir. 

Perempuan pun tidak dianggap sebagai makhluk psikososial. Ia didefinisikan hanya dari tugas-tugas “biologis”, seperti mengandung, melahirkan, dan mengurus anak-anak. Perempuan di atas usia 30 tahun diumpamakan Freud sebagai bunga yang sudah layu.

(Bisa kita bayangkan perempuan di atas usia 30 tahun saat itu sudah mengandung dan melahirkan beberapa anak, kelelahan mengurus anak-anaknya sendiri, sambil mengurus suami dan melakukan tugas-tugas domestik. Kecantikannya memudar, kemampuan reproduktif menurun, sementara ia tidak pernah punya kesempatan untuk mengasah kemampuan intelektualnya, mengembangkan bakat, ataupun melakukan hal-hal yang mereka minati).

Freud mengaku kesulitan mengekplorasi psike perempuan. Menurutnya, psike feminin sangat berbeda dari laki-laki. Ia menamakan psike perempuan sebagai kontinen hitam/gelap, dan menyerahkan kepada para kolega perempuan untuk menelusurinya (Prameshuber, 2009). 

Mengikuti ajaran Freud, para psikoanalis perempuan ini mulai mengkaji psike perempuan. Sayangnya, mereka mengedepankan kepasifan sebagai kondisi utama perempuan dan melihat perempuan lebih rendah dari laki-laki. 

Bahwa perempuan tidak secerdas laki-laki, tidak punya daya imajinasi dan kreativitas seperti laki-laki, tidak punya kemampuan berpikir rasional dan objektif seperti laki-laki.

Di antara psikoanalis perempuan yang bicara mengenai perempuan, yang paling terkenal adalah Hélène Deutsch. Ia mendefinisikan kepasifan dan masokisme sebagai karakteristik utama dari psike feminin (The Psychology of Women, 1943, 1945).

Sabina Spielrein, berbeda dari budaya dominan psikoanalisis pada zamannya, menekankan kekuatan aktif dalam psike perempuan. Tepatnya pada 1913, satu tahun setelah perkawinannya, ia menulis artikel berjudul The mother-in-law

Dalam artikel tersebut, Sabina mengembangkan dua ide yang sangat menarik mengenai psike perempuan. Pertama, psike perempuan, menurutnya, didefinisikan dari hubungan-hubungannya dengan orang lain. Kedua, psike perempuan khas karena memiliki kemampuan berempati.

Perempuan tidak menghayati emosi-emosi dan perasaan-perasaan mereka secara pasif. Sebaliknya, melalui kapasitas empatik, mereka bertindak secara aktif dalam relasi-relasi interpersonal dan sosial. 

Perempuan, dalam pandangan Sabina, mampu memahami dan merasakan pengalaman serta pemikiran orang lain. Perempuan mengelaborasi apa yang dialami orang lain, memaknainya, melakukan re-interpretasi setelah melakukan refleksi berdasarkan pengalaman mereka pribadi. 

Kemampuan untuk berempati, untuk menghayati pengalaman orang lain sebagaimana yang dihayati orang lain, dengan masuk menembus dan berada dalam penghayatan orang lain ini, adalah nilai perempuan yang paling utama menurut Sabina. 

Perempuan mampu mempersepsikan perasaan orang lain dengan mengalaminya atau bahkan mengalami kembali dalam diri mereka sendiri secara psikologis. Dengan cara ini, perempuan mampu menjalin hubungan-hubungan penuh empatis yang adalah landasan dari seluruh relasi manusia. 

Melalui empati, ia ingin menunjukkan bahwa psike perempuan bersifat aktif dan dinamis. Dengan demikian, "psike perempuan sama sekali tidak lebih rendah dibandingkan psike laki-laki," tegasnya membantah Freud dan kolega-koleganya. 

Perempuan tidak memiliki banyak peluang dibandingkan laki-laki untuk bereksperimen dalam dunia nyata untuk mewujudkan keinginan-keinginannya. Tetapi dengan berempati terhadap apa yang sedang dirasakan orang lain, ia “menghidupkan” pengalaman-pengalamannya.

Adalah empati yang membedakan psike perempuan, kapasitas untuk masuk dalam kehidupan internal orang lain, dengan merasakan apa yang dirasakan orang lain, seraya menyadari pada saat yang sama bahwa apa yang sedang ia rasakan adalah perasaan orang lain.

Empati, menurut Sabina, bukanlah bentuk proyeksi sebagaimana yang dikatakan Carl Jung. Jung melihat empati sebagai proyeksi terhadap kontenu subjektif dari psike orang lain.

Tetapi Sabina dengan tegas menyatakan bahwa empati bukanlah menemukan aspek-aspek psikis yang kita punya di dalam diri orang lain. Empati adalah mengenali aspek-aspek psikis orang lain, mengakuinya sebagai sungguh nyata, meski menyadari bahwa aspek-aspek ini bukan miliknya. 

Empati merupakan bentuk pemahaman yang sesungguhnya dari apa yang dirasakan orang lain. Pemahaman semacam ini bukan hal yang mudah dilakukan. "Tetapi yang sulit ini dapat dilakukan perempuan, dan menjadi pembeda psike perempuan dari psike laki-laki, menjadi kekuatan psike perempuan," demikian kesimpulan Sabina Spielrein.

Ia juga meninggikan peran perempuan sebagai ibu dan guru (yang kebanyakan adalah perempuan) dalam kaitannya dengan empati. Menjadi ibu karena dianggap “kodrat” sering tidak “dianggap”. Tetapi Sabina mengatakan bahwa menjadi ibu dan guru bukan tugas mudah sama sekali; keduanya menuntut kapasitas berempati yang tinggi.

Sampai sejauh ini, Sabina Spielrein-lah yang pertama kali berbicara mengenai empati*, menjelaskannya dengan perspektif psikoanalisis, dan mengangkatnya sebagai kekuatan perempuan. 

Catatan: Kata "empati" itu sendiri diperkenalkan pertama kali pada 1798 oleh Novalis, penyair, dan filsuf asal Jerman. Pada 1917, Edith Stein filsuf Jerman mengangkat empati dalam disertasinya berjudul On the problem of empathy

Pemikiran Sabina mengenai empati sepertinya dipengaruhi oleh karya Stein ini. Belakangan, pemikiran Sabina tentang empati dikembangkan oleh Heinz Kohut dalam Self Psychology. Kohut menegaskan bahwa adalah empati, dan bukan interpretasi, yang menjadi alat utama psikoanalisis.

Foto jepretan Luanne, gadis remaja yang ikut senang melihat ibunya gembira berjumpa kembali dengan seorang teman setelah 6 tahun tidak bertemu. Kedua perempuan dalam foto sudah di atas 30 tahun.