Mazhab, I –Penulis Romantik. Angin berhembus semilir, mengasihi serumpun Edeelweis di perbatasan gunung Meratus. Embun jatuh, merembes ke batang nadi, menghidupi huruf-huruf yang nyaris sekarat. Kata adalah penawar segala racun dan teluh, ujar seorang tabib. Kata adalah keajaiban yang bermukim di dalam kepala para penulis. Penulis, menurut salah satu teori filsafat, sampai kapan pun, tak akan pernah mati. Ia dihidupkan kembali oleh kata demi kata yang pernah ia sulam semasa hidupnya.

Aku seorang penulis lelaki, yang sampai saat ini, masih terus berjalan tanpa usai mencari celah cahaya di antara semak-semak kata. Mereka bilang: Ambigu. Di tanganku, melalui coretanku, boleh jadi apa yang nampak sederhana menjadi begitu amat romantis dan berkesan. Aku hidup dalam pemaknaan demi pemaknaan. Aku hidup pada sebuah pencarian tak bernoktah.

Tak jarang orang-orang menganggapku sudah gila. Semisal, manakala aku menanti terbit matahari di atas loteng rumah selepas tunai salat subuh. Menanti, ya, kerjaku  hanya menanti sembari bergumam sendiri. Menatap lurus ke arah timur yang berbetulan dengan gunung yang ditumbuhi pohon-pohon Meranti. Aku menyanyikan lagu-lagu yang sukar dimengerti. Lagu yang tak mengenal ritme. Lagu yang lahir tanpa kaidah nada. Mereka bilang; orang-orang sinis itu, aku ini penulis gila.

“Lihatlah, keganjilan apa lagi yang akan ia perbuat?” Seorang kakek –tetangga sebelah, bertanya sinis kepada kucingnya. Kucing di sampingnya mengeong, tanda meng-iyakan. Padahal, kakek itu tak kalah gilanya.

Di lain waktu, setibanya malam, aku dapat betah berlama-lama berada di atas loteng rumah, mengajak bercakap serdadu bintang. Mereka hidup, bergerak-gerak. Berarak-arak. Mereka menjawab tiap kegelisahan yang kuadukan di hariba langit. Tak seperti kebanyakan manusia yang mendengar keluh kesah bukan karena bersimpati, melainkan hanya ingin tahu belaka. Memberikan nasehat basa-basi. Tanpa –sebenarnya- mencurahkan rasa iba.

Di kamar lantai dua rumahku, serakan kertas-kertas berhamburan, tak terurus, di sana tak ada satu pun tulisanku yang bermaksud mencela, terlebih menghina. Tak sampai hati rasanya bilamana sebab apa yang kutulis, baik cerita maupun puisi-puisi, ada di antara mereka yang justru tersinggung. Aku merasa berdosa. Sedang tugasku, diturunkan ke bumi ini –melalui keramahan Tuhan dalam bunga-bunga takdirnya, ialah untuk membahagiakan setiap orang yang kukenal. Membuat mereka optimis menyublim kalimat berpiranti majas.

Mazhab, II –Penulis Naturalis. Aku adalah penulis yang ditugaskan untuk memaki-maki kesewenangan.

Orang-orang jelata, di negeri dongeng ini, hanya akan melahirkan keturunan yang tak jauh berbeda; miskin, berpenyakitan dan papa. Adakah selama ini hidup memang berpihak pada mereka yang hidup di bantaran kali, di bawah jembatan atau di emperan toko engkoh-engkoh bermata sipit hanya dengan beralaskan kardus saja?

“Hidup ini tak adil!” Teriak mereka. Mengais-ngais tempat sampah. Memenuhi mulut-mulut mereka dengan makanan sisa; nasi yang nyaris basi berlauk tulang ayam.

“Itu emang udah nasibmu, goblok.” Di alam imaji, seorang anggota dewan muda –yang baru terpilih bulan lalu, dengan angkuh menimpali. Mengutuk.

Aku benar-benar sudah muak dengan segala macam bentuk kemunafikan-kemunafikan yang dipertontonkan secara terang-terangan di negeri ini. Sebuah negeri yang tumbuh dari perut-perut buncit para koruptor, mafia dan korporat pelobi proyek.

Senyum para tikus-tikus yang menggerogoti lumbung-lumbung hasil jerih keringat rakyat jelata, seolah tanpa dosa. Kemelaratan-kemelaratan yang ditertawai oleh kaum kapitalis setiap waktu. Acara televisi yang menggiring para bocah berlaku tak senonoh. Bahkan pemimpin kami di negeri ini, ya, “berlenggak-lenggok” tak ubahnya seperti seorang model, pandai bergaya di depan kamera-kamera penjilat.

Telah sampai kiranya kita hidup di suatu zaman di mana urat malu kita telah putus.

Suatu kali, aku pernah menulis essai di salah satu media nasional perihal  kekecewaanku kepada mereka di sana, ya, mereka yang meringkuk dengan sebegitu khidmat di gedung serupa kura-kura itu.

Tetapi, lama kelamaan media itu tak kunjung memuat tulisanku. Apa tulisanku buruk? Ah, tidak, aku sudah beratus-ratus kali menulis untuk media cetak dan dimuat. Entah, kukirim lagi berkali-kali. Tak ada kabar. Alih-alih dimuat, balasan e-mail yang kuterima justru bernada mencaci, “kami hanya menerima tulisan yang mencerdaskan,” begitu isi e-mail balasan dari redaksi. Belakangan baru kuketahui, ternyata bukan karena kwalitas tulisanku yang buruk, melainkan –berdasarkan artikel yang kubaca beberapa waktu lalu, media tersebut sudah menjadi “anjing piaraan” rezim kemunafikan.

Maaf jika ucapanku cenderung kasar. Sekali lagi, maaf. Bukan berati aku tak mempertimbangkan apa yang akan melompat dari mulutku, akan tetapi, aku kepalang benci, aku hampir tak memiliki bahasa kias yang lebih halus lagi untuk menggambarkan betapa buruknya keadaan kita dewasa ini. Apa kalian tak merasakan kebencian yang sama denganku? Dimana kepekaan kalian?

Mazhab, III –Penulis Surealis. Sore baru berupa kecambah. Ranum. Semburat merah mega menjilati senja yang luruh dalam sekotak mainan. Aku penulis bertinta nabi yang menjelma seekor belalang malang dengan kaki yang timpang. Aku berlompatan dari satu batang padi ke batang lain. Mencari hidup yang sebenar-benar hidup. Dan aku baru mengerti, bahwa menafisiri riak sungai, cemooh api, amuk pedati, silang-ricuh cemeti, kekesalan peri atau pun gemerisik huruf Ha’ pada aksara hija’i yang tengkar, bukan perkara remeh temeh.

Di tempat yang berbeda, di kolam waktu, seekor katak penuh luka mengeluhkan perihal cintanya yang tertunda, terjarak kasta garong-persia –meski ia paham, bahwa jenisnya tak serupa binar mata kucing. Katak pejantan menengadah pada hujan, ada hal penting yang ingin dibicarakan: “Krong, krong, krooong,” ratapnya panjang, barangkali ratap itu memiliki arti kurang lebih, “apa menanggung letih rindu sepayah ini?” Hujan hanya membalas hening, ia justru mengolok dengan rintik-rimanya pada si katak buruk rupa.

Maka, hikayat katak pejantan tak kalah mirisnya dengan cerita pohon cuaca.

Pohon cuaca melahirkan musim-musim yang kerap seteru. Menjanjikan keserupaan-keserupaan bersifat semu. Pohon cuaca adalah mula-mula yang paling dipercaya di rimba kahyangan. Namun semenjak kebohongan-kebohongan yang ia ciptakan sendiri itu, akar-akar teriknya menjadi busuk. Dedaun sukma meranggas. Batang-batang nestapa berbiak.

Pohon cuaca suka bersikap aneh, terlebih setelah kepergian lelakinya –prajurit api dari kerajaan palinggam yang memutuskan untuk pergi merantau ke tanah seberang. Tanah antah berantah. Tanah yang konon menyeruakkan aroma rempah.

“Apa kau akan masih tetap menyulam puisi-puisi?” Pertanyaan yang hampir menumpahkan airmata; rintik embun yang hampir ruah.

“Tentu, kepergianku pun bermakna puisi bagi hari lahirmu.” Prajurit api coba menguatkan akar-rantingnya yang hampir goyah.

“Jangan lekas pergi. Bolehlah kiranya malam ini kita bersantap di bawah hujan jemari.” Pohon cuaca mengulurkan tangan, berharap, inilah akhir yang manis sebelum berpisah di ambang batas dua samudera.

Keduanya berjalan, begandeng sepi. Menyusuri jejak-jeka kabut dalam gulita. Menjadikan caping kekunang sebagai arah penunjuk jalan. Mesra. Sebelum mereka diterkam pelatuk adipati naga, serta kemudian lebur di sela sengguk tengah malam yang sunyi. Hening dalam bau anyir darah. Semua sepi, sediakala.

Mazhab, IV –Penulis didaktis. Kemampuan menulis adalah anugerah. Pergunakan sebaik-baiknya,” sang kakek berpetuah. Sedang Nanik –cucu perempuannya mendengarkan, saksama.

“Kalau aku menulis demi popularitas bagaimana, Kek?” Nanik mendekatkan posisi duduknya di dekat lutut kakek, memijiti betisnya.

“Ya itu hakmu, tak masalah,” jawab kakek.

“Tapi..” lanjutnya menggantung, “setiap apa yang diniatkan bukan karena kebaikan, tidak akan menghasilkan suatu yang baik.”

“Maksud kakek?” Nanik tak paham.

“Ya, kau akan hilang tergerus bersama tulisan-tulisanmu sendiri,” tukas kakek, menyeruput kopinya. “Niatkan tulisanmu untuk kebermanfaatan,” sambungnya lagi.

Nanik mengangguk pelan. Hening. Ia mulai masygul dengan arah pikirannya sendiri. Memang, sudah sering ia memenangi perlombaan. Mulai dari tingkat antar kampus hingga kancah nasional. Ia kerap meraih juara unggulan. Namun kesemuanya itu, dengan tujuan tak lain agar ia menjadi terkenal dan diperhitungkan. Bahkan ia, dengan bangganya menulis di bio-profile akun sosial media miliknya dengan embel-embel profesi: Penulis. Betapa baginya, profesi penulis begitu sangat hebat di mata khalayak.

“Menulis adalah pekerjaan yang dapat membuatmu terpandang. Namun menulis pula dapat membuatmu amat rendah di mata manusia,” di lain waktu, kakek bernasehat demikian. Entah, bagi Nanik, kakek selalu dapat menebak apa yang menjadi cela dalam dirinya. Dan suara itu kerap datag berkali-kali dalam benak, menghantuinya manakala ia bergumul dengan tuts-tuts keyboard. Menyelesaikan sebuah cerita pendek.

Hingga suatu malam, ia masih bergelut dengan laptopnya, jam menunjukan pukul dua dinihari, ia berhenti. Terngiang teror sang kakek, “menulislah untuk kebermanfaatan, bukan ketenaran belaka.” Suara itu berdengung-dengung di kepala Nanik.

“Masa bodoh!” Umpatnya. Detik jam seolah terhenti sejenak.

Sejurus kemudian ia mengambil spidol merah dan secarik kertas, menuliskan sesuatu dengan jejeran huruf kapital: MULAI SAAT INI AKU BERHENTI MENULIS.

Ciputat, Oktober 2015