Akhir-akhir ini ucapan turut berduka cita semakin sering kita ucapkan. Kabar kematian karena Covid 19 semakin biasa terdengar. Whatsapp, facebook, instagram tiba-tiba menjelma menjadi media yang mengabarkan berita duka. Dari tetangga, teman sekolah, teman kerja hingga orang ternama, mengalir berbagai berita sedih akibat kematian orang terkasih.

Saat ini, para pengguna ponsel pintar dapat menikmati berbagai informasi covid-19 melalui media sosial atau medsos. Baik yang sifatnya positif maupun negatif, atau bahkan hoaks. Berita naiknya kasus covid-19, teman atau saudara yang meninggal, kondisi PPKM dan masa depan yang tidak pasti menambah rasa cemas dan takut.

Rasa cemas dan takut adalah respons normal terhadap hal yang membahayakan atau sesuatu yang tidak pasti. Unna McCann mengatakan bahwa kecemasan sebenarnya adalah reaksi yang normal dan sehat terhadap hal yang berbahaya. Di masa pandemi, tertular virus dan pandemi yang tak kunjung usai dapat memicu kecemasan dan rasa takut.

Terkait pandemi virus covid-19, muncullah istilah coronaphobia. Lily Brown berkata “jika anda mengalami kesulitan memenuhi tugas dan tanggung jawab karena takut tertular atau orang yang anda cintai akan terpapar covid-19, itu mungkin indikasi anda mengalami coronaphobia.” Takut jika diri sendiri atau orang terkasih terpapar virus corona secara wajar masih normal. Tetapi jika ketakutan berlebihan berarti kita menderita coronaphobia.

Lily Brown juga mengatakan bahwa salah satu penyebab kecemasan meningkat pada masa pandemi adalah terlalu banyak waktu di media sosial dan mengonsumsi berita dari media. Yang tentu saja itu berhubungan dengan berita buruk terkait covid-19.

Cara menggunakan media sosial berpengaruh pada tingkat kecemasan seseorang. Berapa waktu yang digunakan, bagaimana memilih dan memilah berita, melakukan hal positif di media sosial, dan melihat segala hal secara positif, dapat menolong seseorang mereduksi rasa cemas dan takut. Yuk kita bahas keempat hal tersebut.

Kurangi Durasi Waktu Menggunakan Media Sosial

Dalam Survei oleh Global Index 2016 menunjukkan rata-rata orang menghabiskan waktu 2 jam setiap hari untuk menggunakan media sosial. Kemudian di tahun 2021, berdasarkan laporan Hootsuite dan media asal Inggris “We Are Social” yang berjudul “Digital 2021: The Lastest Insight Into The State of Digital” disebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 14 menit setiap hari untuk mengakses media sosial.

Sebenarnya, berapa jam anda dalam sehari menggunakan media sosial? Jawabannya dapat dilihat pada menu pengaturan HP anda. Di situ terlihat jelas dan rinci berapa waktu yang anda gunakan di berbagai aplikasi, termasuk media sosial.

Menggunakan media sosial terlalu banyak dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental, terkhusus kecemasan seseorang. Kecemasan dapat dikurangi dengan semakin sedikit menggunakan media sosial. Yang penting adalah, jangan terlalu banyak apalagi tidak terkontrol.

Kurangi Konsumsi Berita Buruk atau Negatif

Di media sosial terdapat berbagai macam berita, informasi dan hiburan. Berapa banyak dan apa saja yang hendak dibaca atau ditonton, tergantung dari tiap-tiap orang. Untuk memiliki sikap positif, dan mereduksi rasa takut dan cemas, konten-konten buruk atau negatif harus dikurangi.

Sebenarnya, dengan langkah pertama di atas, secara otomatis kita sudah mengurangi banyaknya berita negatif yang mungkin kita konsumsi. Kita tidak menolak berita tentang kematian karena covid-19, sulitnya mencari rumah sakit, langkanya oksigen, maraknya protes karena PPKM, dan seterusnya. Tetapi jangan mengonsumsi hal-hal tersebut secara berlebihan. Yang hanya akan meningkatkan ketakutan dan kecemasan.

Cara lain mengurangi konsumsi berita negatif adalah dengan memperbanyak konsumsi berita positif. Kabar kesembuhan dari pasien covid-19, turunnya jumlah orang yang terpapar, meningkatnya jumlah masyarakat divaksinasi dan sebagainya. Semakin banyak berita atau informasi positif yang kita terima akan memengaruhi pikiran positif kita. Selain itu,  jangan lupa melihat tontonan yang dapat membuat anda tertawa.

Tingkatkan Melakukan Hal-hal yang Positif

Selain sebagai konsumen, di media sosial kita dapat berperan sebagai produsen. Kita dapat memproduksi berbagai konten baik lisan, gambar, ataupun video yang positif. Ceritakan kisah teman atau saudara anda yang baru saja selesai isoman dan sembuh. Atau membuat video tiktok berdurasi kurang dari satu menit tentang kegiatan positif selama PPKM berlangsung, dan sebagainya.

Membuat konten positif dan membagikannya akan menumbuhkan sikap positif pada diri sendiri dan orang lain. Di masa yang tidak menentu ini, sikap positif harus banyak dikonsumsi dan dibagikan. Sikap positif yang semakin meningkat, secara otomatis akan mengurangi sikap negatif. Hal positif apa yang anda bisa bagikan hari ini?

Melihat Hal-Hal Positif di Masa Pandemi

Kita tidak bisa menolak atau menghindari berita buruk sama sekali. Mau tidak mau, dengan porsi yang cukup, kita masih membutuhkan berita-berita tersebut. Kita perlu mengetahui jumlah kasus covid-19 beberapa hari terakhir, status PPKM dan kasus kematian di daerah kita. Hal itu penting untuk mengetahui kondisi dan situasi daerah di mana kita tinggal.

Namun, ada banyak hal-hal positif di tengah pandemi. Sebenarnya, aturan untuk tetap tinggal di rumah  memiliki beberapa hal positif. Seperti, keluarga lebih banyak menghabiskan waktu bersama, atau lebih rajin beribadah (di rumah) bersama keluarga. Selain itu, pandemi ini telah menguatkan sikap solidaritas anak bangsa. Dari mereka yang berbagi nasi bungkus hingga yang berdonasi ratusan juta rupiah untuk masyarakat yang terdampak pandemi corona.

Di dunia pendidikan, walaupun belajar daring menemui banyak masalah, tetapi guru, murid dan wali murid semakin akrab dengan pembelajaran berbasis internet atau online. Hal ini tentu akan lebih mempersiapkan masyarakat kita untuk menghadapi perubahan-perubahan di masa yang akan datang.

Daripada sibuk melihat sisi negatif, lebih baik melihat sisi positif dari peristiwa-peristiwa positif di masa pandemi. Hal tersebut akan membuat harapan berhasil dalam mengatasi pandemi akan meningkat.

Di masa pandemi yang tidak menentu, membuat banyak orang stres, cemas dan takut. Hal-hal tersebut sangat merugikan kesehatan fisik maupun mental. Oleh sebab itu, perlu usaha menjaga diri tetap ‘positif’ dan memperkecil pengaruh negatif media sosial.

Ada empat hal yang menjadikan kita tetap berpikiran positif di masa sulit saat ini. Yaitu mengurangi mengakses media sosial, mengurangi konsumsi berita negatif dan perbanyak berita positif, produksi dan sebarkan konten positif lewat media sosial, dan melihat berbagai hal dari sisi positifnya.

Dengan melakukan keempat hal di atas, kita dapat lebih positif dalam berpikir dan bertindak. Saat ini, be positive one itu harus, bukan pilihan. Tetapi jangan lupa berbagi energi positif kamu ke orang lain, yaitu melalui media sosial. Kita tidak anti medsos tapi bijak menggunakan medsos.