Santri juga memiliki rasa untuk tertarik kepada perempuan. Dan yang paling penting untuk diketahui, saya sebagai santri juga makan nasi seperti manusia pada umumnya. Berikut ini adalah empat kesulitan yang kerap dijumpai oleh santri-santri untuk memiliki pacar. 

Pertama, tidak kompeten untuk memulai PDKT.

Baik saya maupun santri lainnya biasanya bingung untuk memulai. Abisnya mau bagaimana lagi, di pondok pesantren tidak diajari bagaimana menaklukkan hati seorang perempuan. Jadi hal itu sangat terasa buat santri, khususnya saya sendiri. Jujur saat ini saya sedang menyukai seseorang, namun ya sebatas menyukai dalam diam.

Perempuan itu bekerja sebagai kasir di minimarket, sebut saja namanya Ayu. Setiap ketemu orangnya, saya cuma melihati ia melakukan aktivitasnya. Itu pun sambil malu-malu, tidak berani berlama-lama. Iya, curi-curi pandang gitu di balik rak sabun cuci muka. Bahkan saya sampai hafal itu segala merek sabun cuci muka. Mulai dari yang murah sampai yang paling mahal. Ini malah ngomongin sabun?

Bukankah yang saya lakukan ini aneh sebagai laki-laki? Bisa dibilang terlalu pengecut, kan? Seandainya saya tidak melakukan apa pun, apakah Ayu akan mengerti kalau saya menyukainya? Diucapkan secara langsung malah tambah aneh lagi, kan? Masa iya saya bilang suka di depan meja kasir saat dia sedang bekerja? Suka apanya coba?

Tidak ada cara lain selain berusaha selalu menampakkan diri di minimarket tersebut, agar saya bisa sering ada di kehidupannyalah. Setidaknya dengan begitu ia menjadi tidak asing dengan wajah saya. Saya pun bisa mengetahui perilaku dan kesenangannya apa. 

Sebenarnya bisa saja kan saya ajak untuk makan bareng atau apa gitu, agar setidaknya lebih dekat lagi. Namun balik lagi, untuk menunjukkan hal yang spesial seperti itu saya malu banget. Terlebih kenal namanya juga baru dari nametag-nya doang?

Bukan malu sih, tapi lebih ke arah minder. Kok engga tahu diri banget sih, baru kenal langsung ngajak jalan? Kalau malu kan ada hubungannya dengan iman, kalau ini tuh ke arah tidak berani. Oh kenapa memikul cinta seberat ini, ya?

Saya berharap terjadi hal yang tak terduga seperti di novel-novel cinta atau drama begitu, namun sayangnya saya hanya mendapatkan ucapan selamat pagi dan selamat malam. Itu pun membuat saya lebih bergairah, bisa dikatakan membuat hidup saya lebih hidup.

Sampai saat ini saya berpikir menjadi santri itu bakal susah mendapatkan jodoh, terlebih memiliki rasa malu yang berlebihan seperti ini. Bahkan ada beberapa alasan lain, yang meyakinkan saya bahwa santri terancam jomblo selamanya.

Saya akan sedikit flashback ke beberapa tahun lalu, ketika saya masih mondok di pesantren dekat kampung. Ini akan memperkuat dugaan saya. Berikut ini kesulitan santri yang lainnya dalam mencari pacar.

Kedua, terlalu pintar membuat perempuan nyaman, maksudnya nyaman menjadi teman.

Jika untuk menunjukkan perilaku yang spesial saya tidak berani, kali ini saya memiliki teman perempuan yang sering bertemu. Sebut saja namanya Bunga. Bagaimana tidak sering ketemu, wong rumah saya dengan dia berdekatan, paling selisih tiga rumah. 

Intinya, setiap saya pulang dari pondok, saya suka bermain di rumahnya. Terlebih lagi Bunga adalah teman SD saya yang paling cuantik. Ya ada sajalah alasan untuk sekadar melihat paras anggunnya. Misal sambil menyirami tanaman di halaman rumah.

Atas dasar dekat seperti itu, akhirnya saya mencoba menyampaikan maksud hati saya untuk memiliki hubungan yang lebih dengannya. Ya sebatas mengonfirmasi bahwa saya tertarik dengannya, dan apakah dia juga tertarik dengan saya. Saya pikir saya akan berhasil loh, toh kami sudah dekat secara geografis dan historis. Sayangnya dia sekadar tertarik menjadi teman saya, tidak lebih. Masyaallah!

Apakah gara-gara saya kurang tampan? Atau apa? Atau apa? Saya menerka-nerka sendiri, kiranya sebenarnya apa yang membuat saya hanya layak menjadi teman saja. 

Saya pernah membaca tulisan seseorang, katanya seorang perempuan dalam menyembunyikan perasaannya itu bisa diibaratkan seperti dalamnya lautan yang biru. Hal itu yang membuat saya tidak cukup puas dengan jawaban Bunga. Terlebih lagi, Emak saya bilang kalau saya ini bagus rupa dan perilakunya.

Terlepas dari tampan atau tidaknya saya, sebaiknya saya tuliskan juga pengalaman saya yang lain. Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya saya tertarik kepada perempuan. Dan bisa dijadikan bukti bahwa tampang saya ini tidak buruk-buruk amat.

Ketiga, santri dinilai terlalu baik untuk berpacaran.

Dulu ternyata saya ini pernah dikagumi oleh seorang perempuan yang kebetulan menjadi adik angkatan di pondok. Ya meskipun jarang ketemu, tapi tetap saja kan bisa saling melihat. Wong pintu gerbang pondoknya satu. Awal ceritanya begini.

Ketika hendak masuk pondok, setelah liburan panjang, saya melihat seorang perempuan sedang kesusahan dengan barang bawaannya. Kebetulan saya hanya membawa tas ransel, sementara perempuan itu membawa dua kardus besar dan tas ransel di pundaknya.

Sebagai manusia nih, bukan orang yang modus, saya pun berniat membantunya untuk membawakan kardus tersebut. Meskipun sempat ditolak, namun ia tidak bisa mengelak karena pada dasarnya membutuhkan pertolongan. Akhirnya saya membawakan dua kardus tersebut sampai pada pintu asrama santri perempuan. 

Saya pikir akan selesai di situ, namun ternyata sejak kejadian itu saya sering melihatnya di sekitaran pintu gerbang pondok setiap pekan, bertepatan dengan agenda pulang kampung saya.

Siapa yang menyangka, saya cukup populer di pondok. Mungkin karena saya terlibat organisasi pers di sana? Atau memang ada orang yang membocorkan kebiasaan saya. Intinya, perempuan itu bisa tahu kalau setiap pekan saya pulang karena rumah saya cukup dekat dari pondok. Kok saya mengetahuinya? Iya kan saya sempat bertanya kepadanya.

Sebut saja namanya Intan. Karena sering bertemu, sering menyapa, dan sering senyum juga kali, akhirnya Intan seperti bukan orang asing bagi saya. Kami juga sering jalan bareng, dalam artian jalan bareng dari pondok menuju jalan raya, yang kebetulan searah.

Bahkan saking akrabnya, saya menganggap dia adik saya sendiri, tapi bukan “adik-kakakan” loh ya. Ya sebatas membelikan jajanan untuk adiknya. Di sepanjang jalan pondok itu kan ada banyak penjual cilok, es buah, dan macem-macem lah. Biasanya saya sengaja pesen, agar bisa lebih lama berbicara dengan Intan.

Bisa dibilang kami mengenal cukup jauh. Sampai tahu rumahnya di mana, hobinya apa, minatnya apa, sekarang di kelas apa, dan banyak hal-hal yang tidak penting lainnya yang menjadi bahan perbincangan kami berdua.

Dan kalian tahu apa yang terjadi begitu saya menyampaikan maksud hati saya kepada Intan? Ia mengatakan, saya terlalu baik untuk dia. Terus ia melangkah pergi meninggalkan saya. Apakah saya salah menjadi orang baik? Atau memang seorang santri tidak sepatutnya berpacaran? Atau sebenarnya, ia mau menerima saya hanya saja sengaja pergi untuk menguji seberapa seriusnya saya? Silakan kalian tebak isi hatinya Intan!

Padahal saya yakin Intan tertarik kepada saya. Atau hanya perasaan saya saja? Huhu Nahas sekali nasib saya, ya? Ditinggal pergi ketika rasa sayang itu mulai ada. Jika mengingat hal itu, rasanya saya ingin tertawa. Ya lucu saja. Meski tidak berpacaran, setidaknya kan saya pernah mencintai seseorang.

***

Sementara saat ini, kesempatan saya untuk bisa jalan bareng dengan Ayu tuh tidak ada. Iya Ayu, si kasir minimarket yang sudah saya jelaskan di awal. Masa iya saya perlu mendaftar kerja ke minimarket tersebut agar bisa jalan bareng pulangnya?

Begitulah pengalaman sulitnya saya mencoba menemukan pacar sebagai santri. Engga bakal nemu kali, siapa juga yang mau membuang pacarnya? Meskipun begitu saya merasa dilindungi Allah loh~. Terlindung dari kegiatan berpacaran yang terkutuk! Bahaha. Bilang aja engga laku!

Keempat, santri terkendala oleh ayat-ayat suci Alquran.

Terlepas dari haram atau halalnya pacaran, memadu kasih adalah fitrahnya manusia. Selama bisa menjauhi zina, menjaga untuk tidak berduaan, tidak bersentuhan, dan tidak memandang dengan nafsu, sepertinya tidak ada larangan untuk saling menyukai. Oh sulit sekali, ya ternyata.

Selebihnya, cinta itu indah, loh~.