Sebelum kita melangkah lebih jauh, sebaiknya kita menerjemahkan terlebih dahulu apa itu penalaran?  Penalaran merupakan proses atau aktivitas manusia yang berkaitan dengan penggunaan akal budi yang disebut dengan berpikir. Secara sederhana demikian. Namun menggunakan akal budi tersebut bukanlah sebuah perkara yang mudah. Ada aturan, ada hukum yang harus diketahui dan dipelajari terlebih dahulu agar nantinya tidak mengalami kesesatan.

Semua manusia pasti pernah melakukan aktivitas berpikir. Dengan berpikir kita mampu untuk menulis, mencerna pernyataan orang lain, berkomunikasi, dan menarik suatu kesimpulan terhadap sesuatu. Tetapi berpikir yang terlihat mudah bukanlah perkara mudah yang harus diabaikan begitu saja, apalagi jika dituntut untuk berpikir lurus dan cermat tentu agak sedikit rumit.

Banyak di antara kita yang sudah merasa benar dalam berpikir, tapi jika diuraikan secara sistematis terdapat beberapa kekeliruan atau kejanggalan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena banyak di antara kita yang melakukan aktivitas berpikir terjebak dalam berbagai hal seperti opini publik, prasangka, emosi, kebiasaan, atau terjebak dengan perasaan alias baper.

Berpikir lurus dan cermat merupkan bagian dari skill seseorang, artinya tidak semua orang memiliki ini. Kalau berbicara tentang skill atau keterampilan tentu berkaitan erat dengan proses belajar dan latihan. Semakin banyak belajar dan latihan tentu akan meningkatkan keterampilan kita dalam menggunakan akal budi (berpikir).

Secara sederhana saya ingin menarik satu benang merah antara berpikir, kesesatan dalam berpikir, dengan realitas dan konflik sosial yang terjadi di tengah masyarakat kita. Realitas sosial adalah bahwa kita hidup dalam sistem demokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Di sisi lain lain demokrasi yang kita junjung tinggi juga melahirkan berbagai konflik sosial di tengah masyarakat kita.

Contoh kasus yang paling konkret adalah kita disuguhkan dengan berbagai gejolak dan gelombang protes terhadap Gubernur nonaktif DKI Jakarta yang dilakukan oleh sebagian ormas Islam karena diduga telah melakukan penistaan agama.

Permasalahan yang muncul tidak hanya pada sekelompok elite saja tapi juga menular sampai ke akar rumput (grass root). Bukan pertikaian antara sang gubernur dengan ormas Islam saja, tapi melibatkan komponen masyarakat yang lainnya.

Lalu apa kaitannya dengan kesesatan berpikir? Kalau kita mencermati kasus ini dengan seksama kita pasti menemukan konflik horizontal yang terjadi di tengah masyarakat. Kita akan  menemukan kelompok yang pro dan kontra tehadap sang gubernur terkait dengan sikap dan pernyataannya yang diduga menistakan suatu agama.

Kalau kita menelisik lebih jauh dan melihat berbagai fenomena sosial yang muncul kita pasti bisa menemukan sebagian masyarakat kita yang sedang terjebak dalam kesesatan berpikir.

Pertama adalah masyarakat kita yang berpikir secara abstrak dan cenderung membuat suatu kesimpulan yang tidak memiliki relevansi dengan premis yang sebenarnya. Kalau kita mencermati apa yang dialami oleh Buya Syafi'i Ma'arif ketika beliau menyampaikan suatu pernyataan mengenai kasus Ahok, beliau menyatakan “bahwa Ahok itu bukanlah orang jahat.

Dengan pernyataan yang demikian beliau langsung diberi label sebagai orang yang pro Ahok atau yang lebih ekstrem adalah pembela penista agama.

Dengan alasan inilah sekelompok orang menghalalkan berbagai cara untuk menghujat, menjatuhkan, dan menyudutkan seorang Buya Syafi'i Ma'arif. Yang menjadi pertanyaan apakah ada relevansi pernyataan Buya tersebut dengan sikap pro-Ahok, itu sudah jelas keliru karena premis tidak sesuai dengan kesimpulannya. Ini membuktikan bahwa masyarakat kita sedang mengalami kesesatan dalam berpikir. Dan ini merupakan kelompok yang berpikir mengawur.

Kedua adalah sekelompok orang yang terjebak dengan berbagai opini publik yang berkembang, betapa banyaknya masyarakat kita yang mengikuti opini publik dan sangat mudah untuk mempercayainya meskipun bukan dari sumber yang kredibel, lebih percaya kepada media yang tak bertuan.

Pada akhirnya opini tersebut dijadikan bahan rujukan untuk menganalisis suatu kasus tertentu, dan pada akhirnya menyebabkan masayarakat mengalami kesesatan dalam berpikir dan mengarah pada suatu kesimpulan yang tidak valid.

Hal di atas merupakan contoh nyata dari kaum paralogisme, di mana melakukan kesesatan dalam berpikir namun tidak pernah menyadarinya. Paralogisme sangat efektif dalam mengubah opini publik, pembodohan publik, memutarbalikkan fakta, provokasi, dan pembunuhan karakter apalagi ditambah dengan prasangka buruk kepada pribadi atau kelompok tertentu, maka kelompok ini akan terus bergelimang dalam lumpur kesesatan dalam berpikir.

Ketiga adalah sekelompok elite yang menjadi kaum sofisme, di mana kaum ini secara sengaja melakukan kesesatan dalam berpikir dengan tujuan untuk menyesatkan orang lain. Mereka secara sengaja melakukan hal tersebut seperti melalui retorika, tulisan-tulisan yang berisi tendensi pribadi atau kelompok dan tidak objektif, dan menyampaikan berbagai argumentasi hebat namun sebenarnya jauh dari kebijaksanaan.

Keempat adalah sekelompok orang yang berfikir secara kodrati, dan menghilangkan unsur-unsur berpikir ilmiah sehingga pada akhirnya menghasilkan suatu kesimpulan yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan, hanya memakai rasa, perkiraan, dan tidak memakai data dalam membuat suatu argumentasi yang logis. Mereka berpikir terlalu sederhana seperti membalikkan telapak tangan, seperti membedakan antara siang dan malam.

Berpikir secara kodrati tidak sepenuhnya dikatakan kesesatan dalam berpikir, tapi hanya bersifat kontekstual saja, karena berpikir kodrati pasti dimiliki oleh semua orang tanpa perlu pembelajaran dan latihan khusus untuk mempertajam nalar. Namun akan menjadi sesat ketika berpikir kodrati digunkan untuk menganalisis suatu fenomena sosial yang sangat kompleks dan dekat dengan koridor ilmiah.

Nah, dari penjabaran saya di atas kita bisa menarik benang merahnya dengan kasus yang sedang menimpa sang gubernur petahana DKI Jakarta, bahwa keempat poin di atas adalah bagian yang menghiasi dan mewarnai kasus sang gubernur hingga pada akhir menjadi isu publik, perhatian publik, dan menjadi berita nasional yang gegap gempita.

Realitas sosialnya adalah bahwa masyarakat kita hari ini merupakan wayang dalam demokrasi yang sudah terkotak-kotak ke dalam empat poin tersebut sehingga kasus slip of tongue (lidah keseleo) Ahok menjadi booming dan cetar membahana, menguras energi dan emosi publik, di tengah  tensi politik yang sedang panas, khususnya dalam perebutan kursi DKI satu.

Yang menjadi pekerjaan rumah hari ini adalah siapa dalang yang memainkan para wayang sehingga para wayang ini sukses dalam melakukan sebuah teater dan pementasan politik di panggung ibu kota?