Semakin bertambahnya zaman, maka kehidupan manusia semakin buruk. Ditandai dengan menurunya moral dan akhlak manusia, salah satu contoh buruknya moral yaitu seseorang yang memiliki sifat takabur. 

Takabur adalah sifat membanggakan diri dan selalu menganggap bahwa kedudukan dirinya berada di atas orang lain. Takabur ialah penyakit hati yang sangat berbahaya. Sifat takabur sangat dibenci oleh Allah. 

Sifat ini muncul karena kita sebagai manusia kufur akan nikmat Allah, ketika diberi nikmat kita sebagai manusia seharusnya bersyukur, tetapi masih banyak di antara kita justru ketika diberi kenikmatan kita menjadi sombong atau takabur.

Takabur

Kata takabur ataupun sombong tidak asing lagi terdengar di kehidupan sehari-hari kita. Sikap takabur ini ialah perbuatan tercela, perbuatan yang dibenci oleh Allah Swt. 

Takabur semacam halnya jebakan yang dipasang oleh musuh manusia yakni syetan. Tidak sedikit manusia yang terjerumus masuk ke dalam jebakan tersebut.

Bila penyakit takabur ini sudah menyerang hati dan jiwa manusia, maka akan susah untuk disembuhkan. Penyakit hati yang satu ini sangat membahayakan dan Allah lah satu-satunya penolong (Solihin, dkk. 2020).

Pemicu perilaku ini adalah ketika seseorang merasa memiliki kelebihan, baik dalam bidang keilmuan, kekayaan, keparasan (rupa yang menawan, ganteng), kekuatan (Nurkamiden, 2016).

Seorang Muslim Harus Menghindari Sikap Takabur

Sifat takabur termasuk akhlak mazmumah (akhlak tercela). Sikap takabur memiliki banyak sekali bahaya yaitu selain dibenci Allah, orang tersebut akan dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya.

Hal ini dikarenakan seseorang dengan sifat takabur tidak akan mendengarkan pendapat orang lain, merasa bahwa dirinya paling sempurna, paling benar, walaupun yang disampaikan orang lain tentang kebenaran, orang yang memiliki sikap takabur akan tetap menolak kebenaran tersebut. 

Perilaku ini akan menghalangi seseorang untuk masuk surga, segala amalnya akan gugur, tertutup dari kebenaran, dan mendapat siksaan yang berat di akhirat nanti, maka dari itu kita sebagai seorang muslim wajib untuk menghindari sikap takabur.

Cara Menghindari Sifat Takabur

Dari penjelasan di atas, kita dapat memahami mengenai sifat takabur dan dampak negatif apa saja yang ditimbulkan apabila seseorang memiliki sifat takabur. Lalu, bagaimana kita sebagai muslim untuk menghindari sifat takabur? Berikut cara-cara menghindari sifat takabur:

1. Mengenali bahaya dari sifat ini, paling utama bahaya ketika di akhirat nanti. Melatih diri kita sedikit demi sedikit untuk memiliki sikap tawadhu (rendah hati), baik kepada Allah ataupun terhadap sesama makhluk.

Seperti sabda Rasulullah Saw “Tidak akan masuk surga seseorang yang memiliki sifat sombong di dalam hatinya walaupun sekecil biji sawi”. Hal ini menunjukan bahwa kesombongan akan mendorong manusia ketika di akhirat nanti untuk masuk ke dalam neraka dan menghalangi seseorang untuk masuk surga.

2. Memahami hakikat kekurangan diri serta kelebihan yang terdapat pada orang lain bila sewaktu-waktu muncul watak takabur. Selalu menyadari bahwa manusia adalah makhluk sosial, artinya makhluk yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Meskipun orang tersebut memiliki jabatan, kekayaan yang melimpah, dia selalu membutuhkan manusia lain. Contoh kecil yaitu ketika seseorang sakit, ia butuh seseorang yang lain untuk merawatnya, maka  dari itu kita harus selalu sadar setiap manusia memiliki kekurangan dan akan selalu membutuhkan orang lain.

3. Menyadari kehilafan kita dengan mengucapkan Subhanallah. Allah lah yang maha sempurna dalam zat, watak, serta  pekerjaan- Nya. Dialah yang pantas dengan atribut kesombongan. 

Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik Allah, sewaktu-waktu Allah dapat saja mengambilnya. Lantas untuk apa manusia menyombongkan diri?

4. Beristigfar atas kekhilafan tersebut (Ghofur, 2020). Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa. Istigfar ialah solusi untuk memohon ampunan atas kesalahan yang kita perbuat. Istigfar sangat mudah dilakukan seperti ringan saat diucapkan, pendek, dan tidak sulit untuk diucapkan.

Istigfar tidak hanya meminta ampun melalui lisan saja, tetapi juga dilakukan dalam hati dengan penuh penghayatan, menyesali dan tidak akan melakukanya lagi. 

Sebagai hamba Allah teruslah meminta ampun karena Allah maha pemberi taubat (at-tawwab), selama hamba tersebut mau bertaubat Allah akan mengampuninya.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa takabur merupakan sifat sombong, menolak kebenaran, dan merendahkan orang lain. Takabur membawa banyak dampak negatif.

Dampak yang timbul tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi akan berdampak buruk pada jiwa dan hati orang lain yang berada di sekitarnya. Sifat takabur dapat dihindari dengan selalu mengingat Allah, selalu sadar akan kekurangan diri serta menerapkan sikap tawadu dalam diri.

Dengan mengetahui cara-cara menghindari sifat takabur, diharapkan kita dapat menjauhi sifat takabur sejauh-jauhnya dari diri kita.

Referensi

Nurkamiden, U. D. (2016). Cara Mendiagnosa Penyakit Ujub dan Takabur. Tadbir:     Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 4(2), 115-126.

Solihin, A. T., Abdussalam, A., & Surahman, C. (2020). Takabur Dalam Alqur’an Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Pai Di Sekolah. Taklim: Jurnal Pendidikan Agama Islam 18(1), 37-51.

Ghofur, M. A. (2020). Nilai-Nilai Tasawuf Akhlaki Dalam Gurindam Dua Belas Untuk Pembinaan Akhlak Siswa Madrasah Di Era Disrupsi (Kajian Pasal Keempat Gurindam 12 Raja Ali Haji). Madaris: Jurnal Guru Inovatif, 1(1), 139-159.