Terciduk. Terma satu ini begitu terasa menggaung di udara media sosial akhir-akhir ini. Terma itu merujuk pada orang-orang yang ditangkap polisi karena melakukan penghinaan, ujaran kebencian, dan beberapa aktivitas yang ‘menjual’ suku, agama, ras, dan antargolongan. Tentunya tidak dalam muatan yang positif, tetapi cenderung primordialis dan kental dengan kebencian.

Ujaran-ujaran yang muncul dan disampaikan lewat media sosial, bisa facebook atau Instagram, dalam nalar yang normal, sudah sangat keterlaluan dan merendahkan. Tidak terbayangkan kesanggupan untuk menciptakan dan juga menyebarkan konten seperti itu.

Beberapa kasus yang langsung ditangani polisi berkaitan dengan orang nomor satu di negeri ini, termasuk ibu negara. Ibu Iriana, yang dari tampang dan pembawaanya tercermin sikap welas asih dan sederhana, bahkan cenderung polos tak berdosa.

Tidak jelas kebencian apa yang ditanamkan ke benak orang-orang penyebar penghinaan ini, sehingga sanggup untuk menyebarkan pernyataan-pernyataan kotor dan tidak bermoral. Cerminan orang yang tidak memiliki nilai rasa kebaikan dan juga rasio.

Kaum satu ini merasa bangga menyebarkan gambar dan ujaran kebencian itu. Mereka merasa bangga dan senang karena memang ada yang mendukung. Ketika mendapatkan dukungan dari mereka yang seide dan sependapat, rasa melambung tinggi, disanjung dan menjadi terkenal membuat mereka berproduksi lagi. Berproduksi hingga menembus batas yang tidak bisa lagi ditolerir. Seperti tersengat listrik kenikmatan. Orgasme kebencian.

Pada momen tertentu, para ‘pembenci’ ini mendapat dukungan dari pihak-pihak yang membutuhkan orang-orang dengan kualifikasi seperti mereka. Kepentingan untuk menyerang berbagai pihak yang berseberangan.

Berita terakhir yang beredar di lini masa, yakni soal pencidukan tersangka penyebar kebencian dengan menyebarkan pesan ‘brutal dan kasar’ terkait Ibu Negara. Ibu Negara disetarakan dengan kerendahan yang luar biasa. Pesan kebencian yang sukar diterima akal orang.

Tetapi, keluarga meresponnya dengan sangat santai. Anggota keluarga Pak Presiden hanya berkata, “Dimaafkan saja!” Banyak masyarakat dunia media sosial geram dengan reaksi keluarga ini. Reaksi yang selalu muncul setiap keluarga ini ‘dihinakan’ para haters abadi.

Tetapi tidak demikian adanya dengan polisi. Ini tidak semata-mata penghinaan brutal kepada personal, tetapi kepada negara. Presiden, di samping sebagai individu, juga merupakan lembaga negara. Ibu Negara juga mendapatkan tempat yang seharusnya tidak layak untuk dijadikan materi untuk penghinaan. Jangankan untuk presiden, untuk rakyat biasa ini pun dapat diperkarakan ke pengadilan melalui Undang-Undang ITE.

Sebelumnya ada akun yang memakai nama dan gambar orang lain, Ringgo Abdillah. Ringgo Abdillah sempat ‘tenar’ beberapa saat di media sosial, terutama Facebook karena ‘kegemarannya’ menghina Presiden Jokowi, baik lewat tulisan maupun gambar-gambar yang tidak pantas.

Setelah tertangkap, ternyata pelaku masih anak muda yang bisa dianggap masih ingusan dan jauh dari pusat kota Ibu Kota Jakarta. Bahkan, ketika ditangkap, Ringgo yang bernama asli Muhammad Farhan Balatif (18), penduduk Kelurahan Glugur Barat, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, menangis termehek-mehek. Sayang, nasi sudah menjadi bubur. Bahkan, tindakannya sama sekali tidak diketahui orangtuanya.

Pencidukan terbaru dilakukan di Palembang atas nama Dodik Ikhwanto (21), seorang mahasiswa asal Palembang pemilik akun warga biasa. Dodik ditangkap pada Senin, (11/9/2017) pukul 20.00 di rumah orangtuanya.

Sebelumnya, pacar Dodik, Dany Widya sudah terlebih dulu diciduk di rumahnya di daerah Laswi di Bandung. Kesetiaan mereka salah arah. Cinta dan kasih sayang mereka tidak ‘membakar’ keduanya.

Para ‘terciduk’ yang masih muda-muda ini, yang seharusnya giat-giatnya menyiapkan masa depan, malah terjebak dalam pusaran kebencian. Pusaran kebencian yang mungkin hanya bisa dipahami mereka sendiri. Kebencian yang kadang mata kita sendiri tidak sanggup untuk melihat gambarnya atau membaca tulisan yang disertakan pada gambar itu.

Kesanggupan untuk menyebarkan konten kebencian, setidaknya dengan melihat dua kasus anak-anak muda ini, dapat dilihat setidaknya dari dua hal, yakni pertama terkait emosi kolektif, dan kedua soal kepolosan akan dunia seluk-beluk dunia internet.

Tersengat Emosi Kolektif

Ketika dalam suatu kumpulan, seorang mendapatkan dukungan atas tindakannya, rasa membuncah akan muncul. Rasa senang, dihargai, terkenal, dan juga mendapatkan pengakuan membius orang tersebut.

Kesamaan pandangan dan dukungan dari kelompok menjadi suatu alasan yang melatarbelakangi suatu tindakan. Pastinya pernah menyaksikan ketika seseorang ragu-ragu melakukan sesuatu yang cukup ekstrim, katakanlah bungee jumping, akan berani melakukannya ketika mendapatkan teriakan yang menyemangati.

Ketika semuanya berani, seseorang yang penakut menjadi berani juga. Terjadi sebentuk kesamaan emosi. Sering disebut emosi kolektif.

Christian von Scheve dan Sven Ismer dari Freie Universität Berlin memberikan definisnya sebagai beriktu. “Collective emotions as the synchronous convergence in affective responding across individuals towards a specific event or object.”

Secara definisi, emosi kolektif adalah kesamaan emosi yang muncul di dalam sebuah kelompok karena persamaan pandangan, perasaan, nasib, dan karakteristik lainnya terkait sebuah peristiwa atau objek. Emosi kolektif ini akan berkembang dan menjamur dalam kelompok itu sendiri. Ketika keluar dari kelompok, emosi ini akan hilang dengan sendirinya.

Dalam dunia media sosial, kelompok ini tidak lagi kelompok fisik meskipun ada kemungkinan terjadinya pertemuan fisik. Tetapi justru, emosi kolektif ini lebih intensif di ruang-ruang virtual media sosial. Karena emosi dan imajinasi yang berkembang seiring dengan ide-ide dan nilai-nilai yang dipompakan serta dukungan anggota kelompok.

Prosesnya terjadi terus menerus dan tidak putus. Bisa dibayangkan, betapa semangatnya setiap anggota kelompok tersebut, saling menguatkan. Lalu, si pencipta kebencian itu meningkat adrenalinnya.

Jika seseorang dalam kelompok ini berani menyuarakan kepentingan kelompok dan mendapat sambutan, maka seseorang tersebut akan mendapatkan perasaan senang, bahagia dan juga dapat melipatgandakan perasaan itu dalam bentuk tindakan yang lebih ekstrim.

Dua kasus di atas bisa jadi mengalami proses yang sama. Awalnya ujaran-ujaran yang disebarkan sifatnya masih normatif. Seiring banyaknya dukungan dari para ‘senasib’ yang artinya memiliki pandangan yang sama, muncul keinginan untuk lebih lagi.

Dalam kasus Dodik dan Farhan, sepertinya prosesnya berjalan demikian. Semakin banyak dilihat, disukai, dan dibagikan, semakin terbakar emosinya untuk menciptakan content yang lebih ‘dahsyat’ dan mendapatkan sambutan meriah dari khalayak dalam kelompoknya.

Kepolosan Soal Berinternet

Dalam dunia internet, segala sesuatu yang pernah dicoretkan, maka akan ada selamanya.

Dalam film Baywatch versi layar lebar yang ditayangkan di 2017, ada adegan di mana Matt Brody yang diperankan oleh Zac Efron, mantan personil One Direction ini, menghindari fotonya yang dianggap kurang pantas diupload di internet. Dia katakan, “Everything in internet is forever”.

Perlu ditambahkan lagi bahwa segala sesuatu yang diupload ke internet akan dapat dilacak. Jejak-jejak digital ini tidak akan pernah hilang. Jejak digital ini sering disebut dengan artefak. Dengan kecanggihan teknologi yang dimiliki dan kerja sama dengan operator jasa internet, akan dengan sangat mudah ditemukan jejak-jejak ujaran kebencian mereka itu.

Dapat dilihat, mereka bukanlah para programer yang terbiasa dengan dunia dalam atau sering disebut dengan deep web. Dunia internet yang tidak awam dan ‘tidak akan bisa dicari’ di internet. Maksudnya, tidak bisa dicari dengan mudah. Tetapi, tentunya kembali ke penjelasan awal, tidak ada yang tidak terlacak.

Dua orang ini menganggap bahwa jika nama sudah dipalsukan, foto sudah digantikan dengan wajah orang lain, maka sudah berhasil bersembunyi dari tangan hukum. Apalagi mereka bisa melakukannya dari tempat mereka yang menurut mereka sangat tersembunyi.

Seperti yang dilakukan oleh Farhan, mencuri jaringan internet tetangga. Perasaan aman sangat menyelimuti dirinya ketika mengunggah postingan-postingan ‘brutal’ itu. Bahkan, dalam satu postingan-nya, Farhan menantang polisi untuk menangkapnya. Polisi bahkan dikatakan ‘bodoh’ karena belum menangkap dirinya meskipun kasusnya sudah ‘mengudara’ selama seminggu.

Tetapi, kepolosan atau mungkin juga ‘kebodohan’ yang dikombinasikan dengan emosi kolektifnya, setidaknya dua orang di atas, berujung pada kasus hukum. Mereka menanggung akibatnya. Mereka akan dituntut dengan Undang-Undang ITE dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun.

Nasi sudah menjadi bubur untuk dua orang di atas. Banyak lagi yang terciduk karena semangat bersama yang kebablasan ini. Inginnya terkenal, malah menjadi terjungkal ke dalam sanksi hukum dan sanksi sosial yang pastinya lebih ‘ganas’.