Seumur hidup aku, ini yang pertama. Hatiku diketuk oleh seorang wanita yang bahkan rasa itu hadir entah yang aku rasa begitu harus bersama. Bertemu dia adalah nyawa baru bagiku, setelah sekian lama hampa itu sudah bisa aku menikmatinya.

Tidak pernah tahu, apakah itu waktu yang tepat atau tidak untuk aku memulai kembali rasa ku setelah sekian lama bersemayam pada catatan luka. Tapi bagiku, kini adalah waktu yang sudah saatnya memulai kembali mencari belahan jiwa yang bersedia bersama, mendengarkan berbagai keluh kesah cerita luka bahkan memulai kembali bahtera bahagia, pikirku.

Waktu-waktu berlalu, semua usaha untuk bersamanya aku lalui. Ia yang aksi usahakan dalam semua juang untuk mendapatkan semua tentang dia. Bahagia untuknya adalah ruang yang aku lakukan tanpa tahu lelah dalam berjuang aku buang jauh-jauh demi ingin mengikat dia dalam sebuah rasa hingga berdua bahagia.

Aku pernah berjuang untuk seseorang, namun ia memaksakan diriku harus berlalu dan meninggalkan semua cerita tentang dirinya. Sampai aku berdarah dalam hati dan tidak dapat menderaikan air mata lagi. Sebab rasaku mulai mati, bukan karena inginku tapi seseorang itu yang menginginkannya.

Betapa bahagia dalam anganku yang bergebu-gebu untuk mendapatkan sepercik cinta pada wanita yang aku menaruh rasa padanya. Melihat dirinya, sendiri aku kada tertawa bahagia. Tidak dapat aku utarakan lewat kata tentang rasa, tak bisa aku kalkulasikan rasa pada pandangan pertama padanya.

Saat berjumpa dirinya ketika itu, aku merasa dia adalah yang akan menerima diriku. Dan aku adalah lelaki yang menaruh rasa padanya. Tetapi mungkin bukan hanya aku saja lelaki itu, bahkan ada banyak lelaki lain yang juga melirik dirinya.

Dalam hatiku, ia adalah wanita yang harus aku miliki. Hidup bersama menua sampai menutup mata berdua. Bagiku dia bidadari tanpa sayap yang akan menjadi bidadari tak bersayap untuk anak-anak ku bahkan aku. Sangka ku dalam rasa juga asa ingin bersama menata masa depan bahagia.

Kala itu aku menjalani waktu-waktu berdua dalam sebuah masa dan saling menikmatinya. Hingga akhirnya ia menginginkan cerita dari diriku dimasa lalu. Aku pun tak pernah keberatan dengan semua keinginan yang ia pinta padaku. Aku kehilangan akal demi bersamanya untuk menua bersama.

Sejak saat itu, aku melihat dia yang begitu syok dengan semua kelam diri dimasa lalu. Entah apa yang membuatnya begitu, dan sikap dia berubah menjadi acuh bahkan dimatanya terlihat aku bukan lagi siapa-siapa terlihat jelas semuanya pada saat komunikasi yang tidak lagi seru. Ia bahkan berkata padaku, "jangan lagi jadikan diriku lebih dalam rasamu, bahkan menginginkan segala tentang diriku." Sebut saja ia adalah Herlyin.

Bagiku semua itu bukan sebuah alasan untuk tidak bersama dalam niat baik itu. Tidak menjadi sebuah sekat dalam menjalani berdua untuk masa depan bersama. Dalam pikirku, itu masalalu bukan masa kini lagi bahkan bukan kesalahan untuk masa depan karena aku pun sudah tidak lagi berada dimasa itu. Sadar diriku, itu hanyalah sebuah dalih untuk menjaga rasanya pada seseorang yang mungkin lebih berharga baginya selain kehadiran diriku.

Paham betul diriku, ia saat ini lebih memilih berkarir dalam hidupnya untuk masa depan yang hari ini ia impikan. Menyelesaikan bangku pendidikan dan menjadi wanita karir dalam dewasanya adalah tujuan dalam perjalanan juangnya. Bagiannya semua itu lebih berharga daripada hadirku. Padahal aku ingin berjuang bersamanya, komitmen untuk memulai cita-cita bersama hingga tua.

Semua harus aku nikmati dalam sepi sendiri. Aku yang memaksakan diri menikmati dalam sebuah tanda tanya besar, apakah ini nyata adanya semua akan berlalu dan berlaku hancur dalam perasaan besar itu. Aku hanya bisa bersandiwara seolah-olah diri dan hatiku baik-baik saja. Nampak sikapku, aku harus bagaimana dan berbuat apa? Ah, Aku harus mati rasa tanpa cinta.

Kini semua waktu-waktuku berlalu tanpa rasa itu. Aku luahkan semua tentang emosi rasaku pada jalan-jalan sepi tanpa aku harus memulai lagi kembali. Cerita ini memaksa diriku harus menjadi asing sama seperti lahir diriku dari perut ibu, tanpa siapa-siapa. Do'aku untuk dia bahagia, namun lupa aku berdo'a untuk hari-hari yang akan aku lalui lagi.

Aku kini mulai pelupa, memulai kembali tanya sendang apa dia, berjalan berdua menyusuri kota nan indah dirasa saat senja, semua itu aku lupa untuk cara memulainya. Menatapnya pun seperti dulu aku ragu, logika dan perasaan ku beradu.

Seiring waktu kini yang telah berlalu, aku hanya bisa menikmati waktu-waktu seolah semua baik-baik saja. Bahkan luka itu aku biarkan menganga hingga ia terbiasa merasakan luka. Aku berjalan tanpa pinta, tanpa rasa, tanpa merintih meminta-minta cinta. Aku ingin berdamai disetiap cerita luka, menikmatinya seolah-olah semua aku kuat untuk mengemban di setiap luka-luka.

Andaikata pelangi itu akan hadir di setiap setelah hujan turun membasahi bumi, maka aku kan menunggu nya untuk menikmati hadirnya pelangi setalah setiap luka yang diberikannya. Terimakasih luka, hingga aku menikmati derita rasa.

Selangkah.Juang 2021