Apa yang akan kamu lakukan ketika di dalam dirimu ada keinginan untuk bercerita tentang apa yang sedang kamu rasakan? Apakah kamu akan curhat dengan orang tua? Menceritakannya kepada teman? Memposting kutipan di media sosial? Menangis sendiri di kamar? Atau memilih mengabaikan keinginan tersebut?

Beberapa orang memiliki caranya masing-masing dalam mencurahkan apa yang sedang mereka rasakan. Ada tipe orang yang bisa dengan mudah mencurahkan isi hatinya kepada orang lain atau ke media sosial. Ada juga tipe orang yang lebih memilih memendam apa yang sedang mereka rasakan.

Apakah kalian tahu apa itu memendam emosi? Sumber dari Alodokter mengatakan bahwa Memendam emosi adalah suatu kondisi ketika pikiran Anda menghindari, tidak mengakui, atau tidak dapat mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat, baik secara disadari ataupun tidak disadari.

Sebenarnya, mengapa seseorang suka memendam emosi dan menyimpan masalahnya sendiri? Banyak alasan mengapa seseorang lebih suka menyimpan dan menutup emosi yang disebabkan oleh orang lain atau karena kondisi tertentu. Biasanya orang tersebut merasa malu atau takut terlihat lemah.

Terdapat perbedaan antara pria dan wanita dalam menyikapi sebuah masalah. Biasanya pria takut kehilangan maskulinitasnya sehingga mereka jarang untuk membagikan kesedihan yang sedang dialami. Kemudian ada anggapan bahwa “pria nggak boleh nangis” membuat mereka semakin memendam apa yang dirasakan.

Sedangkan wanita biasanya bisa dengan mudah bercerita tetapi di sisi lain mereka juga bisa merasa takut jika orang yang menjadi tempatnya bercerita tidak dapat dipercaya. Tak jarang pula wanita merasa khawatir untuk bercerita karena takut dianggap lemah dan sensitif serta takut diatur orang lain.

Orang yang suka menyimpan emosi dan masalahnya sendiri terkadang mengindikasikan adanya rasa tidak percaya di dalam dirinya terhadap orang terdekat. Selain itu mereka juga tidak percaya diri untuk bercerita serta adanya rasa takut mendapat respons yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Dampak Memendam Emosi dan Perasaan

Perlakuan memendam perasaan dan mengabaikan emosi yang seharusnya lebih baik untuk diungkapkan sejatinya memiliki pengaruh buruk bagi kita. Memendam emosi justru akan membuat emosi tinggal di tubuh dan tidak akan membuat emosi itu hilang.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan memendam perasaan dan mengabaikan emosi yang seharusnya lebih baik dikeluarkan bisa berdampak pada tubuh kita. Hasil yang diperlihatkan adalah bahwa memendam perasaan dan emosi dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah.

Memendam emosi dan perasaan bisa membuat tingkat kecemasan naik. Hal tersebut akan membuat otak memproduksi hormon stress secara berkala. Dampak negatif yang dirasakan fisik seperti mual, pusing, hingga sulit bernapas. Depresi adalah akibat yang muncul jika emosi negatif tidak tersalurkan dengan baik.

Dampak lain yang muncul adalah kerusakan hubungan karena ketika emosi sedang naik-naiknya pada akhirnya kita  memilih untuk menghindari orang itu. Memendam perasaan juga memicu orang lain merasa sakit hati ketika kita mengatakan kepada orang  sedang baik-baik saja, namun menunjukkan perilaku berbeda.

Selain itu memendam perasaan juga bisa meningkatkan risiko kematian dini. Sebuah studi yang terbit di tahun 2013 menjelaskan bahwa penekanan emosi dapat menyebabkan stres. Stres yang tak teratasi dengan baik meningkatkan risiko terserang penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan masalah jantung.

Cara Positif dalam Mengekspresikan Emosi

Lalu bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi dengan positif? Terdapat beberapa cara, yang pertama adalah dengan menulis jurnal atau diary. Dengan menulis jurnal atau diary kita bisa mencurahkan semua yang kita rasakan tanpa takut dapat penilaian yang tidak sesuai dari orang lain.

Dengan menulis jurnal atau diary, kita bisa menuangkan semua yang membuat kita cemas kemudian kita bisa menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan lebih positif. Hal ini membantu kita untuk menyadari gejala cemas sehingga kita bisa mengelolanya dengan baik.

Cara lain adalah dengan mencari teman bicara yang kamu percaya. Ada orang yang merasa tidak puas jika hanya mencurahkan apa yang mereka rasakan ke jurnal atau diary karena mereka merasa butuh tanggapan atau respons. Sehingga mereka memilih untuk menceritakannya kepada orang lain.

Dengan mencari teman yang cocok untuk diajak bicara dan terpercaya, kita bisa menempatkan apa yang sedang kita rasakan ke dalam perspektif. Mencari teman bicara juga bisa membantu kamu mengidentifikasi emosi. Berbicara dengan orang terdekat bisa membantu mengatasi perasaan tersebut.

Dan terakhir adalah dengan belajar bersyukur. Bersyukur menurut beberapa orang lupa untuk dilakukan. Perlu diketahui, bersyukur adalah cara sederhana yang bisa dilakukan di mana hal tersebut pasti berdampak positif bagi kita. Yaitu dapat membantu kita mengurangi stres dan risiko penyakit fisik.

Menurut sebuah penelitian pada tahun 2015 oleh Paul J. Mils, lebih banyak bersyukur dikaitkan dengan suasana hati yang lebih baik, tidur yang lebih baik, dan lebih sedikit kelelahan, serta kadar penanda inflamasi terkait kesehatan jantung yang lebih rendah.

Kita bisa mempraktikkan bersyukur sebagai ekspresi emosi dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dengan mencari lingkungan pertemanan yang positif sehingga kita bisa termotivasi. Kemudian ucapkan rasa syukur ketika akan dan selesai melakukan sesuatu, misalnya sebelum dan sesudah tidur.

Contoh lain adalah dengan meluangkan waktu untuk menyampaikan terima kasih kepada orang terdekat misal kepada orang tua, saudara, dan sahabat. Kita bisa menyampaikannya secara langsung maupun secara tertulis. Hal tersebut merupakan wujud ekspresi emosi yang positif.

Kemudian kita juga bisa menuliskan lima hal yang disyukuri dalam hidup. Cara ini bisa membantu kita untuk lebih fokus pada hal positif dalam hidup. Kita bisa meluangkan waktu sebelum tidur setiap hari untuk menulis dan merenungkan apa yang berharga di dalam hidup kita.

Sejatinya semua manusia pasti memiliki permasalahan hidup selama kita masih terkait dengan dunia ini. Kita harus jujur terhadap diri sendiri tentang apa yang sedang dirasakan. Kita tidak boleh selalu memendam apa yang sedang dirasakan, terkadang kita memang perlu berbagi cerita dengan orang lain.