Passion tak bisa diterangkan secara tepat dan lengkap walau dengan beribu-ribu kata. Ia hanya bisa dirasakan, dialami, dan digerakkan olehnya. Tetapi tak henti juga manusia untuk menjelaskannya. Maka lahirlah banyak penjelasan tentang passion.

Ada yang mengatakan passion seseorang adalah sesuatu yang terus-menerus mengisi pikirannya. Tak bisa dihentikan bahkan tatkala tidur. Terus-menerus ada menyertainya. Seluruh tindakannya terarah pada passion itu.

Yang lain mengatakan passion adalah suatu hal yang tidak pernah bosan untuk diperjuangkan. Passion membuat orang rela berkorban untuk mencapainya. Passion-lah yang berada di balik semua hal yang membuat seseorang mau melakukan sesuatu tanpa diperintah, mengerjakannya dengan rela.

Passion membuat seseorang terus-menerus termotivasi untuk mengejarnya. Energi, gairah, dorongan, dan kehendak untuk mewujudkannya -- sesulit apa pun itu -- seakan terbangun di dalam diri. Tak putus-putus.

Seorang perempuan muda asal Australia, yang sedang menyelesaikan studi S-3-nya di University of Sydney, menggunakan kata passion untuk menggambarkan keinginan merdeka orang-orang Papua yang berada di Papua Nugini (PNG), yang menjadi subjek penelitiannya.

Menurut dia, passion untuk mencapai kemerdekaan ia temukan pada orang-orang Papua di PNG. Merdeka menjadi hasrat dan cita-cita mereka yang diungkapkan maupun tidak diungkapkan. Cita-cita merdeka menjadi pendorong di balik apa pun yang mereka kerjakan.

Seperti dapat dibaca dari blog pribadinya, Emma Kluge Life and Thoughts of a Ph.D. Student, awal Februari lalu ia terbang ke Papua Nugini demi keperluan penelitiannya. Risetnya mengambil topik tentang perjuangan kemerdekaan rakyat Papua di tahun 1960-an hingga 1970-an.

Baca juga: Liat Collins, Wartawati Israel Pendukung Aspirasi Merdeka Papua

Selama tiga pekan lebih di sana, ia mewawancarai mereka, orang-orang Papua yang dulu melarikan diri ke PNG pasca penentuan pendapat rakyat (Pepera) 1969. Dan Emma Kluge merasakan betapa passion untuk merdeka itu demikian kuatnya.

"Salah satu tema yang muncul berulang kali di seluruh wawancara adalah bagaimana perjuangan untuk kemerdekaan Papua dan harapan untuk masa depan yang lebih baik membingkai seluruh cara mereka mendekati kehidupan dan memberikan tujuan untuk kehidupan sehari-hari mereka," tulis Emma Kluge.

"Baik tua maupun muda, mereka berbicara tentang bagaimana terlepas dari perjuangan dan kesulitan, mereka bertekun dan mendedikasikan diri mereka untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia - pendidikan, sumber daya, pekerjaan - untuk membantu mengembangkan diri mereka sendiri, untuk mendukung komunitas mereka dan untuk memastikan masa depan yang terbaik bagi Papua."

Lebih jauh, Emma mengatakan, "Ketidakadilan yang mereka saksikan terjadi di Papua, diskriminasi dan penganiayaan, memandu  mereka untuk mengerahkan apa pun yang mereka miliki di Papua Nugini, seterbatas apa pun itu."

Baca juga: Wasiat Ortiz Sanz tentang Kemerdekaan Papua

***

Isu-isu menyangkut sejarah integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pelanggaran HAM dan diskriminasi yang dialami oleh rakyat di wilayah paling timur Indonesia itu, tampaknya kian memancing ketertarikan orang-orang muda di berbagai negara.

Ketertarikan itu, misalnya, menghinggapi juga diri Tatiana Overly, seorang remaja Amerika Serikat. Siswi Pasadena College City (PCC) di California, tertarik memahami ancaman punahnya budaya Papua. Lalu ia memilih untuk membuat karya tulis tentang Papua dalam pelajaran Antropologi di sekolahnya.

Tatiana Overly bersama karya posternya tentang perjuangan kemerdekaan Papua (PCC Courier)

Hasilnya, menggembirakannya. Dengan karya tulis itu, ia terpilih menjadi salah satu siswa berprestasi. Dan ia diminta menampilkan karya tulisnya tersebut pada Konferensi Tahunan ke-17 yang diselenggarkan oleh Honor Transfer Council of California (HTTC) dua tahun lalu.

Ia mengatakan memilih topik itu atas saran gurunya, Dr Derek Milne. Karya tulis tersebut ia presentasikan dalam bentuk poster, salah satu kategori yang dilombakan pada konferensi itu. Overly memenangi penghargaan peringkat ketiga.

"Banyak orang tidak tahu tentang yang terjadi (di Papua) karena pemerintah telah melarang liputan jurnalis, mereka melarang antropolog, nyaris menutupnya dari dunia luar untuk dapat menyebarkan berita tentang  apa yang terjadi di sana," kata Overly sebagaimana diberitakan oleh Pasadena City College Courier.

"Kita bisa melihat sebuah kebudayaan menuju kematian dengan apa yang terjadi di sana," tambah Overly.

Emma Kluge jauh lebih serius dari Overly. Emma Kluge sudah mempelajari dan mendalami soal pergerakan kemerdekaan Papua sejak tahun pertama ia kuliah di Faculty of Arts and Social Sciences, University of Sydney.

Sebelum melanjutkan ke program PhD, Emma Kluge telah merampungkan penelitian untuk gelar BA-nya tentang pengungsi Papua di PNG di masa pemerintahan Australia pada tahun 1960-an-1970-an.

Sedangkan untuk program Ph.D, fokus penelitiannya adalah gerakan Papua Merdeka di masa pembentukannya di bawah pemerintahan Belanda yang kemudian berkembang di bawah pemerintahan Indonesia pada tahun 1960-an-1970-an.

Baca juga: Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa, Kecuali Papua Barat

"Dengan mengeksplorasi hidup rakyat Papua, saya ingin memahami apa yang menopang ketahanan gerakan kemerdekaan mereka dan apa yang dapat dipelajari dari para aktivis Papua merdeka," tulis dia di blognya.

(Saya telah mengirimkan beberapa pertanyaan, terutama tentang hal apa yang mendorong Emma Kluge mendalami isu Papua lewat akun Twitternya. Tetapi belum mendapatkan jawaban. Penjelasannya tentang hal itu akan ditambahkan pada tulisan ini bila sudah diperoleh).

Barangkali seperti orang-orang Papua yang memiliki passion untuk memperoleh kemerdekaan, Emma Kluge juga berbagi passion yang sama untuk mempelajari perjuangan rakyat Papua demi penyelesaian disertasinya. Ia telah pergi ke berbagai tempat untuk memperoleh data dan penjelasan tentang apa yang menjadi fokus penelitiannya.

"Saya senang memperoleh kesempatan menggunakan sebagian besar waktu saya untuk membaca dan melakukan riset. Saya menjadi terbiasa dengan arsip-arsip di National Archives dan the National Library di Canberra.

Saya senang membaca dokumen-dokumen yang tidak pernah dibaca oleh orang lain sebelumnya.Sangat mengagumkan mengetahui banyak hal masih tersimpan dan kita dapat belajar dari masa lalu."

Tahun lalu, Emma terbang ke AS dan melakukan riset di pusat arsip PBB di New York. "(Saya) takjub membaca surat-surat rakyat Papua yang telah dikirim ke PBB memprotes perlakuan yang mereka terima dan menuntut kesempatan agar suara mereka didengar dalam menentukan masa depan mereka."

Emma Kluge telah beberapa kali diundang memberikan paparan tentang temuan-temuannya, baik ketika di Papua Nugini maupun di Australia. Awal pekan ini, misalnya, ia menjadi salah satu pemateri dalam Australian Association for Pacific Studies (AAPS), di Sydney.

Baca juga: Masihkah Papua Adalah Kita?

Tahun lalu, ia menulis sebuah artikel yang cukup panjang, berjudul Decolonization Interrupted: U.N. and Indonesian Flags Raised in West Papua.di UN History Project. Isinya tentang uraian historis perjuangan sejumlah rakyat Papua untuk mendapatkan hak menentukan nasib sendiri.

Namun, pengalaman yang tampaknya paling memberi kesan mendalam secara personal baginya adalah pertemuan dan percakapan-percakapan langsung dengan orang-orang Papua di PNG.

"Pengalaman luar biasa saya peroleh dalam tiga pekan terakhir ketika melakukan wawancara lisan sejarah terhadap orang-orang Papua tentang kehidupan mereka. Saya telah belajar banyak tentang sejarah yang saya dalami dan mendapatkan perspektif yang berbeda atas tesis saya dan peristiwa bersejarah ini.

Saya pikir hal terbesar yang saya pelajari dari orang Papua di sini di PNG adalah bagaimana mereka hidup dengan passion dan dengan bertujuan," tulis Emma di salah satu tulisan di blognya di bulan Februari 2018.

Menurut Emma Kluge, orang-orang Papua di pengasingan ini tak pernah melupakan passion untuk merdeka. Semua upaya dikerahkan untuk cita-cita itu.

"Banyak pemuda Papua dengan yakin memilih jurusan Ilmu Politik di universitas, untuk membantu mereka menjadi pemimpin yang lebih baik dan untuk memastikan mereka dapat berpartisipasi dalam perjuangan politik untuk Papua.

Salah seorang (perempuan, pen) Papua yang saya wawancarai menceritakan kepada saya tentang bagaimana dia bekerja keras di sekolah untuk berhasil dan memenangkan beasiswa agar bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. 

Dengan kariernya, ia berharap dapat memperoleh posisi dan pengaruh di mana ia akan memiliki platform untuk berbagi tentang Papua. Pada saat yang sama ia menggunakan sumber daya dari pekerjaannya untuk membiayai rumah tangganya dan mendukung orang Papua di komunitasnya."

Emma Kluge menilai passion yang ditunjukkan oleh orang-orang Papua ini bukan hanya untuk menaikkan tingkat kehidupan mereka sendiri tetapi juga bagi semua orang Papua. Baik bagi generasi sebelum mereka yang telah  meletakkan dasar bagi mereka maupun bagi generasi yang akan datang setelahnya.

Jika mereka memiliki pendidikan, kata Emma, itu juga digunakan untuk mendidik orang Papua lainnya. Jika mereka memiliki sumber keuangan, itu pun dipakai untuk mendukung masyarakat mereka.

Baca juga: Mengapa Anak-Anak Muda Papua Berteriak Merdeka

"Jika mereka memiliki rumah, itu untuk menyediakan perlindungan," tulis dia.

Wawancara-wawancara Emma Kluge dengan orang-orang Papua itu tidak selalu berlangsung dengan mulus. Orang Papua di PNG sudah terbiasa merasa diamat-amati oleh apa yang mereka curigai sebagai ‘aparat’ dari Indonesia. Karena itu percakapan-percakapan mereka ada kalanya harus berpindah tempat.

Di tiap akhir percakapan dengan para narasumbernya, Emma Kluge selalu menanyakan apakah masih ada informasi yang akan mereka tambahkan atau katakan.

"Dan setiap kali mereka menatap mata saya, seakan-akan mendorong saya untuk menceritakan kisah-kisah mereka kepada dunia untuk memberitahu tentang  penderitaan orang-orang Papua dan tidak menyerah berjuang untuk kemerdekaan Papua."

Emma Kluge mengatakan ia banyak belajar dari cara hidup orang-orang Papua di PNG menghidupi dan memperjuangkan passion mereka. Menurut Emma Kluge, pengalaman-pengalaman rakyat Papua telah membentuk hidup dan menempa harapan mereka yang pada gilirannya memelihara kehidupan mereka juga. 

Harapan-harapan itu tidak hanya ditujukan pada masa depan tetapi juga masa kini. Sambil terus berusaha menyuarakan aspirasi mereka di PBB maupun di negara-negara tetangga Pasifik, kata Emma, rakyat Papua di PNG tetap memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar.

Referensi