Biarpun Anda tidak tahu bernyanyi sebuah lagu, Anda mendengarkan lagu saja adalah obat psikologi terbaik yang pernah ada. Yang paling penting dari lagu adalah mempertahankan nyawa manusia. Jika Anda adalah pelagu, "bernyanyi adalah hidup". (Arnold AP)

Sementara Anda adalah pendengar lagu, "hidup ini adalah misteri", jadi biarkan Anda mendengarkan lagu karena ia akan memberikan jalan keluar dan kesadaran ketika Anda menilai hidup ini paling malang.

Penyanyi belahan dunia mencoba untuk mengobati luka kita. Mereka petik sebuah isu sosial di depan rumah mereka. Lalu mereka melagukannya dan membagikannya supaya orang-orang di sekitarnya bisa dengar dan memperbarui isu kemiripan yang terjadi di depan kita.

Ada lagu yang memuji, merendahkan, memerdekakan, menyembuhkan, menguatkan, pun menyambungkan (hubungan cinta, cie cie?).

Saya ambil satu penyanyi kondanganku, Eminem. Dia menjabarkan persoalan sosial yang dia sendiri alami di dan dari dapurnya ke khalayak. Eminem (EM) kerap bernyanyi kehidupannya yang berantakan dengan kedua orang tua kandungnya, terutama dengan ibunya sejak EM masih anak kecil.

Jika Anda mengalami hal yang sama seperti Eminem, ia adalah seorang angel bagimu untuk move on sambil retrospeksi. Lagunya, Cleanin' Out My Closet, adalah lagu di mana ia menguraikan ibunya yang sifat otoriter dan tidak mau tahu dengan hidup EM.

EM angkat suara dengan hooknya yang terkenal, ‘sorry Mama’, menandakan EM ingin mengungkapkan kelakuan ibunya. EM juga mau menguburkan ibunya. Tapi EM pastinya mengubur karakter ibunya, bukan fisiknya, meski di video klipnya terlihat EM menggali tanah.

EM hendak buka-bukaan dan bersihkan lemarinya, "Cleaning out my closet" yang Mama memperlakukan ke EM. Meski EM masih anak, ibunya memberikan barang-barang yang semestinya diperoleh oleh orang dewasa. Memaksa EM.

Mama EM sendiri yang bergoreng dan menutupi anaknya di lemari. EM tidak bisa keluar. Ibunya keras kepala. Dalam lagu itu, Eminem juga berbicara tentang ibunya yang merasa diabaikan dan memperlakukannya dengan sangat buruk dan brutal walau EM adalah anak kandungnya sendiri.

Paling jengkel adalah saat paman EM, Ronnie, meninggal. Ibunya EM mengharapkan kalau kematian Ronnie seharusnya EM yang meninggal, bukan paman EM. Sungguh, ibu yang tidak punya perikemanusiaan. Liriknya, "Remember when Ronnie died and you said you wished that was me."

EM juga kutip sebuah lirik tentang ibunya yang (pura-pura) kena gangguan mental: Munchausen Syndrome, adalah kondisi di mana seseorang 'memalsukan penyakit untuk mendapatkan perhatian.' Dalam hal ini, EM marah besar kepada ibunya yang membuat EM sakit. 

Dengan melihat dan mengalami lingkungan parah seperti itu, EM menekankan dengan bilang sambil EM menggali kuburan:

I said, I'm sorry mama
I never meant to hurt you
I never meant to make you cry
But tonight I'm cleanin' out my closet - Ha!

Apakah lagu Cleanin' Out My Closet mungkin mirip dengan nestapanya kehidupan orang Papua?

Sekali lagi, Eminem punya cerita ini. Saya tidak bermaksud menyamakan bagaimana Jakarta sebagai mama memperlakukan Papua, anaknya. Anak yang dulu (dan masih terjadi sekarang) tendang-menendang ke sana-kemari saat 1950-90an oleh Amerika, PBB, Indonesia, Belanda, dan Australia.

Luka akibat tendangan dari negara-negara ini, sekarang anak-anak Papua sendiri dan non-Papua. Entah itu jurnalis, pegiat HAM, aktivis-aktivis yang peka terhadap keperihan Papua, mereka bangkit menuntut pengungkapan sejarah luka anak tersebut.

Mereka bukan melukai negara, mamanya, saat mereka mengekspresikan mengenai kesembuhan luka Papua. Kemudian, kita barangkali dengar versinya mereka di saat turun jalan.

We are sorry mama, Jakarta.
We never meant to hurt you
We never meant to make you cry
But today we're cleanin' out Papua’s closet - Ha!

Itu bukan tujuan mereka untuk melukai mama. Mereka lakukan ini karena mama sendiri tidak kasih perhatian kepada anaknya. Mereka menilai ada yang berantakan di sana, di Papua.

Kata ‘perhatian’ yang sebagian orang Indonesia pun Papua sendiri menafsirkan kalau mama Jakarta yang sekarang; perhatian penuh pada infrastruktur, ekonomi, representasi orang Papua duduk di Jakarta, dan perhatian pada penjagaan ketat aparat saat makan kue HUT Yesus atau jelang bulan kelahirannya.

Apakah dropping TNI/Polri banyak di Papua juga termasuk perhatian? Untuk mau mengusir OPM. Sementara OPM sendiri tidak akan pernah padam di hati orang Papua seperti akademisi-akademisi telah mengungkapkan dalam kajian-kajiannya.  

Mama-mama Jakarta pura-pura bermental terbengkalai dengan mengidap Munchausen Syndrome seperti mama EM. Penyakit itu dibuat untuk mekar pemerintahan baru di Papua banyak-banyak. Juga, mama-mama Jakarta rajin kunjungi Papua, sedangkan kemauan anaknya tidak didengarkan. Diberi yang tidak-tidak.

Semua kerja Mama Jakarta adalah kayak memperparah anaknya. Kalau jurnalis-jurnalis dan aktivis HAM bilang ‘Papua sudah sedari dulu kunci mati, tertutup pakai kunci inggris agar anaknya Jakarta - Papua tidak kuasa untuk bicara.” 

Agar orang luar Papua dan asing sekalipun tidak perhatikan pada kesengsaraan Papua. Serdadu datang ke Papua hanya tuk jaga pintu lemari saya berlipat ganda selayak gambar di atas. Mamanya menyembunyikan anaknya, Papua, di ruang tertutup.

Saat anak Papua hampir mau buka pintu lemarinya atau geser sedikitpun, mamanya akan bilang: eh anjing, OPM, tidak tahu pakai baju, monyet, pengkhianat negara, dll. Kata-kata yang memang turun-temurun ini akan keluar. 

Sebuah kebiasaan penjajah biasanya mengungkapkan bila orang jajahannya tidak turuti perintah. Dalam buku novel Max Havelaar (1860), Multatuli menuliskannya saat orang Belanda keluarkan kata-kata tersebut terhadap pribumi saat itu.

Namun, saya tidak terlalu menyebut Jakarta sebagai penjajah, karena masih ada anak-anak dari mama baru akan perhatikan Papua. Seperti tertulis dalam buku Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu, ada banyak orang penjajah (Belanda) mendukung kemalangan hidup orang pribumi, Indonesia dulu.

Papua berani bernyanyi melawan karena Jakarta adalah mama Papua. Ketika Anak bernyanyi I am sorry Mama, anak Papua bukan menyudutkan mama. Tapi waktunya anak Papua untuk membersihkan lemarinya. Hanya untuk ingin mengubur penyakit mama; Munchausen Syndrome.

Semoga mamaku tidak wished me to die, sementara mamaku perhatian penuh kepada om saya yang lain di Timur Tengah di sana, Palestina!