“Ada orang-orang menyangka sayur-sayuran ini tumbuh sendiri! Biar saja dia membeli wortel seharga satu sou per ikat di tempat lain, dasar bajingan pemabuk! Sebentar lagi dia pasti kembali, lihat saja nanti.” – Ungkapan kesal Madam Francois kepada Lacaille.



PAGI ITU, langit gelap. Kupu-kupu kuning itu tak nampak. Ia seakan sedang janjian dengan matahari untuk bersama-sama tak menunjukan wajah mereka.

“Ini pasti konspirasi alam semesta”pikir saya dalam hati, dengan sikap tak peduli. Apapun yang terjadi pada pagi hari, tak masalah. Saya selalu menikmatinya.

Dibalik jendela, butiran air seukuran gula pasir berjatuhan dari langit, semakin lama, semakin cepat.

Dedaunan basah dan terlihat lebih hijau lembut dari biasanya. Cerah dan bersih. Mereka seperti baru saja mandi pagi.

Pagi itu, hujan lebat. Kabut menutupi puncak gunung yang saya kagumi sejak mulai menetap dibawah kakinya yang panjang.

Gunung itu sendiri diberi nama oleh seorang pelaut Prancis. Selain nama gunung, namanya juga dijadikan nama, salah satu bunga yang hidup di sekitaran kepulauan Pasifik.  

Sesaat setelah hujan itu, saya mengirimkan sebuah pesan teks kepada seorang teman: “Saya di Paris sekarang. Sedang bersama Madam Francois. Ia memberi saya tumpangan dan kami sedang menuju ke pasar.”

Ia membalas: “Pulang dari pasar, jangan lupa rekap absen”

Beberapa hari ini, saya nampak malas. Tidak seperti biasanya, rekap absen adalah pekerjaan yang selalu tertunda.

Mungkin ini terjadi karena saya banyak mengalami kehilangan dalam hidup. Untuk kisah-kisah kehilangan ini, saya berjanji akan menceritakannya untuk Anda suatu saat nanti.

“Kami barangkali lebih lama. Madam Francois sedang menawarkan lobak sambil berbincang dengan Mere Chantemesse. Sepertinya mereka sedang bergosip”- jawab saya kepadanya.

Pagi itu, saya tenggelam dalam karyanya Emile Zola, berjudul: The Belly of Paris - Pasar-Pasar Kota Paris (terjemahan).

Nama Emile Zola sering saya jumpai di rak penuh buku dan rapi di Toko Buku Gramedia. Kadang hanya melintasinya, sehingga ia sangat tak asing.

Saya sama sekali mengenal namanya tanpa sedikit punya pengetahuan yang dalam tentangnya. Dengan membaca: The Belly of Paris, saya pikir inilah langkah awal untuk mengetahuinya lebih jauh.

Menggantikan Florent, dalam kisahnya. Seakan-seakan membuat saya terlibat dan menjadi hidup dalam kisah mereka ditengah hiruk-pikuk, aroma pasar di Paris.

Paris kali ini, adalah paris yang dulu. Ia jauh sekali diabad pertengahan. Bukan Paris yang saya kenal sekarang.

Memang sulit menilai dan menggambarkan sebuah kota dari pasarnya. Ketika membaca: The Belly of Paris, sulit berpaling meninggalkan pandangan saya tentang Paris yang sudah berdebu di kepala saya hingga kini: kota penuh cahaya masa depan.

Walaupun begitu, terkadang, saya justru menikmati dua sudut pandang yang saling bertentangan dalam diri saya. Ini adalah pergolakan yang tak biasa. Dua sisi dalam satu tubuh.

Namun sejarah kota adalah sejarah yang tak pernah selesai. Ia selalu tumbuh, walaupun dalam kesemrautan sebelum menemukan bentuk terbaiknya. Dipahat oleh banyak tangan: buruh, insinyur, cendekiawan, penulis, penyair dan diretorik-kan oleh para politisi.

Meminjam pandangan Ackroyd dalam bukunya Andrew Hussey, Paris The Secret History: “sejarah bukanlah narasi pasti, melainkan sebuah dialog yang belum usai.”

Dalam tumbuhnya, kota bukan lagi sebuah keniscayaan. Ia adalah gagasan yang tak pernah habis. Sebuah proses yang terus menjadi.

Kota justru menjadi absurd, ketika secara gagasan, ia menjadi absolut. Jantungnya berdetak, nadinya masih mengalirkan darah, namun sayang, ia terlihat tak berdaya seperti orang mati.

Kerap kali kota-kota kita seperti itu. Ketika kekuasaan jatuh ditangan orang yang tidak berkompeten mengelola kota, kita hanya akhirnya bisa duduk merenung tanpa bisa berbuat banyak.

Pada bagian lain dalam bukunya, Andrew Hussey mengambarkan Paris sebagai sebuah tempat terhormat.

“…kota Paris menarik para cendekiawan, pedagang, politisi dan penyair…Paris tersohor sebagai pusat pembelajaran dan pencapaian seni.” Tentu saja, banyak orang terobsesi untuk datang ke Paris.

Ketika masa awal mengenal Paris, saya lupa, namun seseorang pernah berkata: “Paris adalah tempat paling romantis di dunia.” Walaupun sesekali ia mengubah seseorang menjadi Joker.

Sayangnya, Madam Francois memiliki pandangan lain menurut Florent. Paris dalam kacamata orang pasar seperti seorang Madam, tentu saja, kesan itu jauh dari kata terhormat.

“Tiap kali menyingung tentang Paris, Madam Francois berbicara dengan nada merendah dan menyindir, dan menyebut kota ini seperti tempat yang jauh, konyol, dan hina, yang hanya sudi didatanginya pada malam hari.”

The Belly of Paris, tentu saja menghadirkan satu sudut pandang yang berbeda. Mulai dari Florent, Madam Francois, hingga Monsieur Claude. Saya benar-benar tenggelam dalam pasar di Pasar.

Emile Zola memiliki kemampuan deskriptif yang luar biasa.

Semua hal di pasar, mulai dari, pagi, jalan, bangunan, lampu, jendela, orang-orang, fasion, dinamika pasar sampai dengan kumpulan sayur-mayur dan berbagai jenis kuliner, ia deskripkan dengan sangat menawan. Semuanya, seperti benar-benar hidup.

“Rumah-rumah berdiri berdesakan...dan jendela-jendela sudut yang mencuat keluar seperti perut perempuan hamil...salah satunya diterangi lampu gas tadi, yang memperlihatkan lapisan cat putih yang masih baru dan cerah, bagaikan janda tua yang loyo dengan kulit kendur, dibedaki dan dirias supaya tampak lebih muda…”

Di pasar, lebih banyak penjual membuat pembeli merenung, lalu memikirkan harga, sebelum mengambil keputusan.

Sebaliknya, banyak pembeli yang menang dengan “jalan tengah”. Inilah irama pasar antara penjual dan pembeli.

Kita hanya menemukan sedikit saja pemenang, yang menang secara sepihak. Juga sedikit saja penolakan atau ketidaksetujuan diantara mereka.

Namun, ada hal yang menarik lainnya yang terjadi di pasar, yaitu bagaimana cara orang-orang berinteraksi. Beberapa orang bukan hanya datang membeli, namun saling bercerita, bergosip dan berbagi kemalangannya.

Saya ingat Ibu saya ketika di pasar. Ia akan bercerita berjam-jam, sementara saya hanya kebingungan dan nyaris tertidur karena tidak tahu harus berbuat apa.

Itulah mengapa, mengikuti Ibu ke pasar, selalu tak menarik hati saya.

* * *