Jadi, sebelum kamu membaca cerita ini, aku sarankan untuk menyediakan secangkir kopi. Ingat, jangan pernah ada gula. Biarkan kata-kata dalam cerita ini sendiri yang menjadi pemanisnya.

Aku akan memulainya.

Ketika itu rembulan masih menjadi bagian mutlak dari pagelaran alami kehidupan. Aku masih terlela. Mimpi, tapi emak tidak. Ia sudah meneteskan air matanya sebagai prangko untuk surat wajibnya kepada Tuhan. 

Bersyukur atas kehidupan dan aku yang selama ini menjadi satu-satunya alasan untuk tersenyum, untuk menangis, untuk tertawa, untuk kepanasan, untuk kehujanan, untuk kedinginan, asal bisa memastikan aku merasakan cukup kehangatan, untuk hidup. 

Ketika itu embun masih menempel di daun-daun talas di sekitar rumah kayuku yang mulai lapuk oleh waktu. Aku tetap tidak beranjak. Tetapi sudah terbangun. Emak sendiri sudah berkutat dengan singkong rebus andalannya.

Sederhana. Nantinya, singkong rebus itu akan ditumbuknya sedemikian rupa sebelum dibubuhi parutan kelapa dan gula. Dikemasnya dengan plastik-plastik kecil, ditatanya kedalam keranjang besar dari anyaman bambu, dijualnya ke pasar desa. Getuk.

Terkadang saat emak akan berangkat, emak akan mengusap air matanya terlebih dahulu.

“Eeh, si gundik mau jualan.” 
“Ah, paling-paling mau menjual tubuhnya lagi.”
“Namanya juga lacur.”

Atau,

“Cantik-cantik kok gundik.”
“Hei, lihat. Itu anaknya si gundik, cacat."
”itu namanya azab. Gitu aja kok ndak tahu.”
“Makanya, jangan sampai jadi gundik.” 
“Ya, nanti anaknya cacat lho.” 

Aku tidak tahu dengan pasti kenapa kehidupan yang diberikan Tuhan kepada emak harus berupa air mata!

Ah, Tuhan memang selalu punya cara tersendiri. Skenario yang dibuat-Nya memang sulit ditebak. Mungkin benar jika apa yang sudah diberikan Tuhan, apa pun itu, adalah salah satu cara mengajarimu lebih dari lembar buku.

"Hidup orang seperti kita ini hanyalah bagaikan meminum air garam di tengah-tengah kemarau panjang, anakku." Kemudian emak menangis.

Lagi-lagi air mata. Aku sendiri sebal dengan tangis emak. Kenapa bukan aku, anaknya sendiri, yang mengusap air matanya?

Seperti biasa, tepat ketika matahari sudah di atas kepala, emak akan menaruh sepeda kumbang kebanggaannya dengan asal-asalan, menghampiriku dengan menenteng keranjang besar dari anyaman bambu yang berisi hasil penjualan yang selalu tidak menentu. Mencium keningku. Tersenyum .

Nah, mulai dari sini. Biarkan emak yang bercerita.

“Hari ini sudah jatuh tempo.”
“Tapi kami belum punya uang.”

"Saya tidak mau tahu. Akh, dasar kere."

Itu mimpi buruk pertamaku.

“Bur. Udah, ambil aja semua barang berharga mereka, jangan lupa sertifikat tanahnya.” 
“Bang tolong bang. Jangan diambil.

Dan seperti cerita-cerita pada umumnya yang kuat, yang berkuasa. Bapak tersungkur muntah darah.

"Bapaaaak!. Putrimu cantik juga Kasmin. Persis seperti Karsih yang kau rebut dariku.” 

Kalian pasti sudah mengetahuinya.  Hari itu, aku melihat bagaimana manusia melampaui binatang. Dan seperti cerita-cerita pada umumnya, aku adalah mangsa. 

Bapak hanya bisa menangis melihat aku putrinya dilecehkan di depan matanya sendiri. Bapakku yang renta. Jika kalian bertanya bagaimana perasaanku saat itu, aku yakin, kamu juga bisa merasakannya meski tidak akan pernah sama.

Itu yang kedua. Setelah kejadian itu aku sering, muntah-muntah. Bapak lebih sering diam. Sampai kemudian benar-benar diam. 

"Kasihan pak kasmin. Mati menanggung malu. Lihat itu perut anaknya."

“Anak tak tahu diuntung ya, dasar gundik.”

Ada beberapa kata yang tidak bisa diungkapkan, ada beberapa kalimat yang tidak bisa dituliskan. Dan di situlah doa berperan sebagai cara mengikhlaskan. 

Ya Tuhan, siksa aku. Jika dengan begitu engkau beri kenikmatan pada nyawa yang engkau tanam di rahimku. Tuhan, makhluk kecil ini tidak tahu, tapi aku tahu, sedang engkau lebih tahu.

Dan seperti cerita-cerita pada umumnya kelak, hidupku merupakan serangkaian-serangkaian air mata. 

Langkah Emak 

Jinak dicari, lari tak berarti
Tambah mentari, tambah berisi
Seperti padi yang berubah jadi nasi
Untuk menatap sang Ilahi 
Petuah kehidupan
Berlari begitu saja
Tanpa paksaan, tanpa rekaan
Yang ada hanya keikhlasan
Menuju masa depan
Yang menjaga diri
Dengan kaki kokoh berdiri
Tanpa keraguan dalam hati 

Emak 

Berlaksa gemintang di gugus bening langit
Cukuplah bagi bertasbih atas segala karunia 
Maka ampuni bila isakkku tercekat
Engkau pasti mendengar gema syukur
Terbata dari belantara nurani
Betapa syahdu peluhku terus menetes mencipta telaga
Dimana kepasrahan dapat berenang mengarungi tuah-Mu
Menuju tujuan penuh berkah
Adalah hidup berlumur rida dan ampunan

Duhai sang jabar penguasa kemegahan Arsy
Jadikanlah hati emak sebuah bejana
Agar tersimpan kalam-Mu
Yang ku pungut satu demi satu 
Itulah yang aku bawa
Kelak aku kembali
Jadikanlah hati berpendar cahaya
Sebagaimana engkau terangkan dunia,
Sebab alangkah pedihnya dalam kegelapan
Langkah ini kau membeku 

Harapan Emak

Sajaknya berlagu
Prolog menjadi epilog
Panas mendidihkan darah
Terik menembus kalbu
Satu.. derap langkah 
Enggan berhenti
Walau..
Badai merombak patung liberti
Nyata
Di hadapanku..