Majalah TIME beberapa saat lalu memilih dia sebagai Person of the Year 2021. Usianya 50 tahun, followers di Twitter lebih 60 juta, dan dia sekarang orang terkaya sedunia, dengan total harta pribadi mendekati empat ribu triliun rupiah (USD 260 miliar). Dia tahun ini membayar pajak penghasilan hampir dua ratus triliun rupiah, suatu jumlah yang tak pernah didekati oleh siapa pun sepanjang sejarah pencatatan pajak modern. Predikat yang kini diberikan kepadanya oleh pers Amerika adalah celebrity zillionaire dan charismatic genius.

Seperti Steve Jobs, pendiri Apple, uang sebenarnya tidak banyak berarti buat dia. Obsesi Elon Musk adalah pada dunia ide dan penciptaan, pada sebuah cita-cita yang mungkin bagi orang biasa agak berbatasan dengan utopia. Sambil mencari solusi dalam masalah iklim, energi, dan transportasi, dia berusaha mendorong manusia setahap lebih jauh, tidak lagi terikat di bumi. Dia ingin membuat koloni di Planet Mars dan menciptakan sebuah peradaban baru, a planet-fearing civilization.

Ptolemy, ahli astronomi dan matematika Yunani Kuno di Alexandria, pernah berkata bahwa saat dia merenungkan esensi sebuah segitiga atau menghitung garis orbit sebuah planet di angkasa, “…tubuhku tak lagi menyentuh bumi… melayang bersama Zeus aku mengunyah ambrosia, santapan para dewa.” Elon Musk kurang lebih adalah tipe manusia seperti ini, walaupun kegemarannya adalah pada bidang rekayasa atau keinsinyuran. Ketika terlibat dalam proses penciptaan, dia akan moksa, menghilang serta menyatu dalam abstraksi persoalan yang dihadapinya.   

Elon Musk, dalam dunia teknologi, sejak beberapa tahun terakhir sudah dianggap sebagai sebuah ikon, pengganti Steve Jobs yang meninggal tepat satu dekade silam. Dari semua tokoh yang sekarang berada dalam persilangan antara teknologi dan kapitalisme, dia adalah sosok yang sui generis, agak unik, terutama pada kedalaman teknis maupun pemahaman intelektual terhadap hal-hal yang ditelusurinya, seperti teknologi mobil listrik, roket ruang angkasa, dan advance manufacturing. Dalam hal ini, barangkali hanya beberapa nama dalam sejarah – Thomas Edison dan Nicolai Tesla – yang bisa dimasukkan dalam kategori yang sama.

Elon Musk bukan sosok yang suka menyenangkan semua orang. Pandangannya bisa disebut tekno-libertarian, sedikit anarkis. Tetapi sejauh ini kredibilitasnya bersandar pada perbuatan atau pencapaian yang berhasil diraihnya. Dia percaya pada ilmu pengetahuan (khususnya fisika) dan kreatifitas individual, bukan pada peran dan regulasi pemerintah. Walaupun didekati oleh kaum politisi di Washington DC., dia selalu mengambil jarak dengan politik dan dunia pemerintahan.  

Dalam satu hal, kemunculan sosok seperti Elon Musk adalah sebuah tribute pada kebebasan, keterbukaan, dan dinamisme Amerika Serikat. Sosok seperti dia hanya bisa bertemu lahan subur di Negeri Paman Sam ini. Imigran keturunan Afrika Selatan, pada usia 17 tahun dengan kantong kosong hanya berbekal beasiswa, dia belajar fisika dan ekonomi di University of Pennsylvania – salah seorang profesornya berkata bahwa Elon selalu berpikir seperti seorang logician, “moving from one point to the next with precision.” Dia kemudian merambah karir dari nol di Lembah Silikon, California. Di sinilah dia bertemu berbagai kesempatan, merebut masa depannya sendiri, dan menggapai puncak kehidupan.

Apapun yang bisa dikatakan tentang berbagai kelemahan Amerika saat ini, ekosistem yang terbuka pada semua orang seperti itu adalah sebuah kekuatan yang belum tertandingi oleh negeri mana pun.

*

Sebagai manusia, dengan tubuh lumayan tinggi, agak berisi, plus rambut yang kadang dicukur cepak, Elon Musk sebenarnya agak sederhana. Ketika tampil ke depan umum, dia biasanya hanya memakai celana jins dan kaos oblong. Dia terkadang berhari-hari tidur di sofa pabrik Tesla di California, terlibat langsung mencari solusi teknis bersama kaum insinyur lainnya. Sampai saat ini dia masih menginap beberapa hari dalam seminggu di trailer kaum pekerja di Boca Chica, kota kecil di ujung paling selatan Texas – tempat ini dia sebut techno monastery, biara kaum teknolog – di mana tim SpaceX membuat roket generasi terakhir, Starship.   

Dia memiliki jet pribadi dan helikopter. Tapi buat dia “kendaraan” ini adalah sebuah keniscayaan untuk terlibat aktif dalam proses produksi Tesla yang tersebar di tiga benua, sambil menyediakan waktu memadai untuk merawat enam anaknya (putranya yang bungsu masih berusia 18 bulan). Ruang kantornya sendiri hanyalah sebuah sudut yang berbentuk cubicle di Hawthorne, Los Angeles, markas SpaceX. Dia bekerja praktis tujuh hari dalam seminggu.

Kemampuan hidup spartan ini mungkin terbawa dari masa kecilnya yang sulit di Pretoria, Afrika Selatan. Sejak usia tiga tahun ibunya sudah memanggil dia dengan sebutan boy genius, namun ayahnya agak brutal – sampai sekarang dia tidak lagi berhubungan dengan sang ayah. Karena itu, dia tumbuh hingga masa remaja dalam dunia dan imajinasi yang dibangunnya sendiri, khususnya di bidang komputer.

Selain komputer, dia juga sering tenggelam dalam bacaan dari berbagai penulis kegemarannya, antara lain Isaac Asimov dan JRR. Tolkien. Saat remaja, dia mulai berkenalan dengan dunia filsafat, lewat Nietzsche dan Schopenhauer – saat ini, buku yang menjadi favoritnya adalah dua karya Walter Isaacson (biografi Benjamin Franklin dan Steve Jobs).

Pengalaman masa kecil dan remaja ini menumbuhkan dalam diri Elon Musk daya tahan, resilience, serta kemampuan intelektual yang luas dan mendalam bagi anak seusianya. Hal inilah yang menjadi modal dia ketika meninggalkan Afrika Selatan, pertama ke Kanada dan kemudian ke AS.  

Kisah sukses dia setelah itu adalah cerita klasik anak muda inventor yang jatuh bangun dalam dunia penciptaan dan disrupsi. Setelah sukses dengan Zip2 dan Paypal – dua perusahaan yang mengawali era business mapping dan fintech – dia kemudian mempertaruhkan segalanya untuk mengejar mimpi masa kecilnya, dengan mendirikan perusahaan roket luar angkasa, SpaceX (2002) dan mobil listrik, Tesla (2003).  

Saat Elon Musk memulai kedua usaha baru ini, hampir semua orang mencibir dan menganggap dia agak gila. Dia sendiri berkata bahwa “my chance of success was probably less than ten percent, but what the heck, I’d do it anyway.”

Industri mobil dunia didominasi oleh perusahaan raksasa yang sudah malang-melintang lebih seabad, seperti GM, Ford, Daimler-Benz, Toyota. Di Amerika Serikat, perusahaan mobil “termuda” lahir hampir seabad silam, Chrysler (1925). Dengan jutaan pekerja, puluhan ribu insinyur, dan rantai produksi global, industri ini bagaikan benteng kokoh yang hidup dalam dunianya sendiri, tak mungkin ditembus oleh pemain baru dari mana pun, apalagi oleh sebuah perusaan startup kecil seperti Tesla yang waktu itu hanya didukung oleh sebuah konsep plus sekian juta dollar.

Dalam dunia roket dan antariksa, hal yang sama juga dihadapi Elon Musk, malah mungkin dengan tantangan yang jauh lebih sulit lagi. Sektor ini biasanya dianggap wilayah presiden, perdana menteri, sekertaris jenderal, lembaga parlemen, bukan urusan individual dan bisnis swasta. Pelaku dominan di sektor ini bukan perusahaan, tetapi negara adikuasa seperti AS, Rusia (Uni Soviet), dan China. Selain itu, era roket dan eksplorasi antariksa sudah lebih setengah abad, dan setelah peluncuran Apollo 11 ke bulan membawa Neil Armstrong dan Buzz Aldrin pada 1969, teknologi dan kemampuan manusia untuk bergerak lebih jauh lagi seolah berputar di tempat, atau malah makin surut.

Jadi singkatnya, posisi Elon Musk pada awalnya bagaikan mini David berhadapan dengan super Goliath. Manusia biasa pasti menjauh dari posisi seperti dia, mencari zona nyaman atau tantangan yang jauh lebih masuk akal.

Pada tahun-tahun pertama, Elon Musk, seperti dugaan banyak orang, memang terjebak dari satu kesulitan ke kesulitan lainnya. Tiga roket pertama (Falcon) yang dia luncurkan di Kwajalein, sebuah atol kecil dekat Kepulauan Marshall di Lautan Pasifik, gagal dan meledak di langit. Target dan produksi Tesla demikian pula. Malah, saat krisis ekonomi 2008, nasib Elon Musk hanya berjarak dua atau tiga hari dari kebangkrutan total, dan menurut kawan-kawan terdekatnya, dia mengalami depresi yang menggoyahkan saraf-sarafnya selama beberapa hari itu.

Setelah hari-hari paling gelap tersebut, situasi dia kemudian membaik, dengan berhasilnya peluncuran keempat SpaceX. Lembaga antariksa AS (NASA) kemudian meneken kontrak awal sekitar dua miliar dollar, dan setelah itu baik SpaceX maupun Tesla meluncur dari satu sukses ke sukses berikutnya.

Tiga tahun silam SpaceX berhasil membuat roket kapasitas besar (Super Heavy Falcon) yang mampu meluncur turun kembali dan dapat digunakan berkali-kali, suatu hal yang belum bisa dilakukan negara atau perusahaan mana pun, sementara saham Tesla melesat lebih dua puluh kali lipat dan pada akhir 2021 berhasil menembus valuasi satu triliun dollar – dengan nilai seperti ini, Tesla menjadi satu dari enam perusahaan terbesar AS, lebih besar dibanding Toyota, GM, dan Daimler-Benz digabung jadi satu.

Keberhasilan inilah yang membuat Elon Musk menjadi tokoh terkaya sedunia sejak pertengahan tahun silam. Tapi lebih dari itu, Tesla, dan terutama SpaceX, saat ini dianggap sebagai perusahaan yang paling maju dan paling canggih dalam dunia teknologi dan keinsinyuran. Kaum insinyur muda yang baru lulus dari berbagai perguruan tinggi terbaik dunia saat ini bermimpi untuk bisa bekerja bukan lagi di markas Apple atau Microsoft, tetapi di Hawthorne dan Boca Chica.

*

Elon Musk tidak akan berhenti dengan sukses yang telah diraihnya sejauh ini. Mimpi dia untuk membuat koloni di Mars mungkin masih belum terlalu jelas dalam tingkat pengetahuan serta teknologi yang ada sekarang, tetapi beberapa inisiatifnya yang lain sudah mulai mengundang perhatian, khususnya dalam soal kecerdasan buatan (AI) dan penciptaan interface antara otak dan komputer.

Tapi barangkali dalam waktu cukup dekat ini disrupsi lain yang akan lahir dari tangannya adalah di sektor transportasi jarak jauh lewat roket Starship serta dalam penyediaan internet yang stabil dan cepat bagi semua orang di semua belahan dunia lewat program Starlink.

Starship memang didesain untuk perjalanan ke Planet Mars, atau ke bulan. Namun kemanfaatannya yang langsung bisa mengubah pola perjalanan manusia adalah manakala roket raksasa gaya baru ini mampu mengangkut 100 penumpang, meluncur 500 km ke LEO (low earth orbit) dan “turun” atau mendarat lagi di bumi dengan aman. Pada tingkat konseptual ia masuk akal, dan eksperimen untuk ini sudah siap dilakukan oleh SpaceX dari Boca Chica pada tahun ini hingga tiga tahun ke depan.

Kalau berhasil, kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Kita bisa berangkat dari Jakarta menuju San Fransisco di Pantai Barat AS dalam waktu tempuh hanya 45 menit (dengan pesawat Boeing 747, waktu tempuh normal adalah 20 jam). Mereka yang ingin berangkat dari New York ke London hanya membutuhkan waktu 15 menit. Dalam sehari, kita bisa makan pagi, makan siang, dan makan malam di ujung tiga benua yang berjauhan.

Kalau harga tiket per orang tidak berbeda dengan harga tiket kelas bisnis pada penerbangan normal (sebagaimana rencana SpaceX saat ini), maka yang akan terjadi adalah disrupsi total penerbangan jarak jauh manusia: Starship akan berperan seperti Boeing atau Airbus berbadan lebar yang ada sekarang, dan kota-kota besar di seluruh dunia akan membangun bandara tipe baru yang sesuai dengan spesifikasi Starship.

Dalam soal program Starlink dan internet, tahap yang tercapai hari ini sudah tidak lagi berada di tingkat konseptual. Lewat roket Falcon 9, SpaceX sudah meluncurkan 1.800 satelit komunikasi generasi terbaru di LEO. Dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan, jumlah satelit ini akan mencapai 42.000 unit, bergerak cepat mengitari bumi dan terhubungkan satu sama lain dengan sinar laser.

Dengan semua itu, seluruh permukaan bumi secara potensial bisa terhubungkan dengan jaringan internet yang cepat dan stabil, dengan latensi rendah. Sekarang di Amerika Serikat, setelah beberapa bulan diluncurkan, pelanggan Starlink sudah lebih 100 ribu orang (dengan daftar antrian yang jauh lebih banyak lagi).     

Di Indonesia, SpaceX lewat unit Starlink sudah membangun kerjasama dengan PT. Telkom dan Telkomsat (untuk pertama kalinya di dunia, SpaceX membangun partnership dengan unit usaha lain semacam ini). Kerja sama ini adalah untuk pelayanan backhaul jaringan Telkomsel. Kalau terlaksana dalam waktu dekat, dampak langsungnya di masa mendatang akan sangat berarti: seluruh wilayah dari Sabang sampai Merauke, di tengah hutan, puncak gunung, atau pulau-pulau terpencil sekali pun, bisa terhubungan dengan internet cepat dan jaringan 4G sepenuhnya.

Di negara lain pada masa mendatang kemungkinan besar hal yang sama akan terjadi juga. Sejauh ini, praktis masih 60 persen manusia belum terhubungan oleh jaringan internet. Karena itu, jika rencana Elon Musk lewat program Starlink memang pada akhirnya berhasil, dunia akan memasuki era digital dalam pengertian yang sesungguhnya, jauh lebih masif dari perkembangan yang sudah kita alami sejauh ini.

Sekarang saja, hanya dengan 40 persen manusia terkoneksi jaringan internet, perubahan dan pertumbuhan ekonomi digital sudah luar biasa cepat. Bisa dibayangkan disrupsi apa yang akan terjadi dalam satu dekade ke depan jika “pancaran gelombang” Starlink sudah dapat dinikmati di sudut bumi mana pun.

Khusus buat Elon Musk, semua itu tentu akan menempatkan dia dalam posisi yang lebih unik lagi. Majalah TIME barangkali tidak akan menyebut dia sebagai Person of the Year, tapi Person of the Century. Dia akan dikenal sebagai manusia abad ini. Jumlah kekayaan pribadinya pasti akan tumbuh berlipat, meninggalkan Jeff Bezos, Marc Zuckerberg dan tokoh papan atas lainnya semakin jauh.

Dalam hal ini, saya tidak akan heran jika akan ada satu atau beberapa historians of the rich and famous tergerak untuk melihat dan membandingkan peran tokoh-tokoh yang pernah bertengger di puncak kekayaan dunia, mulai dari keluarga Fugger dan Medici di Eropa pada abad pertengahan, atau Rockefeller, Carnegie, dan Vanderbilt di Amerika pada abad ke-20.

Dugaan saya, dari semua daftar ini, perbandingan yang paling menarik adalah antara Lorenzo de’ Medici dan Elon Musk: tokoh yang satu hidup di Florensia lebih lima abad silam, menjadi patron Machiavelli, Boticelli, dan Leonardo da Vinci, dan dengan itu turut mengantarkan Eropa meninggalkan abad gelap dan masuk ke zaman renaisans; tokoh yang satunya lagi hidup di Amerika, lewat karya dan imajinasinya dia turut mengubah dunia kita sekarang, membuka berbagai kemungkinan baru untuk mewujudkan peradaban universal yang lebih menyatu, tech-savvy, serta bergerak lebih cepat.

Tokoh-tokoh seperti mereka berdua memiliki tempat tersendiri dalam sejarah. Kita cukup beruntung bisa menyaksikan salah seorang di antaranya, dan lewat Youtube atau Twitter, mengikuti sepak terjang atau perjalanan kreatif dia yang mengagumkan.   

2 Januari 2022