Manusia tidak pernah kehabisan akan ambisi, baik itu ambisi untuk memiliki kekayaan yang melimpah, kekuasaan, atau ambisi untuk menjelajah dunia. Ketika hampir setiap jengkal bumi telah dijelajahi, manusia mengalihkan perhatiannya ke luar angkasa, terbukti dengan pengiriman satelit dan manusia ke luar angkasa serta pendaratan di bulan.

Sejauh ini hal ini tidak terlepas dari peran negara dan dibantu oleh sifat kompetitif negara-negara untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat dan memiliki teknologi yang paling canggih. Lantas, dimana peran individu dalam petualangan antariksa selain sebagai agen pendukung ambisi negara?

Jawabannya ada pada Elon Musk, seorang individu yang dapat disandingkan dengan negara dalam ambisinya menjelajahi luar angkasa. Sejarah mencatat hanya ada empat entitas yang berhasil meluncurkan kapsul antariksa ke orbit dan sukses membawa kapsul tersebut kembali: Amerika Serikat, Rusia, China, dan Elon Musk!

Elon Musk mendirikan SpaceX, sebuah perusahaan manufaktur dan peluncur roket dan transportasi antariksa yang bertujuan mengurangi harga transportasi antariksa dan juga bertujuan besar mengolonisasi Mars demi mencegah kepunahan manusia.

Ia juga mendirikan perusahaan-perusahaan lainnya seperti jasa pembayaran daring Paypal (yang ia jual ke Ebay), lalu penyedia jasa panel surya SolarCity dan perusahaan mobil listrik Tesla Motors  (yang berinovasi dengan menciptakan varian self-driving car!). 

Perusahaan-perusahaan ini ia dirikan dengan visi mengubah dunia dan umat manusia dengan mengurangi dampak pemanasan global melalui produksi dan konsumsi energi terbarukan.

SpaceX merevolusi dunia antariksa dengan mengurangi harga peluncuran roket yang sebelumnya membutuhkan uang sebanyak 100-200 juta dolar Amerika menjadi 200 ribu dolar Amerika, yaitu hanya sepersepuluhnya! Hal ini membuka kemungkinan bagi perjalanan antariksa yang lebih terjangkau bagi individu.

Lalu apa kunci dari kesuksesan Elon Musk dalam mewujudkan ambisinya? Mengutip Jim Cantrell, salah seorang dari tim pendiri SpaceX yang berpengalaman bekerjasama dengan Elon Musk:

“So I am going to suggest that he is successful not because his visions are grand, not because he is extraordinarily smart and not because he works incredibly hard.  All of those things are true.  The one major important distinction that sets him apart is his inability to consider failure.  

It simply is not even in his thought process.  He cannot conceive of failure and that is truly remarkable.  It doesn't matter if It’s going up against the banking system (Paypal), going up against the entire aerospace industry (SpaceX) or going up against the US auto industry (Tesla). He can't imagine NOT succeeding and that is a very critical trait that leads him ultimately to success.”

Elon Musk tidak terjebak pada inersia kognitif yang membuat manusia memiliki kecenderungan untuk hanya bergantung pada asumsi-asumsi familiar dan tidak berusaha mengubah status quo yang ada. 

Tentunya ia tidak akan sesukses sekarang kalau ia tidak yakin akan potensi-potensi individu untuk mencapai kehebatan, ia tidak akan mendirikan SpaceX dan meluncurkan roket ke angkasa kalau ia tidak yakin bahwa ia dapat bersaing dengan NASA dan negara-negara besar lainnya.

Banyak orang mungkin tertawa dengan ambisi Elon Musk untuk mengolonisasi Mars, tetapi ratusan tahun kemudian mungkin anak cucu kita yang tinggal di Mars yang akan tertawa mendengar pesimisme nenek moyangnya. 

Butuh ambisi dan cita-cita besar untuk mendorong kemajuan bagi umat manusia, di mana ambisi dan cita-cita tersebut tidak harus selalu “realistis”. Be like Elon Musk, who is unwilling to accept failure when failure is not yet absolutely guaranteed.

Referensi: