Dalam rangkaian dengan Jakarta Bienalle, Erasmus Huis bekerja sama dengan Kebun Raya Bogor mengadakan pameran karya-karya seniman Herman De Vries untuk pertama kalinya di Indonesia. Pameran ini dibuka pada tanggal 7 November 2015 jam 16.00 WIB.

Herman De Vries merupakan seniman terkemuka kelahiran Belanda. De Vries disebut-sebut sebagai pelopor seni ekologi. Terlatih sebagai ahli hortikultura dan ilmuwan alam, De Vries tentu memiliki pengetahuan sangat memadai bukan hanya tentang tanaman namun juga budaya serta memiliki semangat bepergian yang sangat besar.

De Vries sebenarnya sangat ingin pergi ke dan bekerja di Indonesia namun hingga saat ini keinginan itu belum terwujud. Pameran ini, dalam banyak hal, dianggap dapat mewakili hasrat De Vries yang belum tercapai tersebut.

Sebelum pameran dibuka, diadakan kuliah umum tentang ekologi dan persentuhannya dengan karya Herman De Vries yang diberikan oleh Role Arkesteijn seorang dosen dan kurator asal Belanda yang dilanjutkan dengan kuliah umum tentang lingkungan dan seni oleh seniman asal Indonesia, Tisna Sanjaya.

Menurut Role Arkesteijn, instalasi De Vries yang ditampilkan sebenarnya mengusung elemen-elemen dasar alam yang sangat sederhana seperti buah-buahan bumbu dapur, beras, kendi, alat-alat pertanian seperti clurit dan alat penumbuk padi. Keseluruhan elemen-elemen dasar alam itu dikonstruksi De Vries dengan memainkan unsur-unsur seperti ruang, cahaya sehingga menjadi sebuah instalasi seni.

Bagi De Vries, sesungguhnya seni dapat menyatu dengan alam. Ecological Art dapat mengingatkan kita pada keterhubungan seni, manusia dan alam. Instalasi-instalasi dalam ecological art dapat mengingatkan manusia kembali untuk menyadari pentingnya hal-hal remeh temeh yang ada pada alam bagi kehidupan manusia.

Ecological Art juga dapat dimaknai secara politis sebagai ekspresi untuk mengingatkan pemerintah dan masyarakat pada isu-isu lingkungan seperti konservasi, pencemaran dan lain-lain. Instalasi De Vries mengajak guna merasakan kembali spirit saling terkaitnya hubungan manusia dan lingkungan, dengan materi-materi yang sering diremenhkan manusia.

Benda-benda alam yang sering kita abaikan dan bahkan buang itu sebenarnya indah. Karya-karya seniman kelahiran Alkmaar tahun 1931 itu sendiri, menurut Arkesteijn, bermakna ambivalen. Di satu sisi De Vries tidak secara eksplisit memasukkan pesan-pesan lain di dalam karya seninya namun di sisi lain, komposisi-komposisi yang ditampiklan De Vries dapat menimbulkan interpretasi historis, politis dan lain-lain.

Hal itu terlihat pada komposisi pala beserta rempah-rempah lain yang ditampilkan di pameran kali ini. Instalasi rempah-rempahan seperti pala yang ditampilkan di lingkungan Kedutaan Belanda di Indonesia tentu bisa mengingatkan kembali para penonton tentang salah satu motif orang-orang Belanda 350 tahun lalu datang ke Nusantara, untuk mencari rempah demi tujuan ekonomi.

Seniman Indonesia Tisna Sanjaya mengungkapkan bahwa terdapat persamaan karya-karyanya dengan Herman De Vries yakni kerinduan pada keseimbangan alam. Pria kelahiran Bandung tersebut menceritakan beberapa proyek-proyek seni yang pernah ia lakukan seperti, melukis di Sungai Citarum di sekitar area pabrik-pabrik yang limbahnya mencemari sungai.

Seniman lulusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini juga pernah membuat komposisi dengan medium tanah di sekitar Sungai Cikapundung. Di sekitar sungai Cikapundung terdapat banyak masjid dan unviersitas namun sungainya kotor sekali sehingga dijuluki oleh pria kelahiran Bandung 28 Januari 1958 tersebut sebagai septitank terpanjang.

Tisna mengkritik seolah tidak adanya korelasi antara intelektualitas yang dihasilkan universitas-universitas di sekitar sungai itu dengan kesadaran lingkungan. Seharusnya intelektualitas menghasilkan kesadaran lingkungan.

Sebagaimana krtiknya pada universitas-universitas yang seolah tidak mampu menghasilkan korelasi antara intelektualitas dengan kesadaran lingkungan, Tisna juga mengkritik seakan-akan tidak ada keterkaitan antara spiritualitas dengan kesadaran lingkungan.

Hal itu ditunjukkan oleh kotornya sungai di tengah banyaknya masjid di sekitar sungai Cikapundung. Menurut Tisna, persamaan pesan dari karyanya dengan karya De Vries adalah hentikan kekerasan terhadap alam.

Instalasi-instalasi yang ditampilkan pada pameran ini sangat menarik, De Vries mampu merancang benda-benda sederhana menjadi sebuah komposisi apik dengan meletakkannya pada cahaya dan ruang yang mengeksplorasi keindahannya.

Bagi penonton awam, karena materi-materi yang ditampilkan De Vries pada karya ini adalah benda-benda keseharian seperti deretan clurit, deretan bambu, alat penumbuk padi yang diletakkan di bawah dan kumpulan rempah yang dletakkan di dalam nampan , maka tentu dapat timbul kesan, “Deretan benda kayak gini aja kok bisa jadi seni sih?”

Selain itu, untuk di Indonesia, menyampaikan pesan lingkungan lewat medium seni, dapat dipertanyakan efektivitasnya. Minat orang Indonesia pada karya seni saja patut dipertanyakan apalagi berusaha menggugah kesadaran lingkungan melalui ekspresi seni. Apakah itu tidak seperti mengajarkan filsafat memakai bahasa Yunani kepada audiens yang berbahasa Jawa?

Akhirnya, dengan menonton pameran ini kita dapat memahami nilai-nilai dasar karya Heman De Vries. Pameran ini juga mengajak kita menikmati kembali benda-benda sederhana yang terabaikan dalam kehidupan sehari-hari dalam sebuah rangkaian indah sembari merenungkan betapa telah bermanfaatnya benda-benda itu pada kita manusia dalam kehidupan sehari-hari serta memanggil kembali memori romantisme hubungan manusia dengan alam.