Bagi yang merasakan hidup di era 90-an, kiranya pernah mendengar lagu epic yang dilantunkan Dhea Ananda yang berjudul "Surga di Telapak Kaki Ibu". Lagu yang mengisahkan perjuangan ibu selama 9 bulan mengandung si jabang bayi, melahirkan dan menyusui serta merawat anaknya hingga dewasa.

Dalam salah satu bait liriknya juga terdapat larangan untuk durhaka karena akan mendapatkan siksa neraka serta ajakan untuk selalu berbakti sehingga di akhirat mendapatkan surga.

Telapak kaki adalah bagian terendah dari tubuh manusia, suatu akar, suatu pondasi dan keberpijakan, suatu asal usul atau permulaan. Permulaan manusia menjalani kehidupan adalah saat pertama kali mereka dilahirkan ke dunia, saat di mana jam pasir yang menghitung mundur bulir-bulir usia manusia mulai ditegakkan.

Sigmund Freud, bapak psikoanalisa, dalam postulatnya menyebutkan bahwa prototype kepribadian anak terbentuk pada masa lima tahun awal kehidupan, saat ini sering disebut dengan isitilah The Golden Age. 

Pada rentang lima tahun awal ini terdapat tiga fase kritikal sebagai penanda, antara lain: fase oral, anal dan fase falik. Pada fase pertama dan kedua, sosok ibu adalah pemeran utama tiada tanding dalam kisah awal kehidupan anak. Sedangkan pada fase ketiga, terdapat peran bapak yang turut menyertai hegemoni peran ibu.

Tiga peran ibu dan satu peran bapak, sesuai dengan hadis nabi Muhammad yang mengatakan bahwa "tiga kali ibumu baru bapakmu".

Peran ibu yang begitu besar inilah, tiga berbanding satu dengan peran bapak, membuat pengaruh ibu atas pembentukan kepribadian dan karakter anak sangat mendominasi. Ibu memiliki peran yang begitu sakralnya hingga Tuhan menganugerahkan baginya kemampuan untuk mendesain bagian terdalam dari sistem kejiwaan anaknya.

Mau dibuat seperti apapun bisa, menjadi anak bertabiat baik ataupun bertabiat buruk, atau bila tidak mau terlalu bipolar, pun ibu memiliki kuasa untuk membentuk anak dengan spectrum kepribadian antara baik dan buruk a.k.a seimbang.

Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Segala tingkah laku ibu, mulai dari yang kurang berarti seperti mengupil hingga yang sangat berarti seperti memasak makanan untuk dihidangkan dan disuapkan pada buah hatinya, semuanya memiliki arti dalam dinamika kepribadian anak.

Itulah hakikat dari ungkapan surga di bawah telapak kaki ibu, bahwa ibu adalah sosok pertama dalam kehidupan anaknya, satu-satunya manusia yang memiliki peran begitu dahsyatnya dalam pembentukan inti kejiwaan anaknya.

Bila didikan ibu baik serta contoh-contoh yang ditampilkan baik dan disertai dengan kasih sayang yang tulus niscaya akan terbentuk prototype kepribadian anak yang baik pula dan anak yang baik identik dengan kebahagiaan atau yang dalam versi akhirat, populer disebut surga. Dan sebaliknya.

Lalu bagaimanakah dengan kesempitan pola berpikir yang menjabarkan istilah surga di bawah telapak kaki ibu sebagai suatu bentuk passive obedience seorang anak terhadap kehendak sang ibunda?

Henry Murray dalam teori kebutuhannya menyatakah bahwa manusia sejak lahir memiliki kebutuhan akan kemandirian. Kebutuhan ini meliputi berbagai upaya untuk menjadi bebas, melawan paksaan dari orang lain, menghindari penguasaan orang lain atas dirinya, membuat keputusan sendiri serta menolak campur tangan orang lain.

Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya ingin memiliki kuasa atas dirinya sendiri, kepatuhan pasif pada kehendak orang lain, atau dalam hal ini ibu. Dengan mengorbankan kebutuhan dan keinginannya sendiri tentu saja akan memiliki dampak psikologis yang buruk bagi diri si anak.

Kita ambil contoh. Misalnya seorang anak gadis mencintai seorang pemuda tampan yang berprofesi sebagai dokter, tetapi ibunya melarang karena pemuda tersebut berbeda suku.

Sang gadis dengan lunglai dan mengidap ancaman depresi, mengiyakan kemauan ibunya dan merasionalisasikan hal tersebut sebagai bagian dari ladang pahala guna mencari keridhaan Tuhan yang akan membawa pada surga.

Tulisan ini bukan berarti mengajak dan menggiring opini manusia untuk tidak mematuhi ibunya. Sopan santun dan beretika terhadap ibu adalah suatu keharusan. Mematuhi perintah ibu yang positif, yang atas dasar kesepakatan dan demi kebaikan bersama (demokrasi) adalah suatu kewajiban. 

Akan tetapi, kepatuhan yang pasif kepada kehendak ibu, apalagi disertai dengan mengorbankan kepentingan pribadi, adalah suatu bentuk kebodohan. Tuhan Yang Maha Adil tidak akan membuat aturan yang melebihkan dan menguntungkan satu hambaNya di satu sisi dan merugikan hamba lainnya di sisi yang lain. Apalagi mengkategorikannya sebagai ritual untuk mendapatkan kunci-kunci surga.

Descartes, seorang filsuf Perancis, mengeluarkan frasa yang terkenal, Je pense donc je suis, yang artinya ''Aku berpikir oleh karenanya aku ada." Manusia ada karena dia mau berpikir. Mempertanyakan sesuatu yang diaturkan, didoktrinkan dan dibebankan kepadanya adalah bentuk dari eksistensinya sebagai manusia. Mematuhi suatu doktrin atau aturan secara buta dan tanpa bertanya "kenapa" adalah tanda dari kematian eksistensi manusia sebagai manusia.