Seniman
2 bulan lalu · 301 view · 6 menit baca · Puisi 76253_80784.jpg
Pexels

Elegi Rindu untuk Bokirani

Beta suka di atas sini. Arus udara beraroma kulit kayu mentah juga bau dedaun muda, teramat kasi manja beta punya peparu renta. Beta seorang diri saksikan dinding air terjun dari jauh. Boleh beta rasai permusuhan getir antara langit dengan pepohonan. 

Alam telah ajari makhluknya untuk baku benci. Semisal beta yang mulai membenci asap. Beta raba dada yang nyeri dari dalam. Di atas sini beta tra batuk, beta hanya tra tenang. 

Saat getah damar merangkak ke batang pohon, saat getahnya lukisi pohon-pohon itu jadi hijau pun kasar, maka timbullah kemarahan makhluk penghuni alam pada manusia. 

Alam muak pada manusia. Muak karena ribut dan asap; muak karena penderitaannya; muak sebab pikiran yang kelewat mencolok. Itulah yang kasi buram beta punya arah. Lebih laju lagi ... semakin. Di arah yang salah. Di arah yang benar.

Kata-kata mengalir dari otak ke beta punya mulut, ibarat deras air terjun berjatuhan dari pucuk. Sekarang jika beta bisa mendengar dengan cermat, akan beta kasi tahu diri sendiri tentang apa yang beta ketahui. 

Gumpal awan berkumpul. Angin 'kan selalu bertiup. Manusia ialah derita, dan beta bisa mengecap rintihnya. Karena memang tra bakal ada yang mampu. Tra ada seorang pun yang bisa keluar dari kurung ini. Kurung berupa daging dan tulang. 

Semua burung telah terbang dan pergi. Awan sepi mengapung dengan santai. Kami tra pernah bosan baku pandang; beta dan air terjun.

Banir-banir pohon kasi tinggal beta sendiri di sini. Bau yang dapat bawa oleh lembab ke segala pelosok, juga sisi kolam air terjun. Jemari yang melilit ketat dari rotan yang lagi merambat. Sembur dari tekak burung-burung kakaktua, yang bersembunyi di dedaun pohon, macam matahari jelang sore yang asik mengumpet di balik awan. 

Angin lamat-lamat kasi embus tanah dengan penuh hasut. Tawang sepoi-sepoi kasi goyang dedaun berjari pohon kaspe yang ada di dalam kebun, juga satu-satunya gubuk tempat beta tinggal. Beta ingin kasi ranting-ranting itu makan, kasi tawar hangat untuk dorang ketika musim penghujan pica. 

Tunas cinta beta kasi semayam di dalam beta punya diri, di dalam beta punya sukma. Tunas membuka seperti kata-kata dalam bahasa tanah. 

Jika saja beta bawa hangat matahari untuk dorang, maka dorang akan terbuka, dan membawa bentuk, warna, serta wewangian balik ke beta. Dan bila saja beta beri dorang sebentuk basah, maka dorang akan menjadi bunga, buah-buah, pohon-pohon besar, lalu mati, dan menjadi kayu bakar.

Pernah beta kenali seorang malaikat bermata kurus, lesung pipit, dan tubuh kuning kayak langsat. Di sini, di awang-awang ini, beta impikan senyum andalannya, yang tanpa kelihatan gigi. Oh, keinginan manis itu. Keinginan untuk menyentuh mukanya yang bertulang. 

Di sini, dengan kepala runduk, malu-malu akan segala ingin, beta rasa semalam ia telah kunjungi beta punya mimpi. Mimpi yang tra beta ingat lagi warnanya—hanya hitam dan putih. 

Bagai binar tebing batu yang kuyup karena ciprat air terjun. Pepohonan pakis pun berkabut, di samping aliran kolam menuju hilir. 

Dalam beta punya mimpi, beta bergetar akan banjir asin. Beta khawatir mimpi itu tra akan pernah terjadi lagi. Saat beta ciumi rambut lurusnya, juga tahi nyamuk yang ada pipi kirinya.

Beta tersesat, dulu hanya seorang gadis sendirian. Beta tersesat, tapi kini tra muda lagi, di dalam hutan yang penuh misteri juga akrab. 

Dulu Nenek pernah bilang, "Hutan itu menakutkan. Jangan ke sana sendirian." Nenek tra salah. Nenek pula tra benar. Dan kini beta masih tersesat. Sesat dalam arah. Sesat dalam mainkan peran, juga kodrat sebagai wanita.

Di depan gubuk, beta kasi nyala ujung obor bambu besar. Cahayanya kasi ganti peran matahari yang telah pulang. 

Beta kasi isi perut dengan sukun bakar sisa tadi siang, berteman lauk udang yang telah beta bakar pula. Kenyang, beta lantas duduk di depan mulut gubuk, seraya memirsa kobar api mungil yang ada di pucuk obor.

Tempat dekat api di depan kadera berupa batu, beta sendiri tanpa seekor pun 'tuk berbagi hangat. Retak bambu menyala basir, menghibur beta punya lelah. Bayang bermain di langit juga muka air kolam. 

Hantu dari masa lalu datang panggil-panggil. Di luar angin menderu enggan. Kasi ingat beta pada tulang-tulang yang pernah sakit. 

Beta lagi dalam cengkeram sendu yang mendalam, lewati pertemuan yang tra bisa beta temui. Sekilas tentang bahagia yang telah lama berlalu, dengan gema kata-kata yang diucapkan terlalu laju. 

Api di tungku makin ciut, serupa jiwa-jiwa yang hilang, yang sebenarnya ingin tinggal, di suatu tempat di dekat perapian. 

Ini adalah beta punya hasrat. Satu hasrat beta. Sendiri adalah apa yang paling beta takuti. Namun beta suka pada ketakutan. Beta sedia untuk jadi tuan rumah yang ramah. Datanglah, ikuti jejak-jejak cahaya obor ini, dan bantu beta lewati malam sepi ini.

Beta iri pada bintang. Beta rindu pada purnama yang ciptakan bayang dingin pohon. Pada malam yang sepi seperti ini, di hutan beta separuh menggigil. Beta rindukan purnama dan kabut. Pada malam yang sepi kayak ini, terkadang beta bertanya-tanya, bagaimana kabarmu wahai kematian?

Keinginan yang berbenih kemustahilan. Beta punya jantung dapat panggang dua kali di atas tungku. Beta punya jiwa hangus oleh nyala api sedih. Masih menunggumu dengan segala beta punya gila. 

Bisakah engkau singgahi beta malam ini, Bokirani? Beta punya mata basah karena tatapi udara kosong. Malam yang tanpa diterangi cahaya bulan. Sangat dingin, jadi hangat, sangat redup, begitu cerah. Beta terbuang dalam senyap, Tanpamu segala suatu berantakan!

Beta punya air masih mengalir. Bagaimana bisa beta kasi kendali arus kolam air terjun yang menuju hilir? Beta tahu bahwa kau akan datang dalam beta punya mimpi, hanya untuk bikin beta kian tra berdaya, bikin beta kian gelisah. Pekat seperti apa pula itu! 

Bahwa beta mungkin tra ingin melihatnya, ketika beta bangun dengan kehendak yang berubah dalam embus napas. Beta ingin berbaring dalam mimpi, hingga terbang ke angkasa tertinggi. Dingin ini menyusup hingga ke beta punya saraf-saraf susu, dan coba memancing birahi untuk mampir.

Dalam sinar kuning remang, beta temui bayang beta di tempat teduh yang semakin dalam. Beta dengar bunyi desah yang baku pantul bersama angin. Seorang penguasa alam bersiap-siap untuk tangisi pohon. Beta cenung di antara burung nuri raja dan cacing dalam tanah, binatang buas di bukit dan ular dalam sarang. Apa ini sejenis majenun? 

Dalam dingin beta mulai terbakar pelan. Rasa habis akal ini begitu murni. Beta punya bayang menempel pada lantai bata tanah liat yang mulai berpeluh. Tempat itu di antara bata … atau, apakah ini sekadar jalan yang berliku? 

Di tepi bawah sadar beta berguling-guling. Malam menguap bersama keringat, awan melangkah compang-camping. Gelap, gelap cahaya beta, dan semakin gelap ingin beta. 

Beta punya jiwa serupa agas musim panas yang berontak karena terik, terus berdengung di ambang sadar. Manakah beta yang sesungguhnya? Satu akan tetap satu. Dua akan tetap dua.

Oh, Bokirani, rayulah beta gunakan puisimu yang belum pernah beta dengar sebelumnya. Dan biar jari-jarimu yang lembut itu terlempar, menjamah beta punya nyawa. Kasi biar bisikmu meleleh di telinga beta. Kemudian tegang menjadi makin liar dan dalam. 

Teruslah nyanyikan kidung itu untuk beta, wahai dikau pelantun bersuara merdu. Nyanyikanlah hingga beta menangis, kalau perlu hingga hulu hati ini meledak.

Cinta buta, iman pun buta dalam bingung. Dendam karena tipu dan manfaat. Beta melompat dengan yakin. Amarah ini lenyap bersama asap dari obor bambu. 

Ada saat ketika percaya itu murni. Saat janji dapat bikin selamanya. Beta punya jantung kian arip. Waktu berdiri diam, ketika cinta tra lagi berani. Namun, bagaimana bisa itu berubah begitu sinar memudar? Dan ikrar yang telah terucap, menjadi tra berarti apa-apa? 

Seperti janji yang dibuat saat sentuhan pertama nan bergairah. Dan mimpi untuk selamanya. Seperti sebuah simpul yang dapat ikat terpisah. 

Siapa yang membuat aturan ini hingga bikin kita lupa? Ini adalah janji yang dibikin selama birahi. Sebagai ikatan yang telah menjadi karat. Saat beta renungi janji-janji itu, beta punya lubang farji kian becek. Janji-janji yang tra pernah dimaksud untuk ditepati.

Beta punya rasa, beta bungkam. Beta punya luka kini lebih dalam dan segar. Luka yang menangkup khayal dari dalam. Aliran darah menari-nari sendiri di dalam beta punya jiwa. Beta merancap dalam diam, di tengah-tengah perang suci. 

Beta temukan diri sendiri yang lagi digencet oleh gulita. Riang kasi gumam asap bohong ke setiap sudut tulang sendi. Beta colok-colok diri sendiri tanpa malu-malu, hanya agar bisa melayang, untuk lupakan dunia, untuk rasai puncak batiniah. 

Mama kasi tinggal beta sebab salah ini, salah yang dibuat oleh bapa. Beta mengeong-ngeong dalam keranda mayat, coba bersembunyi lawan arus.

Ini teruntuk para pembebal yang tengah bermimpi, yang terkesan telah sesat akal. Ini teruntuk para pemilik hati yang telah terluka, karena dapat tinggal mati. Dan ini untuk segala macam berantak yang telah kita buat, Bokirani.