Karyawan Swasta
1 tahun lalu · 21 view · 1 menit baca · Agama 78009_76928.jpg
Dok. pribadi

Ekstremisme Itu Kanker

     Indonesia negara yang memiliki toleransi dalam beragama yang kuat. Kekuatan ini dilandasi oleh ideologi Pancasila. Dapat kita saksikan bagaimana hidup rukunnya antar umat beragama di Indonesia ada lima agama yakni Islam, Kristen, Budha, Hindu dan Konghucu. Namun ujian toleransi beragama ini belum berakhir. Toleransi beragama ini akan terus bergoyang oleh badai yang dinamakan ekstremisme. Ekstremisme ini terbagi oleh dua kubu kiri dan kanan. Kubu kiri dipelopori oleh komunisme dan kanan oleh agama dan fundamentalis. Dan disetiap negara memiliki bibit ekstremisme seperti fasisme di Italia dan Nazi di Jerman.

      Sejarah pun mencatat sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia ekstremisme sudah ada. Terbukti bagaimana komunisme ingin merongrong  ideologi Pancasila. Namun komunisme yang diprakarsai oleh PKI melalui pemberontakan gagal meski saat itu menculik tujuh Jendral dalam lubang buaya. Sekali lagi Pancasila tetap sakti dan diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Tidak hanya oleh komunisme saja, dari kubu kanan DI/TII oleh Kartosuwiryo sebagai ketuanya mengalami kegagalan.

      Bibit ekstremisme yang berhaluan kiri akan terus ada di Indonesia meski komunisme sedang 'mati suri' tapi pergerakan mereka senyap alias pergerakan bawah tanah (underground) Sedangkan eksistensi kaum radikal berhaluan agama mencatat bagaimana maraknya pengeboman Bom Bali I/II hingga ke bom panci. 

Mereka kaum Islam Radikal merekrut anggota baru sebagai 'pengantin' dengan iming-iming masuk surga dengan menikahi bidadari surga setelah mati. Anggota baru tersebut dicekoki dogma yang sesuai ajaran agama mereka namun pada kenyataannya sesat jauh menyimpang dari ajaran agama Islam. Ekstremisme berhaluan fanatisme agama seperti NII atau ISIS terus ada pergerakannya baik senyap maupun terang-terangan menggoyang pemerintah yang sah hingga mengancam toleransi umat beragama.

Ajaran Islam sesungguhnya tidak mengajarkan ekstremisme atas nama jihad dan fanatisme sempit namun yang perlu disalahkan adalah mereka yang memahami ayat-ayat Al Qur'an secara sepotong tanpa memahami secara harfiah.

Artikel Terkait