46050_88742.jpg
Agama · 4 menit baca

Ekstremisme dan Psikologi Kekerasan

Akhir-akhir ini, kita disuguhi berita penganiayaan dan pembunuhan tokoh-tokoh agama seperti ustadz, pastor, dan lain-lain. Pelakunya rata-rata orang yang mengalami "gangguan kejiwaan" sehingga sulit dijerat dan mendapat hukuman.

Warta terakhir yang paling hangat adalah penyerangan dengan senjata tajam oleh seorang pelaku bernama SU (23), minggu pagi (11/2/2018) di Gereja St. Lidwina Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terhadap Romo Prier yang sedang memimpin misa. Ia mengalami sobek pada kepala belakang akibat senjata tajam.

Kita memandang itu sebagai spontanitas dan kriminal biasa. Tapi, saya kira ini adalah kejahatan berpola dan terstruktur. Ia mengisahkan pola-pola serupa puluhan tahun lalu. Masyarakat dibuat resah dan ketakunan.Tendensi politik di balik peristiwa ini sangat kentara, tak bisa disembunyikan.

Mulai sekarang hendaknya umat beragama lebih berhati-hati. Politik adu doma sedang bekerja. Ada yang memancing di air keruh. Waspadalah, jangan mudah terprovokasi. Kita tak boleh tinggal diam. Membangun toleransi, perdamaian, tepok seliro, gotong royong adalah cara kita melawan perbuatan makar terhadap kemanusiaan ini.

Ingatan kita masih jelas dan tajam bahwa di negeri ini pernah ada pelarangan dan pelabelan “sesat dan menyesatkan” hingga sampai pada “kafir-mengkafirkan” terhadap ajaran tertentu, organisasi masa berbasis agama tertentu sekaligus pemeluk dan tokoh-tokoh aliran tertentu.

Atau juga ingatkah anda soal insiden Al-Maidah: 51 di Kepulauan Seribu? Ahok, yang tergelincir kasus tersebut, kebetulan ia adalah seorang nonmuslim. Dia disebut dan difatwa “kafir”. Ia  haram dipilih oleh kaum muslim penduduk DKI dalam pilkada DKI Jakarta, 15 Februari 2017  atau pada putaran ke-2, 19 April 2017 silam. Fatwa MUI tersebut sangat jelas dan terang-terangan mengharamkan untuk memilihnya sekaligus mengkafirkan orangnya, Ahok.

 Atau pula masih ingatkah anda soal insiden Ahmadiyah? Ingatan kita rupanya masih kuat dan melekat saat Jemaat Ahmadiyah yang sedang mengadakan Kongres Tahunan, bulan Juli 2005 di Kampus Al-Mubarak, Parung  Bogor  tiba-tiba ribuan massa yang menamakan diri Umat Islam Indonesia (UII), yang dipimpin seorang habib, menyerang kampus Ahmadiyah sambil meneriakkan pembubaran organisasi tersebut sekaligus menyegel kampusnya.

Tekanan pelarangan ajaran ini terus berlangsung bahkan diiringi ancaman akan ada pengerahan massa yang lebih banyak dan brutal lagi seandainya peringatan mereka tak digubris. Akhirnya  ancaman tersebut berubah menjadi kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Sempat menjadi kontroversi, memang, ada sebagian kelompok yang berpatokan bahwa agama selalu mengajarkan kedamaian dan menghormati perbedaan. Lalu klaim agama mana yang membenarkan  tindakan anarki Umat Islam Indonesia (UII) itu menjadi ‘halal’?

Dalam praktek peribadahan (kaifiyah ibadah), Ahmadiyah sebetulnya merupakan organisasi keagamaan yang tak berbeda dengan organisasi keagamaan lainnya di Indonesia. Misalnya, cara shalat, puasa, haji, dan lain-lain. Dalam kacamata fiqh, tata cara ibadah yang mereka laksanakan, secara umum, tak terlalu ada kejanggalan yang dominan dan masif. Yang menjadi sentral masalah adalah pemeluk Ahmadiyah meyakini ada Nabi terakhir setelah Nabi Muhammad saw, yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Organisasi ini memiliki cabang  di 174 negara yang tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia dan Eropa. Jumlah anggotanya di seluruh dunia mencapai kurang lebih 150 juta orang.

Pelarangan Jamaah Ahmadiyah yang didirikan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) tahun 1889 berkenaan dengan pengakuan dirinya  sebagai pembaharu (Nabi Bayangan) setelah Nabi terakhir, Muhammad. Hal inilah yang memicu kemarahan dan keberingasan kaum muslim, nyaris melepaskan kearifan yang diajarkan oleh agama. Artinya, ada cara lain yang bisa dilakukan secara persuasif, sehingga akhirnya para pemeluk Ahmadiyah kembali kepada ajaran yang benar.

 Perbedaan yang muncul di negeri kita yang majemuk ini ternyata masih saja menciptakan egoisme masing-masing kelompok. Menghormati perbedaan belum menjadi budaya negeri ini. Klaim kebenaran dan otoritas tafsir seringkali menjadi pemicu kekerasan spiritual yang tak bisa terhindarkan.

Menyoal penyesatan Ahmadiyah oleh MUI waktu itu, Gusdur sebagai tokoh Islam moderat secara tegas menolak fatwa tersebut. Beliau pun menginstruksikan anak buahnya agar segera membebaskan fasilitas ibadah Jamaaah Ahmadiyah yang telah disegel aparat pemerintah dan umat Islam fundamental tersebut. Menurut Gusdur, tindakan MUI dan aparat pemerintah sudah melanggar Hak Asasi Manusia dalam menentukan pilihan kepercayaan individu.

Masih ingatkah juga insiden yang pernah dilakukan Ulil? Fatwa yang dikeluarkan MUI adalah pelarangan ajaran liberalisme. Fatwa ini juga menimbulkan reaksi keras dari Jaringan Islam Liberal yang dimotori Ulil Abshar-Abdalla. Menurut Ulil, fatwa MUI itu sudah ngawur dan tolol, walaupun pernyataan ini ia tarik kembali.

MUI sebagai representasi ulama Indonesia merupakan salah satu lembaga yang berwenang mengeluarkan fatwa bahwa suatu ajaran itu sesat atau tidak. Sangat wajar jika MUI mengeluarkan fatwa tersebut. 

Solusi Cak Nur

Siapa yang tidak kenal Cak Nur? Cak Nur adalah panggilan akrab untuk sang guru bangsa, Nurcholish Madjid (1939-2005). Beliau adalah tokoh terpenting bangsa ini selain Gus Dur. Pengaruhnya sangat besar dalam pemikiran Islam di Indonesia.

Banyak pemikiran yang beliau wariskan kepada kita, penerus bangsa, untuk menjaga terus kerukunan umat beragama di negeri tercinta, Indonesia, yang sangat plural ini. Di sini, saya tidak akan mengungkapkan seluruh sumbangan pemikirannya.

Sumbangan pemikiran Cak Nur dalam konteks di atas adalah menyangkut toleransi. Beliau menyebutnya dengan istilah “Islam Inklusif”. Cak Nur dalam banyak ceramahnya mengungkapkan sekaligus memberi pemahaman kepada kita semua bahwa Islam itu adalah agama yang inklusif.

Menurut Cak Nur ; “Kebenaran Islam itu tidak eksklusif, tapi kebenarannya ada di mana-mana. Keselamatan itu bukan hanya milik orang Islam belaka, dan yang masuk surga juga bukan hanya orang Islam saja”.

Serentak ungkapan Cak Nur tersebut pun menjadi kontroversi sekaligus sentra perdebatan di antara para kyai konservatif saat itu. Tudingan, tuduhan, cibiran, julukan negatif bahkan label “kafir” pun tertuju kepadanya. Padahal argumentasi Cak Nur pun sumbernya ia kutip dari teks kitab suci, yaitu QS. Al-Baqarah: 62. 

Artinya, agama Islam itu bukan agama eksklusif, tapi kebenarannnya adalah inklusif. Kebenarannya tersebut bisa ada di mana-mana. Dan barang siapa beriman-tentu sesuai dengan agama masing-masing- dan beramal saleh maka ia diganjar oleh Tuhan.

Islam Inklusif ini penting untuk membangun kehidupan yang toleran di Indonesia, karena kecenderungan sebagian kalangan muslim memahami Islam sebagai agama atau keyakinan yang eksklusif. Kebenaran diklaim hanya miliknya sendiri dan yang lain adalah salah.