Mahasiswi
3 minggu lalu · 1670 view · 4 menit baca · Pendidikan 21270_38572.jpg
Artwork by Sadbuthighklab

Eksploitasi Mahasiswa Baru

Pagi ini saya melihat kerumunan massa yang mengantri di depan gedung rektorat kampus. Kerumunan massa ini bukanlah mahasiswa progresif yang hendak menentang kebijakan kampus (mahasiswa semacam ini sudah lama tidak kita dengar), melainkan para calon mahasiswa baru yang tengah melaksanakan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer). 

Melihat mereka-mereka ini, saya langsung ditarik pada ingatan masa lalu, ketika saya memutuskan untuk menyandang status mahasiswa di kampus ini.

Renungan ingatan saya langsung berubah menjadi rasa miris sekaligus kasihan kepada para calon mahasiswa baru ini. Betapa tidak, hal kelam yang saya alami dan telah saya lewati ini menyisakan memori yang sangat pahit untuk diingat kembali, sebagai sebuah kenangan.

***

Tepat beberapa tahun lalu, dengan rasa bangga saya berdiri di halaman rektorat sambil dalam hati mengucapkan, "saya siap menyongsong masa depan gemilang." Ucapan yang saat ini saya sesali sebagai wujud optimisme. Saya tidak menyangka bahwa harapan saya pupus begitu saja.

Bagaimana tidak, harapan terang itu sirna begitu saja ketika kenyataan di lapangan yang saya hadapi berbanding terbalik dengan bayangan yang saya idam-idamkan. Harapan yang harusnya mengatakan bahwa menjadi mahasiswa adalah saat di mana proses pendewasaan terjadi,  di mana saat saya menemukan keragaman lewat interaksi antar sesama, di mana saya akan menemukan hal baru lewat pembelajaran, justru hilang begitu saja. 

Setiap semester, datang mahasiswa baru dari sekolah menengah atas, yang memiliki berbagai macam tujuan. Para mahasiswa baru ini sudah memiliki cita-cita besar untuk diwujudkan di kampusnya, yang bahkan mungkin sudah mereka rencanakan sejak bangku SMA.

Lalu badai topan datang mengobrak-abrik harapan, ombak datang menerjang rencana yang telah tersusun. Muncul para mahasiswa-mahasiswa bermental sok kuasa. Mereka merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa, seperti apa yang dikatakan Soe Hok Gie.


Alih-alih berharap mendapatkan sambutan hangat dari mahasiswa-mahasiswa tadi (senior), justru para mahasiswa baru ini mendapat tamparan keras! Untuk melupakan atau setidaknya mengubah keinginan dan rencana yang telah mereka susun. 

Mereka mulai melakukan tindakan sewenang-sewenang dengan cara mempersekusi para mahasiswa baru. Kemudian mahasiswa baru ini menjadi buruan para seniornya untuk dicecar berbagai pertanyaan yang menguji, menyudutkan, bahkan menjatuhkan karakter sebagai seorang manusia.

Lalu diadakanlah pendidikan dasar atau kemah kemahasiswaan, yang bertujuan untuk menyambut dan mendidik para mahasiswa baru ini. Kegiatan ini dilakukan di luar kampus dengan landasan sebagai wujud bakti masyarakat, yang nyatanya hal tersebut merupakan suatu upaya untuk menghindari pantauan kampus. 

Kegiatan yang sebenarnya memiliki tujuan baik ini hanya dijadikan kamuflase untuk meloloskan perizinan.

Dalam segala upayanya itu, terlihat mahasiswa semacam tadi melakukan hal tersebut untuk menyeragamkan pikiran mahasiswa baru agar mereka patuh dan tunduk kepada aturan organisasi maupun aturan dari para seniornya. Mereka menebar teror dan ancaman untuk merawat kepatuhan dan berada pada jalur yang telah ditetapkan, apabila tidak ingin mengabil resiko, berada pada jalan pengasingan. 

Jikapun ada yang melawan dan merintih kesakitan, mereka akan menggunakan "Narasi Zaman" bahwa dulu lebih parah dari hari ini dan yang mereka lakukan hari ini belum seberapa. Tujuan paling akhirnya adalah exploitasi terhadap para mahasiswa baru ini, untuk kebutuhan organisasi ataupun individu. Narasi kebaikan untuk kepentingan bersama menjadi senjata andalannya.

Mereka dijadikan sebagai "sapi perah" untuk melayani mahasiswa semacam tadi. Tenaga, waktu, dan pikiran mereka dirampas dengan menggunakan dalih pendidikan, agar para mahasiswa baru ini lebih mengenal kehidupan kampus, agar mereka melepas pikiran-pikiran anak SMA. 

Dalam seluruh upayanya untuk mendoktrin para mahasiswa baru tersebut, juga tidak didasari atas kesadaran pikiran. Mereka hanya mengikuti nafsu dan emosi untuk membalaskan dendam dahulu yang pernah mereka rasakan.

Maka sering kali pula kita dengar kasus pelecehan dan bullying yang muncul ke permukaan, sebagai bukti dari kejadian tersebut memang nyata dan terjadi di dalam kampus. Sesuatu yang ironi terjadi dalam dunia pendidikan tinggi. 

Dari seluruh itu, bisa kita terka bersama, bukannya sikap kritis atau pendewasaan yang didapatkan para mahasiswa baru, justru mereka menjadi para mahasiswa yang bebal akibat doktrinasi yang mereka dapatkan. Harapan untuk mendapatkan rasa hormat dari para juniornya justru berubah menjadi kebencian yang tertanam dalam hati para juniornya.

Kelak mereka juga akan mewarisi sifat-sifat para seniornya. Mereka akan menjadi mahasiswa-mahasiswa bermental sok kuasa baru, akan menjadi penindas-penindas baru, dan akan menjadi kendali kuasa baru di kalangan mahasiswa. 

Praktik ini berlangsung lama, terus-menerus, mengakar dan mendarah daging sehingga menciptakan sistem penindasan baru di kalangan mahasiswa. Lebih parahnya, budaya penindasan.

Kampus yang seharusnya menjadi tempat berkembangnya pikiran, tempat di mana para intelektual menguji pikiran dan menciptakan kebaruan ilmu pengetahuan, justru menjadi tempat penghakiman yang masif dan tersembunyi. 


Para mahasiswa baru yang harusnya mulai menyusun bata-bata pengetahuan sedari awal atau bergabung dengan kelompok-kelompok diskusi kecil di sudut kampus, justru disibukkan dengan kegiatan tak perlu dan celoteh kosong para seniornya. Sesuatu yang sangat tragis dan tidak mencerminkan watak pendidikan, apalagi jati diri seorang pemuda dan mahasiswa.

Meski begitu, praktik di atas tidak bisa digenaralisasi terjadi di seluruh kampus. Namun hal tersebut paling tidak pernah berlangsung di seluruh kampus di negeri ini.

***

Akhirnya setelah lama memperhatikan mereka yang sedang mengantri, saya langsung merasa simpati kepada mereka. Di samping itu, sebenarnya saya juga ingin mengucapkan selamat kepada mereka, bahwa mereka akan menjadi korban baru dan kelak akan menjadi penindas baru yang mewariskan cita-cita luhur para seniornya. 

Selamat berjuang pula untuk orang-orang yang tidak mau diam dan akan terus melakukan perlawanan. Sebab revolusi selalu dibutuhkan.

Artikel Terkait