Mahasiswa
6 bulan lalu · 148 view · 7 min baca · Saintek 70726_14397.jpg
theendivechronicles

Eksploitasi Kebebasan di Zaman Digital

Besarnya kekuatan analisis data digital kiwari kian mengancam kebebasan. Saat ini kebebasan kita berselancar dan berpendapat di laman medsos telah berada pada posisi rawan dieksploitasi. 

Lantas bagaimana nasib kebebasan kita jika telah mampu dibaca dan diarahkan? Karena barangkali kebebasan memilih produk, presiden, hingga tempat wisata telah lama dibajak oleh korporasi. Bisakah kita tetap percaya keberadaan kehendak bebas?

Kita diingatkan betapa besar pengaruh pembacaan data digital dan profil media sosial lewat kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat. Ada 87 juta data pribadi akun Facebook yang dijual untuk kepentingan politik. 

Skandal besar ini mengemuka pada awal tahun 2018 lalu, dan kebocoran ini disinyalir masih berjalan hingga kini. Data sebanyak itu diunduh oleh firma pemenangan politik Cambrigde Analytica, sebuah firma riset data yang jasanya digunakan oleh Trump untuk menduduki kursi Presiden AS.

Meski skandal ini menggegerkan dunia, rasanya tidak jadi soal bagi penduduk “wkwkwk island” Indonesia. Kelompok masyarakat paling aktif di dunia maya ini merasa aman dan senantiasa mengunggah apa saja ke beranda medsosnya. 

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada survei tahun 2017 menyuguhkan angka 143 juta pengguna internet di Indonesia. Jumlah itu sekitar 55% total penduduk kita yang disinyalir naik menjadi 60% di tahun 2018. 

Bukan itu saja, warganet kita adalah spesies yang tergolong paling cerewet di dunia maya. Berdasar survei We Are Social, tiap harinya, warganet Indonesia membuang waktu di medsos selama 3 jam 23 menit yang menjadikannya ranking tiga di dunia. Dan sayangnya, Facebook adalah platform yang paling diminati oleh warganet tersebut.

Pada awal kemunculannya, internet dan media sosial dianggap sebagai medium yang mampu memangkas jarak dan kelas sosial. Semua orang bisa menyampaikan opini dan aspirasinya secara bebas. Namun hal itu tak lagi berlaku kini. 

Perlu kamu tahu, data-data pribadi dan pendapat yang terunggah ke medsos tersebut jadi materi yang rentan disalahgunakan korporasi dan firma riset data. 

Aleksandr Kogan, pendiri Cambrigde Analytica, bilang bahwa preferensi politik seseorang terlihat jelas dari profil medsosnya. Dengan modal itu, korporasi dan firma politik akan leluasa menerapkan strategi untuk menundukkan Anda. Lantas, kebebasan apa yang kita punya kini?


Itu pertanyaan pelik, terutama jika berkaca pada cara Cambrige Analytica memamen data pribadi kita. Bahwa ia mengambil data kita tanpa izin lebih dahulu, memang benar. Tapi tak sepenuhnya begitu. 

Kesuksesan mereka memanen data demografi, kontak, hingga kecenderungan politik ternyata ada campur tangan kita di dalamnya. Dengan siasat yang agak rumit, kita diarahkan untuk menyerahkan data pribadi secara sukarela melalui kuis hingga survei abal-abal.

Cambrige Analytica menggunakan pihak ketiga untuk memanen data. Pihak tersebut biasanya menawarkan kuis main-main semacam “siapa tokoh dunia yang mirip denganmu”, lalu kita akan disodori beberapa pertanyaan untuk diisi. 

Bukankah ketika masuk kuis semacam itu ada permintaan izin untuk mengakses data profilmu? Nah, saat itulah pengambilan data dan profil kita berlangsung.

Fenomena yang lebih dekat bisa kita lihat dari program salah satu tivi swasta yang bernama Kata Netizen. Acara yang dikemas secara santai tersebut mengetengahkan topik atau isu yang sedang ramai dibincangkan oleh warganet. 

Data yang disajikan dalam acara ini biasanya dipanen dari percakapan di laman medsos. Seperti siarannya pada 21 Desember 2017 yang menempatkan LGBT sebagai peringkat pertama obrolan warganet hari itu diambil dari Twitter. 

Dari topik ini kemudian didapat data bahwa LGBT dibicarakan 59 ribu kali. Dengan rincian: 6,5 ribu respons mengaitkan ke gempa, 2,5 ribu dengan dampak pelegalan LGBT, 2,4 melihat LGBT adalah penyakit, 2 ribu berpendapat LGBT bertentangan dengan agama dan Pancasila, serta 1,5 ribu membahas tanggapan Menteri Agama atas LGBT.

Tentu saja data tersebut memungkinkan dipanen korporasi dan disajikan karena sifatnya yang terbuka. Mesti diakui juga bahwa warganet sendiri mengunggah komentar dan pendapatnya atas LGBT agar dibaca khalayak. 

Tapi dari sini kita bisa melihat bagaimana kebebasan berpendapat dan beraspirasi di medsos rentan atas pengawasan dan pendataan korporasi. Dari pemaparan analis media sosial yang kerap diundang di acara tersebut, beberapa analis memiliki firma konsultasi data digital, mereka mampu menelusuri pembicaraan warganet hingga diksi-diksinya.

Sehingga dalam taraf tertentu, mesti diterima bahwa data tersebut sah dan kita secara sukarela memberikannya pada mereka. Tepat ketika kita secara bebas menyerahkan “diri virtual” tanpa ancaman dan paksaan tersebut, dan korporasi mengunduh data yang mungkin digunakan bertentangan dengan kehendak kita, persoalan kebebasan mesti kembali didiskusikan.

Kebebasan Telah Jadi Mitos

Frase krisis kebebasan memang sudah terdengar klise, karena sejak dulu setiap yang mengancam kebebasan kita dalam bertindak di era modern senantiasa diglorifikasi sebagai krisis. 

Tapi tidak salah juga jika kondisi yang tergambar oleh kasus Cambrigde Analytica disebut krisis kebebasan. Namun krisis di sini bukan dalam aspek adanya kekuatan yang menindas atau mengekang kebebasan. Sebaliknya, kebebasan mengalami krisis karena didorong sepenuhnya sehingga mencapai potensi di mana hal itu rentan dieksploitasi.


Kecanggihan teknologi komunikasi telah memberi kita kesempatan untuk bersuara dan menembus sekat-sekat yang dahulu dirasa membendung. 

Namun kecanggihan teknologi itu ternyata tidak lagi berupa mesin netral, ia adalah algoritma yang bisa mengungkung dan menganalkan kita menuju suatu tujuan yang tak kita kehendaki tanpa sadar. Karena itu, tidak salah jika Yuval Noah Harari menyebut kebebasan di zaman ini hanyalah mitos.

Seperti kita tahu bahwa kemewahan manusia dibanding kuda atau elang adalah “kehendak bebas”. Dengan itu juga sistem demokrasi liberal yang ada sekarang ditegakkan fondasinya. 

Perlindungan atas kebebasan adalah prasyarat penting agar manusia tidak terdegradasi menjadi sekadar babi dan anjing untuk diternak dan dijinakkan. Namun kekebasan sebagai etika moral dan politik tertinggi manusia, menurut Yuval, kini menghadapi ancaman besar yang ia sebut laboratoris.

Laboratoris bekerja dengan dua instrumen utama, yaitu kekuatan komputing dan pengetahuan biologi. Dengan pengetahuan biologi, mereka mampu memahami dirimu lebih baik dibanding kamu sendiri. Sedang kekuatan komputing akan memanipulasi arah kehendak bebasmu. 

Kedua instrumen tersebut kini telah dimiliki pemerintah dan korporasi seperti Facebook dan Cambrigde Analytica. Maka jangan heran jika kini kebebasan sebagai intisari manusia telah dibajak dan dimanupilasi sesuai dengan kepentingan pemerintah dan korporasi.

Hal ini terjadi karena kebebasan bukanlah realitas saintifik. Seperti kata Yuval, kehendak bebas hanyalah sebuah mitos yang dulu pernah sukses digunakan untuk menentang penindas dan membebaskan manusia modern dari kungkungan agama. 

Kenyataannya memang kita tidak pernah benar-benar bebas. Pilihan politik kita senantiasa dialasi oleh jenis kelamin, suku, dan lingkungan sekitar.

"Setiap pilihan cenderung bergantung pada kondisi biologis, sosial, dan personal yang tidak bisa kamu tentukan sendiri," kata Yuval. 

Manusia tak memiliki daya untuk memilih hal-hal primordial tersebut. Kita bisa memilih siapa pasangan, tetapi tak bisa memilih keluarga dan ibu seperti apa yang melahirkan kita.

Kasus Facebook serta Cambrige Analytica telah mengekspos betapa rentannya kebebasan yang kita miliki kini. Di satu sisi, kita bebas mengklik tautan yang kita temu dan mengunggah komentar di media sosial. Namun, di sisi lain, kita tak benar-benar kuasa membendung munculnya iklan, berita propaganda, dan pembajakan atas data digital di dunia maya. 

Meski dalam politik kita bebas memilih di dalam bilik suara, namun kita tak bisa membentengi hoax dan kampanye yang menjajah kita melalui beranda media sosial setiap harinya.

Kekhawatiran serupa juga diungkapkan oleh Byung-Chul Han dalam bukunya Psychopolitics. Ia melihat kebebasan kini hanyalah persinggahan sementara menuju penundukan. 

Penundukan itu berjalan melalui ilusi kebebasan yang secara sembrono kita gunakan untuk memampang detail identitas di dunia digital. Namun sialnya, pancaran kebebasan tersebut berbalik dalam wujud propaganda dan manupulasi yang merembes ke dalam diri dan membangun penjara melalui mekanisme internal psikologis kita.

Karena itu, Byung melihat manusia kini bukan lagi subjek seperti definisi modern dulu, tetapi sebuah proyek. Sebagai sebuah subjek, manusia bisa melawan represi fisik dan aturan. Namun kini berbeda, manusia sebagai proyek artinya bisa dibentuk dan ditemukan kembali dengan spesifikasi tertentu sambil tetap terjaga kebebasan fisiknya. 

Konkretnya, manusia bisa dibentuk orientasi politik, produk, gaya hidup tertentu melalui propaganda dan pembajakan yang dilakukan lewat medium digital.

Maka wajar Yuval dengan muram menilai tatanan liberal kini telah cacat. Meski ia tidak menampik kenyataan bahwa sistem inilah yang masih efektif untuk menopang tatanan dunia hingga sekarang. 


Dalam kolom yang ia tulis di laman The Guardian, Yuval mendeteksi kerentanan ini dan melihat bahwa sistem liberal tidak punya persiapan mumpuni guna melawan musuh dari dalam dirinya sendiri, yakni kebebasan. Karenanya kita mesti rela meninggalkan kebebesan versi lama warisan Kristen dan Pencerahan itu kemudian menerima kenyataan bahwa manusia adalah ‘hewan’ yang rentan dibajak.

Dari titik inilah kita bisa mulai menyusun kembali bentuk kebebasan versi zaman digital. Di tahun politik yang penuh hoax dan propaganda ini, warganet Indonesia mesti sadar besarnya pekerjaan rumah yang mereka miliki. 

Kebebasan berkicau dan berselancar di dunia maya telah rentan akan virus dan pembajakan. Sehingga kesempatan yang tersisa ini mesti digunakan untuk meng-upgrade kebebasan versi kiwari. 

Jika kebebasan telah memberi kita kesempatan untuk menciptakan teknologi dan mengembangkan peradaban, tentu kebebasan juga bisa kita gunakan untuk menata ulang teknologi dan masa depan manusia.

Artikel Terkait