Di hidup ini kita mempunyai ekspektasi, tetapi sering kali yang terjadi adalah ekspektasi berbeda dengan realita. Lalu, saat ekspektasi tidak sesuai dengan realita apa yang harus dilakukan? Apa kita sebaiknya hidup tanpa ekspektasi atau justru dijadikan semangat untuk kita agar bisa lebih gigih lagi?

Ekspektasi tidak harus mengenai hal-hal besar, seperti cita-cita, masa depan, harapan, dan lain-lain. Namun ekspektasi terhadap hal kecil pun sering kita temui. Saya pernah menonton Youtube tutorial membuat kue ulang tahun. Di video tersebut terlihat kuenya sangat lezat dan bentuknya sangat menarik dan indah. Namun, ketika saya membuat hasilnya kue tersebut  bantet dan tidak secantik seperti di video.

Ada lagi saya temui di Twitter mengenai ekspektasi belanja di online shop. Ada seorang perempuan membeli masker kecantikan untuk wajah namun ketika datang ukuran dari masker tersebut sangatlah kecil yaitu seukuran wajah bayi, hehe.

Selain itu, ada iklan mengenai mie di TV yang sangat menggiurkan. Terlihat terdapat telur, ayam, dan nuget  yang sangat menggoda lidah dan sangat menggiurkan untuk dinikmati. Saya membayangkan ketika membuat mie dan toppingnya akan sama seperti di iklan. Namun, realitanya saat saya membuat mie tersebut telor yang dimasak gosong dan bahkan tidak terdapat ayam maupun nuget.

Ketika belanja online, maka kita juga harus melihat spesifikasinya, ukuran seperti apa, dan beratnya berapa. Selain itu, juga harus cek harga. Ketika harganya jauh dari rata-rata maka kita tidak bisa berekspektasi tinggi terhadap barang tersebut. Mungkin saja hasilnya akan berbeda.

Hal seperti itu juga merupakan cerminan diri kita. Karena sering kali kita mempunyai ekspektasi tinggi tetapi tidak mau membayar harga. Di hidup ini ada harga yang harus dibayar untuk setiap kesuksesan.

Yang saya maksud harga untuk mencapai kesuksesan bukan berapa rupiah tetapi harga untuk mencapai kesuksesan adalah kerja keras, disiplin, tangguh, dan masih banyak lagi. Kalau kita saja tidak mau membayar harga ya jelas saja realita tidak sama dengan ekspektasi. Jadi, itu merupakan cerminan diri kita juga sebenarnya.

Ketika ekspektasi lebih tinggi dari realita yang terjadi adalah kita akan sedih dan kecewa. Oleh karena itu, ada orang yang beranggapan “Jangan punya ekspektasi yang tinggi, tetapi ekspektasinya harus direndahkan.” Jadi, ketika ekspektasinya lebih tinggi dari realita kita akan bahagia.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apabila ekspektasi kita rendah maka kita akan bahagia? Belum tentu. Ketika kita merendahkan ekspektasi, kita belum tentu bahagia. Karena ketika kita merendahkan ekspektasi belum tentu realitanya akan tinggi. Bisa jadi ketika kiat merendahkan ekspektasi bahkan realitanya akan lebih rendah dari realita sebelumnya.

Kenapa bisa berbeda? Karena ekspektasi itu akan menentukan usaha kita. Contohnya, ada pelajar yang mempunyai ekspektasi “Saya harus mendapatkan nilai 100.” Karena anak tersebut memiliki target nilai 100 berarti tidak boleh ada kesalahan. Maka ketika dia belajar dan ketemu bab yang susah dia akan belajar, dia akan mencari tahu, yang tidak paham dia akan bertanya kepada guru dan temannya.

Dia akan berusaha semaksimal mungkin supaya dia bisa paham bab tersebut. Kenapa? Karena ekspektasinya mendapat nilai 100, berarti kalau ingin nilai 100 tidak boleh ada kesalahan, dan semua harus dimengerti.

Berbeda dengan anak yang punya ekspektasi “Ekspektasi saya setidaknya nilainya tidak boleh merah atau nilai 60 sudah cukup.” Ketika dia bertemu dengan bab yang sulit dan tidak paham maka dia akan berpikir “Ok, setidaknya nilai saya tidak boleh merah, nilai 60, berarti saya masih bisa salah sekitar 40%.” Kemudian yang dia lakukan adalah dia akan berdoa dan berharap supaya bab yang sulit itu tidak akan keluar ketika ulangan.

Maka dari itu ekspektasi kita akan berhubungan dengan usaha kita. Karena berhubungan dengan usaha maka hasil akhirnya juga akan berbeda. Meskipun ekspektasi berbeda dengan kenyataan, bukan berarti kita harus kecewa dan hilang harapan. Tetap harus punya cita-cita tinggi dan tetap harus punya ekspektasi.

Walaupun ekspektasi terkadang berbeda dengan realita, kita harus tetap mempunyai ekspektasi. Bukan hanya kita harus memiliki ekspektasi, tetapi kita harus mempunyai kemampuan untuk memanage ekspektasi alias mengendalikan ekspektasi itu. Karena ekspektasi itu harus bisa dikendalikan.

Kita harus memiliki ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri tetapi ekspektasi yang harus dikurangi adalah ekspektasi terhadap orang lain. Janganlah berharap atau mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap orang lain karena justru itulah yang sering kali membuat kita kecewa.

Contohnya ketika seseorang berekspetasi bahwa ketika di hari ulang tahunnya akan diberikan hadiah oleh pacarnya, “wah, saya akan diberi hadiah bunga oleh pacar saya”. Ketika pacarnya lupa atau tidak memberikan hadiah pasti wanita tersebut merasa kecewa.

Contoh lain adalah seorang anak belajar untuk ujian hingga begadang agar memeroleh nilai 100 dan berekspektasi akan diberikan pujian atau hadiah oleh orangtuanya. Namun ketika orang tuanya tidak tahu bahkan tidak mengapresiasi anak tersebut padahal sudah mendapatkan nilai 100. Maka yang dirasakan anak tersebut adalah kecewa.

Ekspektasi tersebut ada di kepala seseorang sehingga orang tersebut akan membuat label dan berpikir “Pacar saya sudah berubah, dia tidak memberikan saya hadiah, berarti dia sudah tidak sayang dan cinta saya lagi.” Akhirnya membuat asumsi tersebut yang akhirnya membuat kita lebih parah lagi dan bahkan mengecewakan diri kita.

Jadi, kita harus bisa memanage atau mengendalikan ekspektasi. Ekspektasi terhadap orang lain kalau bisa direndahkan atau bahkan tidak ada sama sekali. Tetapi ekspektasi terhadap diri kita sendiri harus tinggi karena itulah yang bisa kita usahakan dan membuat diri kita lebih baik lagi.