Berpindah tempat dari kampung halaman atau tempat tinggal kita dibesarkan ke tempat lain, dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan untuk menjalani hidup atau mencari pengalaman biasa kita kenal dengan sebutan merantau. Memutuskan untuk merantau bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. 

Perlu dipikirkan baik-baik karena jika seseorang berani untuk merantau maka seseorang tersebut juga harus siap menerima segala risiko yang akan dihadapi nantinya.  

Jika membicarakan perihal merantau, tentunya juga akan terlintas dipikiran kita terkait mahasiswa karena seperti sudah menjadi ciri khas dari seorang mahasiswa ketika membicarakan perihal merantau. Mahasiswa yang merantau sering kita sebut dengan anak rantau. 

Untuk menjadi anak rantau tentunya juga tidak instan, harus melalui proses panjang mulai dari dilema menentukan universitas, jurusan, serta jalur masuk yang digunakan agar bisa diterima di universitas impian masing-masing.

Bagi kalian yang sudah memutuskan untuk menjadi anak rantau sejak di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) pastinya sering dong mengkhayal atau membayangkan hal-hal yang mungkin nantinya akan kalian lakukan ketika menjadi anak rantau. 

Mulai dari membayangkan harus masak sendiri, cuci baju sendiri, mengatur keuangan sendiri pokoknya hampir semua dilakukan sendiri.   Mungkin ada juga beberapa dari anak rantau yang baru pertama kali ke tempat mereka merantau. 

Bahkan ada juga yang harus naik pesawat atau kapal laut karena jarak yang tidak memungkinkan jika harus naik transportasi darat. Sehingga, pertanyaan seperti, "Nanti naik pesawatnya gimana ya? Nanti sesat nggak ya?" akan muncul di benak mereka. 

Tidak sedikit juga dari mereka membayangkan ketika nanti merantau bisa jalan-jalan, main sepuasnya tanpa takut dimarahi Ibu atau Ayah mereka. Terlebihnya masih banyak lagi  mengingat setiap dari mereka memiliki bayangan ataupun pertanyaannya masing-masing.   

Namun, dikarenakan saat ini negara kita Indonesia sedang terkena musibah besar yaitu Pandemi Covid-19 berupa penyakit yang disebabkan oleh koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2) yang bisa menyebabkan kematian pada seseorang. 

Kasus positif Covid-19 di Indonesia pertama kali dideteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang. 

Sejak hari itu kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah hingga menyebabkan banyak sekali perubahan seperti halnya harus menggunakan masker saat keluar rumah, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, menjaga jarak, serta penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai wilayah. 

Pastinya segala upaya akan terus dilakukan untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid 19 di Indonesia. Tidak hanya itu, Covid-19 ini juga berdampak besar di berbagai sektor, salah satunya pada sektor pendidikan.  

Untuk mengantisipasi penularan Covid-19 pada sektor pendidikan pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa kegiatan pembelajaran yang semula dilakukan dengan tatap muka diganti dengan pembelajaran daring. 

Pelaksanaan pembelajaran daring dilakukan sebagai salah satu upaya untuk tetap mewujudkan tujuan pendidikan di Indonesia di tengah pandemi Covid-19 ini. Pembelajaran daring ini diberlakukan untuk semua lembaga pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. 

Sehingga, berakibat yang awalnya para siswa ataupun mahasiswa setiap hari harus ke sekolah atau ke kampus untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar tatap muka seketika berubah menjadi kegiatan belajar mengajar dari rumah mereka masing-masing.

Lalu, bagaimana dengan nasib anak rantau atau bahkan calon anak rantau dengan segala bayangan ataupun pertanyaan di benak mereka? Tentunya mereka harus menerima realitas pahit yang terjadi saat ini. 

Apalagi mereka calon anak rantau yang lulus pada tahun 2020 dan 2021 tentunya sebagai siswa yang baru saja lulus SMA akan sangat excited untuk menjadi seorang mahasiswa. 

Kuliah di kampus, bertemu banyak teman baru dari berbagai daerah, berpakaian bebas tanpa harus menggunakan seragam sekolah, tentu hal tersebut sangat ditunggu-tunggu bukan? Tetapi sayangnya mereka belum bisa merasakan hal tersebut. 

Anak rantau yang sedang di tanah rantau pun harus menerima realitas ini,  mereka juga akan melakukan perkuliahan dari kost atau kontrakan mereka masing-masing karena di kampus pun tidak ada kegiatan perkuliahan. 

Sehingga, tidak sedikit dari mereka memutuskan untuk kembali atau pulang ke kampung halaman dan melakukan perkuliahan dari rumah masing-masing. Tujuannya agar lebih hemat biaya, karena jika tetap di tanah rantau pengeluaran akan lebih besar dibandingkan mereka di rumah.

Pemberlakuan pembelajaran daring tidak hanya berdampak pada proses perkuliahan saja, tetapi juga berdampak pada semua kegiatan kampus. Seperti halnya Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) juga harus dilakukan secara daring. 

Padahal, jika PKKMB dilakukan secara tatap muka langsung di kampus tentu sangat seru dan sebetulnya momen PKKMB akan selalu diingat sebagai momen terindah di mana semua mahasiswa baru dari berbagai daerah dipertemukan di satu kampus impian mereka masing-masing. 

Tetapi lagi-lagi mereka harus menerima realitas keadaan yang tidak bersahabat ini. Tanpa sadar hampir 2 tahun musibah ini menimpa Negara Indonesia dan selama itu juga mereka para anak rantau atau calon anak rantau belum bisa merasakan kehidupan di tanah rantau. 

Bayangan mereka yang tadinya bisa kuliah di kampus, ternyata realitasnya setiap hari mereka tetap di rumah masing-masing untuk mengikuti perkuliahan, kegiatan kampus dan juga mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen lewat laptop ataupun gadget mereka. 

Bahkan ada sebagian dari mereka yang belum pernah melihat kampusnya padahal sudah tercatat sebagai mahasiswa di kampus tersebut, tidak hanya itu bertemu dengan dosen dan teman sekelas secara langsung pun belum pernah.

Mereka hanya bisa bertemu secara maya melalui aplikasi zoom meeting, google meet ataupun aplikasi lainnya. Sehingga, mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan untuk keluar rumah pun mereka jarang. 

Terlepas dari itu semua, mereka hanya bisa berdoa semoga musibah ini segera berakhir dan keadaan segera membaik sehingga mereka bisa merasakan perkuliahan di kampus seperti pada umumnya. Dan bisa merasakan kehidupan di tanah rantau yang sesungguhnya.

Semangat buat kalian para anak rantau!!!!