Panitia Workshop
2 tahun lalu · 192 view · 3 menit baca · Lingkungan 14131.jpg
Foto: Dida Darul Ulum

Ekspedisi Alam Kubu Raya

Agenda hari kedua Workshop & Kelas Menulis (Konservasi Hutan dan Pelestarian Lingkungan di Indonesia) Qureta-Belantara adalah berkunjung ke lokasi konservasi di Kubu Raya, Pontianak. Lokasi ini sekaligus menjadi tempat fieldwork para peserta yang kemudian akan dijadikan sebagai bahan tulisan tentang konservasi.

Berangkat dari Hotel Golden Tulip menuju lokasi, perjalanan kurang lebih memakan waktu 4 jam. Dimulai dari naik bis ke Pelabuhan Krasua, dilanjutkan dengan speed boat sebagai media satu-satunya menuju lokasi.

Tiba di lokasi, setelah melepas penat sesaat, peserta langsung diarahkan ke tempat fieldwork pertama, yakni kebun kopi.

Menurut Sekretaris Desa Sumber Agung, Sarmadi, kopi merupakan tanaman pertama warga. Sejak tahun 1988, warga sudah menanam kopi. Sampai tahun 1998, kebun kopi mencapai ribuan hektare.

“Tanaman kopi di sini kan banyak, ribuan hektare, karena di sini kan tanahnya gambut,” ujar Sarmadi.

Sayangnya, pada tahun 1999, terjadi kebakaran besar. Tanaman kopi yang ada hampir 50 persen mati (terbakar). Dan sekarang, warga baru memulai kembali untuk mengembangkan. Pengembangan tanaman kopi yang sebelumnya inilah yang kini peserta kunjungi yang hanya berkisar 400-an hektare.

Setelah kebakaran besar itu, kebun kopi kemudian ditanami karet. Ada karet lokal, ada karet unggul. Tanaman karet  kini mendominasi perkebunan warga menggantikan kopi.

“Sawah juga ada, tapi di sini sawah tadah hujan. Karena dapatnya air hanya musim hujan saja. Ada juga kebun sawit, luasnya (kurang lebih) 500 hektare. Dan masih banyak yang lain, hanya belum dikembangkan warga,” imbuhnya.

Di samping perkebunan atau pertanian, warga juga banyak mengembangkan peternakan. Di antaranya, seperti ternak ayam kampung, kambing, ikan lele dan nila. Peternakan ini, ada yang dikelola secara bersama melaui Badan Usaha Desa (Bumdes), ada juga yang perorangan.

Untuk kambing, warga kini masih mengelolanya secara perorangan. Begitupun dengan ayam dan itik. Tapi untuk ikan lele dan nila, sudah dikelola bersama dalam Bumdes.

“Dulu sistemnya kan kita kasih kan kelompok. Tapi kebanyakan gagal. Tahun ini kami mulai ngulang, mengubah sistemnya, polanya. Jadi kita melalui Bumdes,” terang salah satu warga setempat.

Ia juga menerangkan, kurangnya pantauan dan petugas kesehatan hewan yang menjadi faktor mengapa program kelompok dulu itu gagal.

“Dengan adanya wadah seperti Bumdes, kita kan sudah bisa mendatangkan petugas kesehatannya, kita juga bisa rekanan dengan lembaga pendamping kita,” lanjutnya.

Selain itu, desa di Kubu Raya ini juga memiliki kekayaan hutan yang melimpah. Yang mendominasi, di antaranya hutan mangrove, gambut, dan nipah.

Untuk hutan gambut, menurut keterangan dari Belantara, ini terbentuk secara alami sejak ratusan tahun silam. Gambut sendiri merupakan lapisan organik yang mirip seperti spons karena mampu menampung air.

Tanah-tanah gambut kini dijadikan sebagai sumber pengairan pertanian. Karena banyaknya pembukaan lahan untuk tujuan ekonomis, gambut yang tadinya seperti spons menjadi semacam kolam besar. Inilah gambut (sumber pengairan) buatan.

“Gambut itu dasarnya ranting, pohon, macam-macam. Tapi itu udah ratusan tahun. Tapi karena ini dibuka jadi kebun sawit dan lain-lain, kadang-kadang buat alat transportasi dibuka juga kan, jadi airnya itu keluar. Nah, sama masyarakat karena dibuat macam-macam, dibuatlah sekat supaya lahannya tetap basah,” ungkapnya.

Adalah niscaya untuk kini mengalih-fungsikan gambut. Jika saja fungsi awalnya tetap dipertahankan, tidak untuk tujuan apa-apa, seperti penghunian dan pertanian, maka tanahnya akan tetap basah namun airnya tidak akan keluar.

“Persoalannya, orang gatel lihat luasan tanah begini. Warga ingin menggali nilai ekonomis dari lahan gambut,” terangnya kembali.

Karena fungsi awalnya seperti spons, dibuatlah gambut-gambut buatan. Air gambut di-manage atau disekat. Kalau tidak demikan, di musim kemarau, karena pertanian butuh air, maka kandungan air gambut akan berkurang. Pun demikian ketika gambut buatan tersebut tidak disekat.

“Airnya akan mengalir langsung ke dasar sungai. Itu yang tidak diinginkan,” sambungnya.

Kini, gambut buatan warga panjangnya sudah mencapai kurang lebih 1.750 meter. Untuk Desa Sumber Agung sendiri, batas gambut buatan sampai pada batas-batas desa sendiri. Inilah satu bentuk konservasi alam pemerintah desa untuk kesejahteraan warga secara bersama. Setidaknya menjamin ketersediaan air bagi pertanian warga desa.

Berlanjut ke ekpedisi terakhir, yakni hutan nipah, para peserta pun berkesempatan memanen langsung buah-buah nipah yang tumbuh secara alami di pulau-pulau kecil di kawasan desa ini.

Menurut warga setempat, hutan nipah boleh dimanfaatkan oleh siapa saja. Tak ada regulasi khusus meski termasuk sebagai Hutan Lindung. Syarat yang disepakati bersama adalah memanfaatkan dan menjaga (melestarikan), produksi dan proteksi.

Hal senada juga disampaikan oleh pihak Komunitas Sampan yang mendampingi peserta di lokasi konservasi. Diungkapkan bahwa arah dan gagasan untuk perbaikan tata kelola kawasan hutan pesisir (termasuk hutan nipah) adalah terwujudnya ekonomi fair dan sustainable di landskap Kubu Raya dengan keseimbangan proteksi dan produksi dalam menjaga stabilitas usaha dan koservasi bagi masyarakat dan dunia bisnis.

“Prinsipnya hanya dua, proteksi dan produksi, memanfaatkan sekaligus berpikir untuk melestarikan. Meningkatkan potensi yang ada, menggali potensi yang masih tersembunyi,” tandasnya.

Mengetahui betapa pentingnya konservasi hutan dan pelestarian alam, maka tak ada alasan untuk tidak bersatu membangun bersama dari pinggiran untuk kesejahteraan masyarakat dan kemandirian desa. Bahwa konservasi pada akhirnya untuk kesejahteraan manusia.

Artikel Terkait