Kita hidup pada zaman era modernisasi yang berpengaruh dalam banyak aspek bidang kehidupan. Tidak hanya kids zaman now saja yang ikut terpengaruh oleh modernisasi, tetapi juga tak sedikit pula gereja yang tetap keukeuh pada ideologi pengajarannya.

Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya diskriminasi antargereja yang dapat merusak rasa persaudaraan antarumat seagama. Akhirnya, karena pengajaran yang telah terjadi di salah satu pihak, maka akan mengakibatkan muncul dan terjadinya sifat eksklusif pada gereja.

Hal ini dapat memengaruhi pola pikir jemaat salah satu pihak pada gereja tersebut. Gereja, yang mana harus memiliki sifat melayani satu sama lain, malah memiliki sifat saling memusuhi antarumat seagama. Bukan salahnya jemaat saja, namun, sebagai contoh, yang menjadi panutan malah pemimpin gereja ikut turut andil dalam hal tersebut.

Mungkin dengan alasan merasa bahwa pengajarannyalah yang paling baik dan benar, maka biasanya gereja tersebut tidak akan mudah untuk menerima jemaat yang bertolak belakang dengan ajaran gerejanya, yang mana malah menimbulkan konflik dan tidak ada tenggang rasa terhadap umat seagama. Akhirnya pada acara keagamaan pun tak saling sapa satu sama lain yang pada akhirnya menimbulkan rasa benci antarumat seagama. 

Mengapa gereja-gereja harus terjadi hal seperti itu? Bukankah seharusnya gereja menjadi contoh yang baik? Bukankah perbedaan itu lebih baik ketika perbedaan itu dijadikan satu kesatuan?

Bukankah kita hidup di tanah yang memuliakan Bhineka Tunggal Ika yang bersemboyan berbeda-beda tetapi tetap satu jua selamanya? Bukankah kita sebagai satu kepercayaan yang seharusnya dapat memuliakan nama Tuhan, bukan malah menimbulkan keeksklusivitasan yang akhirnya membeda-bedakan tujuan yaitu memuliakan nama Tuhan tersebut? Apakah yang salah? 

Walaupun globalisasi telah memengaruhi dunia, bukankah gereja seharusnya memiliki sikap dinamis namun tetap memegang teguh pengajaran-pengajaran yang baik dan riil di dalamnya? Bukan malah terpengaruh dengan sifat globalisasi, yaitu individualisme yang menimbulkan sekat-sekat yang memisahkan antarumat seagama.

Seharusnya gereja menjadi transformasi, artinya gereja hadir untuk mentraformasikan atau menguduskan dunia atau kebudayaan. Sikap ini dikemukakan oleh Ricard Nebuleur dalam bukunya Christ and culture. Pokok ini menujuk pada sikap gereja terhadap kebudayaan, sekaligus mempunyai upaya antar kontibusi gereja terhadap budaya itu sendiri dalam upaya kekudusan.

Sikap ini seharusnya dikembangkan agar gereja tidak terjeret dalam kebudayaan yang pada akhirnya menunjukkan sikap konformis atau malah menguasai. Ketika gereja tidak lagi kritis terhadap dirinya, gereja bisa jatuh dalam sikap kompromi dengan kebudayaan lain.

Dalam mewujudnyatakan fungsi gereja sebagai lembaga sosial, gereja juga harus mampu mengkritisi dirinya sendiri (self-criticism), sehingga semua yang dilakukan tidak tertuju pada upaya mencari ketenaran dan membanggakan diri, namun semua yang merupakan wujud syukur kepada Tuhan yang maha Esa.

Selain itu, gereja juga harus terbuka untuk mengakui kekurangan/kelemahannya dalam menjalankan fungsi sosial ini. Dengan pengakuan semacam ini, gereja dapat terus mengevaluasi diri ke arah yang lebih baik.

Sebagai persekutuan, gereja ada di dunia untuk melayani dunia. Tuhan yang kepala Gereja datang bukan untuk dilayani, melainkan melayani. Demikian pula gereja ada di dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Melalui upaya ini, gereja akan sanggup menghidupkan kasih serta meneruskan kasih Tuhan di tengah-tengah dunia.

Gereja akan mampu menjadi garam yang memberi makna baru bagi dunia; menjadi terang yang menuntun umat kepada terang Allah yang kudus. Supaya orang-orang yang masih hidup dalam kegelapan dan tidak mengenal Allah dapat hidup berbalik untuk hidup dalam terang dan mengenal Allah.

Sebagaimana gereja yang sanggup mengkritisi diri sendiri sebagai lembaga sosial, demikian pula sebagai persekutuan, gereja juga harus mampu mengkritisi dirinya sendiri. Apakah selama ini gereja telah betul-betul mewartakan kasih Tuhan dengan baik?

Apakah dalam melayani, gereja menerapkan konsep kesetaraan, menjunjung harkat dan martabat manusia? Apakah gereja telah benar-benar mempersekutukan umat dalam satu ikatan persekutuan sehingga umat tidak tercerai-berai? Melalui self-criticism semacam ini, gereja akan terus bertumbuh dalam menjalankan misinya bagi dunia.

Mengoreksi kesalahan dari dalam diri sendiri memang sulit. Tetapi jika mengoreksi kesalahan orang lain, sangat cepat untuk menemukannya kesalahannya. Dengan cara seperti itu, gereja tidak akan memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang baik bagi jemaat maupun bagi pemimpin gereja.

Dengan mencari dan mengoreksi kesalahan dari dalam diri kita sendiri, gereja akan cepat untuk bertumbuh. Gereja akan mampu menjadi panutan bagi lingkungan sekitarnya dan gereja akan mudah untuk bergaul dengan siapa saja untuk memajukan gereja bersama-sama.

Dengan membuka diri, gereja akan menimbulkan keharmonisan umat seagama dalam gereja dan hidup rukun antarumat seagama. Gereja harus mulai mengembangkan misi dan tujuan dengan baik secara bersama-sama agar dapat terwujud dengan apa yang diinginkannya.