Arsiparis
1 tahun lalu · 224 view · 5 menit baca · Agama 44570_81064.jpg
https://pixabay.com/

Eksklusivitas Agama Tak Layak Disebarkan di Media Massa

Indonesia adalah negara yang beragam budaya serta agama. Pergesekan yang dipicu sikap intoleransi rawan untuk terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat. Media informasi bisa menjadi pisau bermata dua bila kita tidak bijak menggunakannya atau digunakan sebagai alat pemecah belah oleh  oknum oknum berpandangan  sempit.

Intoleransi semakin hangat dibicarakan ketika isyu dipoles dengan perbedaan kepercayaan yang sesungguhnya adalah ranah pribadi warga negara. Seharusnya perkembangan media informasi harus bisa dimbangi dengan kesadaran masyarakat untuk menggunakannya secara bertanggung jawab. Ini ditujukan agar ujaran yang mengarah pada mediskreditkan golongan tertentu di negeri yang beraneka ragam ini bisa diminimalkan.

Eksklusivitas Agama Adalah Wilayah Pribadi Yang Tak Layak Disebarkan Di Media Massa

Ketika pemahaman personal (agama) dimunculkan ke wilayah publik harusnya sang pemeluk agama bisa mengambil point poin penting ajaran agama yang dianutnya yang bisa diterapkan secara universal. Ini disebabkan karena ajaran agama mempunyai sisi eksklusivitas yang memang harus dipegang oleh pemeluknya. Tidak selayaknya sisi eksklusivitas sebuah agama dimunculkan ke wilayah publik karena adanya keberagaman di tengah tengah kita.

Dalam kedudukan bernegara dan berbangsa kita tidak bisa memaksakan hukum yang dimiliki agama tertentu mengingat kemajemukan kondisisosial yang dimiliki negara kita. Hukum yang diacu oleh suatu Negara tentunya sudah mengakomodir setiap aturan dan hukum hukum yang berlaku baik itu hukum adat dan agama. Dan kondisi ini harusnya kita teladani dari para pendahulu kita yang berhasil mencetuskan ide keberagaman berbeda tapi tetap satu juga.

Setiap tokoh   agama yang tumbuh di negeri ini harusnya mampu menjadi penabur perdamaian dengan memanfaatkan media massa bukan membesarkan perbedaan antar agama.

Tentunya sisi eksklusivitas suatu agama harus bisa dikunci rapat dalam ranah pribadi karena itu sebuah keniscayaan. Misalnya menganggap agamanya sebagai ajaran yang paling benar adalah keniscayaan dan inilah yang harus dikunci rapat di ruang pribadi masing masing pemeluk agama.

Dan apabila ini dimunculkan ke ruang publik tentunya kan terjadi gesekan dan benturan mengingat semua agama berhak untuk meyakini agamanya benar. Seringkali pertikaian terjadi bila masing masing merasa benar.

Ada hal hal dalam ajaran agama yang inklusif dan universal yang harus ditumbuhkan, misalnya, berbuat baik ke sesama, cinta kasih dan tolong menolong. Itu semua adalah ajaran agama yang bisa digunakan dan dimunculkan ke wilayah publik namun seringkali disalahartikan hanya ke sesama golongan saja padahal inti ajarannya tidak demikian

Penguatan Ajaran Agama Yang Bermuatan Perdamaian

Sejarah panjang konflik keagamaan  seringkali lebih awet berlangsung. Sejarah besar perang salib misalnya, banyak ditengarai hanya soal kekuasaan dan dominasi sumber ekonomi namun karena dibungkus nilai nilai agama oleh elite agama yang fanatic dan radikal di kedua belah fihak maka konflik itu menjadi berkepanjangan. Apalagi ada bumbu surge dan neraka maka militansinya kan semakin membara.

Media harus mengambil peran dalam hal untuk memfasilitasi penyebaran  penguatan nilai nilai agama khususnya yang berisi tentang perdamaian. Pemahaman agama harus lebih universal mengingat kita hidup di tengah tengah perbedaan. Meringankan beban orang lain, tidak memaksakan kehendak ke orang lain dan selalu menghargai perbedaan adalah aajaran universal yang dimiliki oleh setiap agama.

Sudah bukan waktunya  lagi kita menumbuhkan rasa pengecut dengan membuat akun palsu untuk menebarkan kebencian via media yang hanya akan membuat kita terpecah sebagai bangsa.

Apa yang diwariskan oleh para pembawa wahyu adalah contoh nyata. Nabi Muhammad SAW, misalnya tak menganjurkan umatnya untuk memusuhi umat agama lain. Bahkan, kesabaran beliau adalah contoh dan teladan yang bagus untuk diikuti nyata akan figur beliau.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21).

Tak dipungkiri juga pada penganut agama lain misalnya Yesus yang menyerahkan pipi kiri ketika pipi kanan ditampar. Ada juga dalam ajaran Hindu yang dalam Baghawatgita ajaran kemanusiaan sebegitu rupa dan mendamaikan. Budha Gautama pun sama mengajarkan kedamaian dengan mengabdikan hidup sebagai rakyat jelata.

Semakin Religius Seseorang Semakin Rendah Hati

Semakin religius seseorang ia akan semakin terlihat menghindari kekerasan bahkan mengutuknya. Kita bisa lihat tokoh tokoh baik dia Agama Islam, Hindu, Budha, kristen, katolik dan semuanya. Di antara tokoh tokoh tersebut bisa sebut nama nama; Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Dalai Lama, Yusuf Al Qardhawi, Sri Paus Yohanes II, dan Imam Khomeini adalah orang orang biasa yang mempunyai religiusitas tinggi yang mengecam kekerasan di dunia.

Mereka adalah contoh konkret bahwa dalam melaksanakan agama bukan dengan khotbah khotbah yang menggelegar tapi bagaimana mereka beraksi dan tetap kukuh dalam menentang kekerasan walaupun itu terjadi pada dirinya mereka tidak membalas dengan kekerasan pula.

Mereka yang saya sebut di atas adalah orang orang yang tidak mendapat materi dari apa yang ia perjuangkan. Bahkan yang tragis ada beberapa yang rela mati untuk memperjuangkan idenya.

Itulah teladan yang bisa kita tiru bagaimana mereka memperlakukan kekerasan yang ia terima bahkan ada salah satu yang menjadi martir dalam memperjuangkan idealismenya menetang kekerasan.

Sebelum kita mengikuti seruannya kita bisa menengok dan mempelajari sejarah hidup tokoh tersebut. Layakkah mereka kita ikuti seruannya disaat mereka sendiri masih belum tulus karena masih terbungkus nafsu pribadi. Dan apabila kita mengikutinya tentunya itu disebabkan adanya kesamaan motivasi diri kita dengannya.

Agama adalah suatu yang personal yang tentunya harus penuh kehati-hatian bila menyuarakan ajarannya di tengah keberagaman agama di negara kita.

Terlebih lagi akhir akhir ini bagaimana isyu agama semakin menjadi jadi untuk dialamatkan pada seseorang baik itu yang seagama maupun yang berbeda agama. Kita perlu menjadi umat yang cerdas agar tidak termakan dengan mudah hasutan hasutan yang mengatasnamakan agama.

Agama adalah wilayah personal seseorang yang dalam hubungannya dengan sang pencipta begitu pribadi dan rahasia. Bukankah Tuhan pun membenci orang yang sering ujub dalam beribadah?

Kita seringkali ceroboh memaknai religiusitas seseorang. Seringkali kita menilai dari perilaku yang nampak saja dari religiusitas seseorang. Itulah salah satu wilayah public yang gampang sekali menipu kita dengan penampakan apa yang terlihat secara zahir.

Adakah kita pernah menelisik kehidupan pribadi seseorang ketika ada di depan orang dan ketika mereka sedang sendirian. Seorang yang taqwa seringkali sama perilakunya baik saat dihadapan orang banyak maupun sedang sendirian; sama sama santun.

Mari berkaca pada diri masing masing sudahkah kita menghayati ajaran agama kita secara kaffah. Sudahkah kita Bersikap santun sebagaimana kita beribadah kepadanya yang membutuhkan ketenangan tanpa berikap riuh rendah dan bising.

Religius bukanlah dilihat dari cara berpakaian maupun kerasnya teriakan. Religius adalah kesantunan yang senantiasa selalu menciptakan kedamaian dan ketenangan berlandaskan agama masing-masing. Agama harus menjadi Rahmatan Lil alamin. Rahmat bagi seluruh alam bukan rahmat bagi sebagian golongan. Anda Setuju? Salam..

Artikel Terkait