“What is essential in the concrete decisions of personal fate remains hidden.”
“Apa yang esensial dalam keputusan konkret yang menyangkut nasib pribadi tetap akan tersembunyi.”

Filsafat eksistensialisme merupakan salah satu aliran filsafat yang sadar akan kenyataan manusiawi, artinya rumpun filsafat ini fokus pada manusia sebagai eksistensi keberadaannya dalam suatu dunia. Saya rasa penyadaran akan definisi tidak bisa panjang lebar karena saya memfokuskan tulisan ini pada corak pemikiran eksistensialis Karl Jaspers.

Bermula dari penilaian subjektif penulis akan kesombongan dan besar kepala Heidegger dalam menanggapi realitas ontologis yang melahirkan suatu konsep filsafat yang kering dan gersang akan nilai-nilai spiritualitas, konsep seperti inilah yang menjadi musuh utama Agama.

Hubungan manusia dengan Sang Pencipta dicederai oleh sebuah konsep bahwa subjek-subjek pribadi mempunyai pandangan terhadap dunia yang bersifat tunggal dan universal secara ontologis, inilah pandangan Heidegger terhadap dunia yang bertolak belakang dengan pandangan Jaspers.

Menurut Jaspers Pandangan subjek-subjek pribadi berbeda-beda dalam pengamatan terhadap kenyataan dan penerimaan kebenaran (iman), bagi Jaspers suatu ontologi yang disuguhkan Heidegger sangatlah tidak mungkin sebab pandangan kita tentang apa yang esensial itu berbeda-beda.

Perbedaan ini adalah karena dunia yang kita amati selalu tampil sebagai pengalaman pemisahan subjek-objek, kita sebagai subjek dan dunia sebagai objek. Sebagai subjek, kita berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam “pengamatan” kita masing-masing, dunia kita pun berbeda ragamnya.

Setiap manusia dalam situasinya sendiri-sendiri tampil dengan kekhususannya dalam “mengamati” dunianya. Oleh karena itu, tidak mungkin kita sampai pada penemuan esensi yang tunggal, universal, dan mutlak. Jaspers tidak menolak bahwa esensi yang mutlak itu ada, hanya saja dia menegaskan bahwa kita tidak akan mampu menemukannya dalam suatu dunia yang kita hadapi sebagai “objek”.

Selama kita mendiami dunia ini dengan penghayatan subjek-objek, maka dunia yang kita amati adalah dunia yang fenomenal belaka, dunia tidak sebagaimana adanya pada sendirinya, yaitu suatu dunia yang merupakan kontruksi subjektif kita yang muncul dari kemampuan sintesis antara intuisi dan pengertian kita terhadap dunia.

Untuk mengatasi ketidakmampuan menangkap hakikat mutlak dalam kesatuan subjek-objek secara menyeluruh, Jaspers mengusulkan istilah baru das Umgreifende/the Comprehensive, bagi dia das Umgreifende tetap tak jelas sebab kita hanya bisa menangkapnya jika mengubahnya menjadi objek.

“Yang komprehensif itu akan tetap tak jelas bagi kesadaran saja. Ia menjadi terang hanya melalui objek-objek, dan makin beartambah terang bilamana objek-objek itu disadari dan lebih jernih.” Dikotomi subjek-objek ini akan selalu menyertai kita dalam usaha mengamati, memahami, dan menghayati kenyataan meskipun objek pengamatannya adalah diri kita sendiri, kita dipaksa untuk membelah diri menjadi subjek sekaligus objek.

Kita menjadi sesuatu yang lain dari kita sebagai subjek. Bagian yang menyeluruh (das Umgreifende) itu adalah transendensi Tuhan dan dunia, sedangkan kenyataan kita sebagai manusia adalah eksistensi. Disini bagian yang menarik dari pemikiran Jaspers dan sekaligus menjadi dasar saya menyebut Eksistensialisme Jaspers sebagai Eksistensialisme Religius, dia menyadari keadaan menyeluruh terhadap transendensi Tuhan tapi Jaspers sendiri tidak menunjukan sikapnya yang pasti tentang Tuhan.

Jaspers mengatakan dalam salah satu kutipan bukunya. “Tuhan yang diimani adalah Tuhan yang jauh, Tuhan yang tersembunyi, Tuhan yang tak bisa diperagakan. Oleh karena itu, saya harus mengakui bahwa sebenarnya saya tak tahu akan Tuhan, bahkan tak tahu apakah saya percaya (terhadapNya).”

Bagi Jaspers manusia adalah suatu kebebasan. Kita makin sadar tentang eksistensi diri kita sebagai kebebasan justru apabila kita dihadapkan pada berbagai imperatif. Demikian juga tanggapan terhadap Tuhan yang antara lain tampil kepada manusia sebagai sumber imperatif, yang pada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa makin sungguh-sungguh seseorang sadar akan kebabasannya maka makin kuat kepastiannya tentang adanya Tuhan.

“Makin sejati kebebasan seseorang, makin kuat kepastiannya tentang Tuhan. Kalau saya sungguh-sungguh bebas, saya menjadi pasti bahwa saya tidak bebas karena saya sendiri.” Tuhan adalah sumber kebebasan, sedangkan dalam kebebasaan seseorang, Tuhan dapat ditemuinya, karena Tuhan adalah suatu keterbukaan yang tak kunjung beku dalam penghayatan manusia, jadi secara hakikat manusia mempunyai kebebasan secara ajali.

Jaspers menolak pada para pemuka gereja yang menyuguhkan Tuhan sebagai “barang jadi” atau sebagai objek pasti, padahal kebebasanlah yang memungkinkannya menyadari Tuhan sebagai yang ada. Cara seperti ini sama saja menyajikan Tuhan dengan dikotomi subjek-objek dan sangat tidak pantas menghayati Tuhan dengan cara seperti ini, karena pengetahuan akan Tuhan menjadi bukan Tuhan secara menyeluruh dan utuh.

Tentang hal ini Jaspers menulis : “Hubungan manusia dengan Tuhan bukanlah suatu sifat yang ditentukan oleh alam. Karena hubungan itu hanya menjelma dalam pertautannya dengan kebebasan, ia hanya timbul pada individu bilamana dari pengukuhannya yang vital terhadap hidup ia melangkah kepada dirinya sendiri, yaitu ke suatu wilayah yang sungguh-sungguh bebas dari dunianya.

Wilayah itulah yang memungkinkannya bebas dari duniannya, sebab ia hidup dalam hubungan dengan Tuhan. Bagi saya, Tuhan adalah kehadiran yang sesuai dengan derajat kesejatian eksistensi saya.” Ide ini hampir mirip dengan illuminasi suhrawardi mengenai pengetahuan akan Tuhan, seorang hamba mempunya porsinya masing-masing pengetahuan tentang Tuhan karena kemampuan manusia yang berbeda-beda, jadi intensitas cahaya yang diperoleh seorang hamba sesuai dengan derajat keadaan seorang hamba dalam perenungan.

Subjektifitas yang sopan seperti inilah yang saya kagumi dari pemikiran eksistensialisme Jaspers, bahkan filsuf dinamit sekelas Nietzsche pun mengenai pengetahuan akan yang Mutlak dia mengatakan, “cukuplah mendekat dengannya jangan sombong menyingkap tabir keAgungan itu hanya karena hasrat ingin menyatu denganNya.

Dan sekali lagi, ontologi universal yang dikemukakan Heidegger merupakan kesombongan ingin melampaui kenyataan yang memang pada hakikatnya manusia mempunyai sisi kelemahan dan ketidak mampuan untuk mencapai hal itu. “Aku mencintai Allah, bukan karena aku mencintaiNya. Tapi karena Allah sendiri yang merestui dan mentakdirkan supaya aku mencintaiNya.”

Mungkin redaksi Nabi kita ini tidak menjadi bahasan dalam eksistensialisme, tapi menurut saya justru inilah yang lebih eksis dan sejati.