Dengan mempertimbangkan paradigma eksistensial mengenai kondisi manusia, terbukti bahwa didalamnya mencakup banyak pandangan tergantung pada sudut pandang mana penulis memilih tema sebagai bahan kajianya. Namun, dalam banyaknya tema-tema tersebut, terdapat tema-tema umum yang cukup sering dibicarakan dalam memahami keberadaan manusia.Tema-tema ini adalah kebebasan, tanggung jawab dan kehendak manusia.

Sama seperti Kiergard, Nietzsche dianggap sebagai salah satu leluhur Eksistensialisme. Meskipun terkesan eksentrik dan sangat terbuka untuk di interpretasikan, namun hal inilah yang membuat pemikiran Nietzsche sering di salah artikan dalam cara-cara yang mengandung kekejaman. Tetapi saya meyakini bahwa diluar dari itu semua, pandangan filsafatnya bisa menjadi pertimbangan yang relevan dalam memahami kondisi manusia.

Nietzche berpendapat bahwa kehidupan itu sangatlah tidak rasional dan menegaskannya melalui sejarah, doktrin agama dan sains yang akhirnya membawa manusia terasing dari keberadaan hakikinya yaitu kehendak untuk berkuasa. Nietzsche berupaya untuk mendefinisikan kembali kebenaran dari perspektif holistik berbasis realitas empiris. 

Melalui pengakuan bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat ultimate atau terakhir dalam hidup manusia dan secara sadar menerima penderitaan sebagai aspek yang tidak dapat terhindarkan dalam kehidupannya, dapat membawa seseorang menjadi Ubermensch. Ubermencsh diartikan sebagai individu yang memiliki kesadaran dan kebebasan penuh dalam menciptakan dan memimpin kehidupanya.

Bagi Nietzsche sejarah dipandang sebagai pergeseran interpretasi dan nilai-nilai. Pengertian atas segala hal yang ada merupakan tafsiran dan pemahaman atas sejarah. Nietzcshe percaya dua hal penyebab pergeseran nilai dan interpretasi tersebut adalah agama dan ilmu pengetahuan. Semua sistem agama, ilmu pengetahuan dan ideologi apapun yang mengatur kehidupan manusia dalam cita-cita yang menyangkal kehidupan (akhirat, dosa, pahala dsb) telah mengasingkan manusia dari naluri alamiahnya.

Menurut Nietzsche, cara yang dilakukan orang-orang beragama dalam upaya mengasingkan manusia dari keberadaan hakikinya adalah dengan membawa janji keselamatan dan kebahagiaan sebagai imbalan atas perbuatan baik dan  menekan emosi untuk tidak melakukan perbuatan buruk demi menuju hari penghakiman (kiamat). Sedangkan ilmu pengetahuan dengan perspektif rasionalnya menyingkirkan segala hal dengan menyisakan bukti empiris yang pada giliranya akan mengurangi sifat objektif dan mekanis seseorang dalam memandang sesuatu secara menyeluruh. 

Oleh karena itu manusia harus meninggalkan segala bentuk sistem keyakinan. Alasannya bahwa realitas eksistensial mendasar dan tak terhindarkan adalah tidak ada jaminan bahwa kehidupan yang baik atau tidak, adil atau tidak, akan membawa keuntungan manusia di masa depan.

Begitu juga dengan ilmu pengetahuan telah gagal memberikan jawaban serta pandangan yang secara menyeluruh mengenai eksistensi manusia, sehingga tidak dapat menjadi alternatif yang memuaskan. Tidak ada suatu sistem apapun yang mengungkapkan kebenaran secara menyeluruh, kebenaran yang hanyalah sebuah sudut pandang dari suatu perspektif tertentu.

Dengan demikian menurut Nietzsche dalam menyoroti kebebasan dan tanggung jawab adalah dengan pernyataan bahwa kebebasan akhir berarti tidak adanya sistem / struktur eksternal (nihil). Manusia tidak masuk ke dalam semesta yang terstruktur dengan baik namun justru harus menciptakanya dan karenanya manusia bertanggungjawab atas dunia, pilihan dan tindakanya. Dalam posisi eksistensial, kebebasan manusia hadir bersamaan dengan tanggung jawab manusia.

Perdebatan yang terjadi pada abad pencerahan antara ilmu pengetahuan dan gereja dimana banyak lahirnya ilmu pengetahuan yang menyatakan kebenaran berdasarkan pada rasionalitas, memiliki konsekuensi penurunan popularitas gereja dan agama sebagai otoritas kebenaran bagi manusia. Periode inilah yang membawa Nietzsche dalam pernyataan bahwa Tuhan telah mati. Metafora Tuhan telah mati mewakili apa yang diyakini Nietzsche sebagai penurunan nilai tradisional yang terjadi pada masyarakat eropa pada abad ke-19. 

Menurut Nietzsche kondisi tersebut mengarahkan manusia pada budaya nihilism yang membawa manusia dalam penolakan terhadap nilai-nilai tradisional. Akan tetapi Nietzsche tidak melihat ini sebagai akhir yang pesimis bagi kemanusiaan, bahkan melambangkan kesempatan untuk melakukan pembaharuan serta regenerasi nilai-nilai dan makna dalam kehidupan manusia.

Filsafat Nietzsche menegaskan bahwa tidak ada satu hal pun yang mutlak, semuanya harus dipertanyakan. Berkenaan dengan pandangan eksistensialisme, menurut Nietzsche ini adalah kunci penyelidikan dan dapat dianggap sebagai awal proses pencerahan pribadi yang mempengaruhi tindakan seseorang di dunia. Konsekuensinya, kebenaran tidak dipandang sebagai sesuatu yang statis, namun lebih merupakan proses dinamis yang menggambarkan kehidupan yang dialami.

Dengan demikian sifat kebenaran bagi Nietzsche tidak bersifat objektif dan dalam waktu yang bersamaan tidak bersifat subjektif pula. Karena proses berfikir tidak sepenuhnya rasional, independen diluar tubuh, subjektif dan melalui intelek saja, tetapi juga melibatkan aspek empiris manusia. Selain itu kebenaran manusia tidak semata-mata berasal dari akal saja, melainkan merupakan kombinasi dari naluri, gairah dan dorongan yang ada dalam kehidupan manusia. 

Oleh karenanya, bagi Nietzsche usaha sains dalam mengamati dunia sebagai realitas eksternal dan terpisah dari manusia akan selalu gagal sehingga tidak dapat mengambil sikap netral terhadap dunia dikarenakan individu selamanya terlibat dalam dunia ini. Pandangan utama Nietzsche dalam hal ini adalah setiap fakta atau kebenaran dimulai dari penafsiran kehidupan manusia yang memungkinkan suatu realitas menjadi ada. 

Konsep sentral yang mendasari filsafat Nietzsche adalah kehendak untuk berkuasa sebagai dasar dari kehidupan manusia. Dunia adalah kehendak manusia untuk berkuasa, dan darinya manusia dapat menafsirkan, mendefinisikan, berkehendak melalui setiap pergeseran hubungan kekuasaan. Konsep kebebasan eksistensial terbukti saat Nietzsche menyatakan bahwa keinginan manusia sebagai dorongan dalam mendapatkan kekuasaan inilah yang disebut sebagai kebebasan. 

Menurut  Nietzsche keinginan untuk berkuasa adalah sintesis dari dua energi, Dionysian dan Apollonian. Sifat Dionysian adalah sifat spontanitas yang terdiri dari naluri primer (instink, nafsu dsb), sedangkan sifat apollonian adalah akal dan rasionalitas. Jelas bahwa Nietzsche melihat sejarah (dalam agama dan ilmu pengetahuan) mengasingkan seluruh pengalaman manusia dalam upaya untuk menekan sifat Dionysian dari kehidupan manusia. 

Bagi nietzche kedua karakteristik ini sangatlah penting bagi manusia, dengan kesalingterkatian antara kedua sifat tersebut memungkinkan kehendak untuk berkuasa mengendalikan siklus kekacauan dan ketertiban, penciptaan dan penghancuran. Ketegangan dinamis antara kedua sifat tersebut mendukung pernyataan Nietzsche tentang bagaimana pembaharuan dan penciptaan kembali nilai-nilai melalui kehendak untuk berkuasa. Penghancuran satu budaya atau sistem nilai memungkinkan dan mendorong kebudayaan dan sistem lain untuk muncul.

Berbeda dengan Sartre yang memandang hal esensial bagi manusia adalah kesadaran, bagi nietzche yang esensial adalah kehendak untuk berkuasa, kesadaran dipandang sebagai akibat dari kehendak tersebut. Dorongan kehendak untuk berkuasa pada diri manusia terus menerus memproyeksikan diri dalam individu untuk “menjadi”. Hal ini menjadikan seseorang terus menerus bertumbuh. Dan karenanya jika kehendak untuk berkuasa sedemikian rupa ditekan atau diabaikan, maka sifat tersebut akan mencari jalan keluar. Kemungkinan yang terjadi adalah manifestasi secara positif konstruktif atau negatif destruktif tergantung pada situasi yang ditemuinya. 

Berkenaan dengan kondisi manusia, sulit untuk menggambarkan kondisi kehendak untuk berkuasa dalam istilah yang tepat. Hal ini dikarenakan kehendak untuk berkuasa pada manausia adalah pengalaman yang berbeda pada kehendak untuk berkuasa pada binatang atau entitas lain. 

Kehendak untuk berkuasa pada manusia bersifat reflektif dan karenanya berkembang serta menyesuaikan diri sesuai dengan konteksnya. Sehingga kehendak untuk berkuasa akan memanifestasikan diri secara berbeda pada setiap individu yang berbeda dengan melibatkan banyak budaya,setting social dan lingkungan serta kepentingan masing-masing individu.  Juga dapat dikatakan bahwa kehendak unutk berkuasa dianggap sebagai proses tak terbatas dalam ke-menjadi-an manusia dengan asumsi yang berbeda dan bentuk yang berbeda serta dalam kesempatan yang berbeda. 

Konsep kehendak untuk berkuasa sangat bersifat terbuka dan sangat rentan terhadap terjadinya salah tafsir dan berujung pada penganiayaan jika tidak didekati dengan pertimbangan dan pengertian yang cermat. Sejarah membuktikan atas kesalahan interpretasi tersebut banyak tiran yang bermunculan, sebagai contoh Hitler, dalam dominasi dan konsepsi bahwa ras induk arian adalah ras yang unggul, sehingga ras selain arya dapat dimusnahkan.  

Selain agama dan ilmu pengetahuan, Nietzsche berpendapat bahwa manusia itu sendiri adalah suatu hal yang harus diatasi dan sebagai hasilnya ia mengusulkan sebuah sikap baru sebagai alternatif yang diperlukan oleh seseorang. Sikap tersebut adalah semangat bebas dari manusia super, Ubermensch, yakni seseorang yang berani untuk merangkul segala bentuk eksistensi manusia dengan berusaha mencapai perspektif yang lebih besar dan memulai perjalanan mandiri dalam hidup. 

Orang tersebut adalah para filsuf yang memaksimalkan potensi sendiri dalam pencarian kebenaran, sehingga mampu memilih, dan menciptakan nilai-nilai baru berdasarkan realitas kondisi manusia, yang pada giliranya memungkinkan mereka untuk menegaskan posisi mereka di dunia. Selanjutnya tujuan Ubermench ini tidak hanya untuk menemukan hakikat diri yang sebenarnya, namun juga melampauinya. Dengan melampaui diri, seorang ubermencsh mencapai sebuah keadaan abadi. Individu ini tidak hanya menemukan kebenaran bagi diri mereka sendiri. 

Meskipun konsep Ubermench menunjukkan untuk menjadi pribadi yang lebih tinggi sangat baik jika harus meninggalkan atau bahkan mengksploitasi masyarakat, tetapi dalam kenyataanya yang menjadi tantangan utama Ubermench dan kehendak untuk berkuasa adalah sikap keberanian individu untuk mengatur keseimbangan dan mengintegrasikan sifat Dionysius dan Apollonia, sehingga dapat mengelola konflik internal yang terjadi dalam dirinya. 

Hal ini berakibat bagi seseorang untuk menerima tanggung jawab dalam memanfaatkan kehendak untuk berkuasa demi menciptakan cara hidup yang positif konstruktif. Dengan demikian kehendak untuk berkuasa adalah kekuatan jiwa-jiwa besar, dan bukan kekuatan para diktator. Kehendak untuk berkuasa adalah kemampuan orang dalam menafsirkan dan menjadi diri mereka sendiri dalam cara-cara yang berbeda. 

Dengan mempertimbangkan faktor eksistensial, Nietzsche menganjurkan sebuah pencapaian dengan keberanian melalui pengetahuan diri yang merupakan aspek penting untuk menjadi Ubermench atau seorang filsuf sejati. Telah banyak orang yang gagal dalam mengajukan pertanyaan bermakna dan mendalam tentang keberadaan mereka demi mencapai kesadaran yang lebih besar. 

Nietzsche menegaskan bahwa untuk mengejar kebenaran tertinggi yang diperlukan untuk menjadi Ubermench bukanlah jalan yang mudah. Individu yang lemah akan mengalami kecemasan eksistensial dan karenanya gagal dalam mencapai tujuan. Sebagai hasilnya individu tersebut mengikuti kebenaran yang disediakan baginya oleh otoritas diluar dirinya dan menyangkal kebebasan mereka serta mengurangi beban dan tanggung jawab dalam usahanya untuk hidup mandiri. 

Individu yang gagal mengambil tanggung jawab dan beralih pada pandangan bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan membaik dan akan mendapatkan kompensasi transenden setelah mengalami kegagalan tersebut, adalah tidak lebih dari sekedar bentuk penipuan terhadap diri sendiri. Seseorang harus bertanggung jawab dalam menegaskan kehidupan di dunia ini tidak hanya melalui pengembangan terhadap realitas, tetapi juga benar-benar menumbuhkan kehidupan yang utuh.