Lagu Menghapus Jejakmu yang dirilis oleh Bunga Citra Lestari (BCL) feat Ariel Noah pada 14 Februari 2020 mendadak jadi sorotan publik di dunia hiburan Indonesia. Viralnya lagu tersebut tidak hanya terkait dengan lagu lawas Peterpan yang dibawakan secara adem dan harmonis, namun juga digenjot oleh kabar duka suami BCL, Ashraf Sinclair, yang meninggal pada 18 Februari 2020. 

Tak terhitung jumlah ungkapan belasungkawa para netizen kepada BCL melalui berbagai laman media sosial pribadinya.

Eksistensi lagu ini masih terus meng-ada, meski sudah berumur 13 tahun lamanya. Saya mengenal lagu ini ketika duduk di bangku 6 SD, dan ketika lagu ini di aransemen kembali, menjadikan saya bernostalgia dengan lagu-lagu lawas Peterpan, namun dalam balutan lagu cover

Kalau dinyanyikan ulang oleh pengarang aslinya sudah biasa. Mungkin juga bosan. Kecuali duet, seperti halnya yang dilakukan BCL ini.

Bagi saya, isi lagu ini cukup eksistensialis dalam hal percintaan. Dan menjadi menarik ketika menengok teori percintaan Jean-Paul Sartre (1905-1980), seorang filsuf eksistensialis kelahiran Prancis, yang memiliki keunikan tersendiri dalam kisah kasih sukmanya (Jean Paul Sartre – Cinta Eksistensialis dalam https://youtu.be/yjCKHP8Rj74).

Dia tidak menikah sampai akhir hayatnya, namun tetap bercinta dengan beberapa gadis. Salah satu partner asmaranya yang dikenal publik adalah Simone de Beauvoir (1908-1986), seorang tokoh feminisme-eksistensialis yang terkenal di awal abad ke-20.

Keduanya pernah menelurkan karya tentang kisah asmaranya. Sartre dengan karyanya Witness to My Life: The Letters of Jean-Paul Sartre to Simone De Beauvoir 1926-1939 (1992). Sedangkan Simone de Beauvoir dengan karyanya Letters to Sartre (1990). Hal ini mengasumsikan kisah percintaan keduanya yang sangat eksistensial. Karena bukti nyata (real) percintaannya meng-ada (being) dalam sebuah karya dan bisa dinikmati hingga sekarang.

Sartre pernah mengatakan; I wanted pure love: foolishness; to love one another is to hate a common enemy: I will thus espouse your hatred. Menurutnya, cinta yang murni adalah kebodohan. Untuk bisa saling mencintai, harus ada musuh bersama. Dan ketika seseorang yang dicintai Sartre membenci sesuatu, ia akan mendukung kebenciannya itu.

Menghapus Jejakmu yang Membelenggu

Kisah percintaan Sartre dengan Simone de Beauvoir yang tidak sampai mengikat tali pernikahan bukan tanpa alasan. Mereka berdua seolah-olah setuju dengan penghapusan jejak yang dapat membelenggu pertalian nikmat asmara. Ada beberapa alasan yang membuat Sartre tidak memutuskan untuk menikah;

Pertama, adagium terkenalnya yang mengatakan bahwa orang lain adalah neraka (hell is other people), mengandaikan kehidupan yang perlu disiasati secara brilian, agar tidak menyengsarakan eksistensi pribadi. Analogi yang ia gunakan adalah lubang kunci (keyhole). Di dalam kamar, kita bebas melakukan apa pun. Namun ketika ada orang yang mengintip, kita jadi malu. Sehingga independensi individu menjadi tereduksi. Tidak bebas.

Dalam kajian filsafat eksistensialis, manusia dituntut untuk bebas melakukan apa pun agar kehadirannya berada di dunia memang benar-benar meng-ada. Namun ketika manusia memilih lajur pilihannya, ia akan dihadapkan dengan yang namanya faktisitas. 

Sebuah peristiwa yang tidak dapat ditiadakan, namun harus tetap dihadapi sesuai kapasitas pribadi. Entah itu dalam laku apatis (bodo amat) ataupun afektif. Seperti halnya kehadiran orang lain, kematian, sosio-kultur, dan peristiwa alam.

Di awal lirik lagu Menghapus Jejakmu, “ku terus melangkah melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu. Jalan pikiranmu buatku ragu, tak mungkin ini tetap bertahan”, merupakan tanda (sign) awal tentang ketidakbebasan seorang subjek yang mencintai. Mungkin memiliki kekasih sebagai pendamping hidup merupakan anugerah terindah bagi sebagian orang, namun tidak bagi Sartre.

Menurutnya, ketika seseorang berhubungan asmara dengan orang lain, ia akan kehilangan individualitasnya yang otonom. Karena di setiap pertemuan antarsubjek—meminjam istilah Umberto Eco (tokoh semiotik abad 20)—akan terjadi gelombang (signal) pemahaman makna antara sumber (source) dan penerima (receiver). Di mana dalam prosesnya, si subjek akan mencoba menyelaraskan pemahaman yang semakna dengan lawan bicaranya.

Dan sangat memungkinkan akan terjadi kesalah-pahaman (miss-understanding) dalam komunikasi interpersonal, karena selalu ada diversitas pemahaman antarsubjek. Bagi Sartre, inilah masalah yang menjadikan seseorang ingin selalu mengobjekkan si subjek. Dalam artian, tidak ingin dipandang rendah harga dirinya.

Kedua, cinta itu konflik. Dikatakan konflik karena seorang individu menghadapi pintu kemerdekaan seseorang yang ia cintai. Ketika ia masuk ke dalam, ia akan berhadapan dengan sengkarut suka-duka orang lain, yang mau tidak mau akan terjadi benturan pemahaman dan penyesuaian.

Dalam lirik “perlahan mimpi terasa mengganggu, ku coba untuk terus menjauh. Perlahan hati ku terbelenggu...”, mengandaikan representasi cinta yang terselip konflik.

Inilah bentuk faktisitasi yang tidak dapat dihindarkan ketika berhadapan dengan orang lain, yakni konflik. Konflik ini lahir karena adanya peperangan antarsubjek yang saling mengobjekkan tadi, sehingga menjadi subjek yang terbelenggu dan membelenggu. Mimpi, seindah apa pun, terasa mengganggu. Cinta yang katanya indah, namun realitasnya membelenggu, mengandaikan cinta yang paradoksal secara eksistensial.

Seseorang yang bisa keluar dari peristiwa semacam ini, sebagaimana lirik selanjutannya, “ku coba untuk lanjutkan hidup. Engkau bukanlah segalaku, bukan tempat tuk hentikan langkahku”, bisa dikatakan sehati dengan Sartre. Ia akan terus meng-otonomkan eksistensinya berada dan meng-ada dalam dunia (being in the world) secara bebas.

Ketiga, cinta adalah pengekangan kebebasan. Oleh karena cinta itu mengekang kebebasan kedua subjek yang saling mencintai, maka tidak heran bila Sartre lebih memilih hidup semaunya, tanpa terlibat pada ikatan cinta perkawinan. Kisah asmaranya dengan Simone de Beauvoir menjanjikan pilihan kebebasan dan keterbukaan dalam menjalani hidup.

Menurut saya, keputusan berhubugan asmara semacam ini menarik. Di awal telah dijelaskan, bahwa manusia dituntut untuk melakukan kebebasan. Namun di sisi lain, ia selalu dihadapkan dengan kutukan faktisitas. 

Sehingga setiap keputusan yang diambil tentu mewujud sebagai hasil yang bisa jadi menguntungkan dan merugikan bagi pribadinya. Jika keputusan yang diambil tidak melalui pertimbangan rasio secara matang, alangkah bodohnya mempertahankan hubungan percintaan semacam ini.

Di akhir lirik lagu Menghapus Jejakmu yang berbunyi “lepaskan segalanya, lepaskan segalanya”,  mengandaikan hubungan percintaan yang tidak perlu berlebihan. Lepaskan saja kerangkeng-kerangkeng yang membuat hati menjadi terbelenggu. Seperi halnya kisah asmara Sartre.

Independensi Individualis yang Eksistensialis

Belajar dari lagu Menghapus Jejakmu dalam sudut pandang Sartre, makin menandaskan independensi individual dalam menjalani kehidupan. “Engkau bukanlah segalaku, bukan tempat tuk hentikan langkahku. Usai sudah semua berlalu, biar hujan menghapus jejakmu. Lepaskan segalanya, lepaskan segalanya.”

Dalam kasus percintaan, seseorang yang kehilangan pasangannya, baik itu ditinggal selingkuh, menikah, dan meninggal, merupakan konsekuensi logis si subjek menghadapi faktisitasi. Sangat memungkinkan orang yang mengalami hal tersebut akan berada pada lubang kekosongan. Meminjam istilah Jacques Lacan (tokoh psikoanalisis abad 20), terdapat kekurangan (lack) dalam diri subjek untuk terus berhasrat (desire) mencari pasangan yang baru.

Saya rasa, ini merupakan kesempatan emas buat yang kehilangan seorang terkasih menjadi pribadi yang berdikari secara eksistensialis. Mengapa? Karena manusia dituntut untuk bebas melakukan apa pun demi menangguhkan keberadaan yang terus meng-ada dalam dunia tanpa terlalu bergantung kepada orang lain.