Sektor pertanian di Indonesia memegang peranan penting, terutama terhadap pembangunan ekonomi nasional. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara agraris, di mana sebagian besar penduduknya hidup dan bekerja sebagai petani.

Tidak bisa dipungkiri, kebutuhan utama masyarakat berasal dari pertanian, khususnya kebutuhan pangan. Setiap waktu masyarakat senantiasa memerlukan untuk keberlangsungan hidup. Sehingga mustahil keberadaan pertanian dipisahkan dari kehidupan. Dengan demikian, pangsa pasar pertanian tidak akan pernah habis dan sepi. Apalagi jika dihadapkan dengan pertumbuhan penduduk yang kian bertambah. Semakin bertambahnya jumlah penduduk, semakin besar pula pangsa pasarnya.

Pembangunan pertanian berkaitan pula dengan pembangunan industri dan jasa. Meningkatnya pendapatan dan ketersediaan bahan pangan pokok masyarakat pada sektor pertanian, akan memacu berkembangnya industri dan jasa serta mempercepat transformasi struktur perekonomian nasional.[1]

Menyitir konsep klasik Kuznets dalam Ufira Isbah dan Rita Yani Iyan (2016) sektor pertanian mampu menumbuhkan ekonomi nasional negara berkembang. Ini disebabkan oleh sumbangan yang diberikan berupa produk, pasar, faktor produksi, dan devisa. Bukti nyata ialah terpenuhinya kebutuhan masyarakat dan terbukanya lapangan pekerjaan sektor pertanian.[2]

Kalimantan Barat sendiri memiliki potensi pertanian yang cukup melimpah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat yang diambil dari Kalimantan Barat dalam Angka, menyebutkan bahwa hingga tahun 2017 luas lahan sawah berjumlah 529.762 Hektar. Satu di  antara sumber pertanian masyarakat adalah tanaman pangan berupa padi. Di tahun 2018 periode Januari - Desember luas panen padi Kalimantan Barat mencapai 214.877 hektar dengan total produksi 622.041 ton Gabah Kering Giling (GKG). Kabupaten dengan produksi tiga terbesar diduduki oleh Sambas, Kubu Raya, dan Landak.[3]  

Setiap daerah di Kalimantan Barat memiliki corak tersendiri dalam menanam dan mengelola padi. Adapun masyarakat desa, lumrahnya masih menggunakan tradisi lokal setempat yang dari generasi ke generasi tetap diteruskan. Tradisi merupakan sesuatu yang sejak lama dilakukan dan telah menjadi komponen kehidupan kelompok masyarakat. Lazimnya berasal dari negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Informasi dari tradisi ini senantiasa dilanjutkan dari generasi ke generasi.[4]

Desa Sungai Itik, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, masyarakat mengelola padi lebih banyak menggunakan sistem sosial kekeluargaan. Pengelolaan padi ini berkaitan erat dengan ekonomi. Sementara sistem sosial kekeluargaan berkelindan dengan nilai-nilai sosial dalam kehidupan masyarakat. Kehidupan sosial ekonomi adalah perilaku sosial dari suatu masyarakat dalam bentuk interaksi sosial sekaligus menyangkut perilaku ekonomi yang berhubungan dengan pendapatan dan pemanfaatannya (Kristina Sembiring, 2009). 

Sosial ekonomi yang diaplikasikan masyarakat secara kasatmata dapat diperhatikan oleh tradisi atau kebiasaan hari-hari. Wujud sosial ekonomi tersebut adalah gotong royong. Istilah gotong royong berbeda-beda di masing-masing daerah dan suku suatu masyarakat. Dalam dialek masyarakat Melayu Sambas, Desa Sungai Itik, menyebut tradisi gotong royong dengan istilah belalle’. Maknanya saling balas membantu. Misalnya Si A pada hari ini membantu Si Bdi lain waktu sesuai kesepakatan, Si B akan balas membantu dengan pekerjaan serupa. 

Yang dilakukan masyarakat dalam tradisi belalle’ ialah pada persemaian benih, pencabutan benih, penanaman, penyiangan rumput atau proses membuang gulma, dan pemanenan. Operasional belalle’ dilakukan dengan berkelompok-kelompok, sesuai dengan rumah petani padi yang terdekat atau atas kesepakatan bersama. Jumlah kelompok antara 10 - 15 orang. 

Etos kerja masyarakat dalam tradisi belalle’ terbilang tinggi. Etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Hal ini dapat dibuktikan dari jam kerja pelaksanaannya. Masyarakat mulai menggarap sawah tanaman padi setelah azan subuh. Sebagian ada juga yang berangkat sebelum azan subuh dikumandangkan hingga siang hari. Siang hari beristirahat, kemudian lazimnya pukul 13.00 kembali melanjutkan pekerjaan belalle’ hingga sore hari. Selepas pekerjaan selesai, masyarakat akan berkumpul di rumah tuan rumah yang melaksanakan lalek-an (orang yang diberikan bantuan gotong royong) untuk menyantap makanan yang telah disediakan tuan rumah. 

Uniknya, jika dibandingkan dengan daerah lain, masyarakat Melayu Sambas di Desa Sungai Itik sebagian besar masih menerapkan tradisi belalle’, meskipun tidak direalisasikan di semua proses budidaya padi. Beda halnya dengan kebanyakan masyarakat Melayu Sambas, rata-rata tidak lagi menggunakan tradisi mulia ini. Pernyataan ini berangkat dari sebuah penelitian yang dilaksanakan oleh Wewen Darmawan, Amrazi Zakso, dan Gusti Budjang A (FKIP UNTAN, 2015). Penelitian ini menyimpulkan bahwa saat ini nilai-nilai tradisi belalle’ susah ditemukan dikarenakan rendahnya kesadaran kolektif tolong-menolong antarsesama. Masyarakat lebih cenderung menggunakan sistem upah dan menggunakan teknologi sebagai alat bantu pertanian. Sebab menggunakan teknologi dinilai lebih baik daripada pekerjaan manusia.  Padahal, kegiatan tolong-menolong ini sangat membantu masyarakat, karena tanpa mengeluarkan biaya yang besar. Jauh berbeda jika usaha tani padi dikerjakan dengan cara mengupah, bisa memakan banyak biaya.  



 
Di bawah ini ditampilkan gambar beberapa kegiatan belalle’ masyarakat Desa Sungai Itik. 

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi, 2020

Menurut Pakden, salah satu petani di Desa Sungai Itik, mengungkapkan bahwa tradisi belalle’ dapat menunjang kinerja petani sehingga pekerjaan menggarap sawah tanaman padi lebih efisien. Selain itu, pun menghemat biaya karena semua pekerjaan dibantu masyarakat sekitar. Paling penting menurut Pakden adalah meningkatkan tali persaudaraan antartetangga. Karena itu, jelas bahwa praktik sosial ekonomi dalam tradisi belalle’ telah termanifestasikan. 

Belalle’ kamek kerajekan dari gek marek ngikutek urang tue. Keraje itok e care nullong kamek inyan, sikit makan waktu. Mun sian belalle’, beume jadi mahal, banyak ngupah. Sampai kinni belalle’ maseh kamek pakai. Suke inyan mun belalle’, bise tukar pikeran sambel keraje. Jadi akrab, rase macam insanak sorang.” Terangnya sambil duduk santai menyeruput segelas teh hangat. 

Maknanya lebih kurang seperti ini:     

Tradisi belalle’ kami lakukan turun-temurun mengikuti orang tua zaman dulu. Pekerjaan ini sangat membantu karena padi kami jadi cepat selesai tanpa banyak buang waktu. Kalau tidak ada belalle’, mengerjakan padi jadi mahal karena harus mengupah orang lain. Sampai sekarang kami masih menggunakan tradisi ini. Kami senang sekali karena bisa saling bertukar pikiran sambil bekerja waktu belalle’. Kami jadi semakin akrab dan tetangga rasanya jadi keluarga sendiri.”  

Perhitungan biaya yang dikeluarkan dengan dan tanpa tradisi belalle’ dalam satu kali panen (±4 bulan) dapat disaksamai pada tabel di bawah ini. Jika menggunakan tradisi belalle’, biaya yang dikeluarkan untuk keperluan konsumsi semata. Jika tidak, semua biaya dikeluarkan untuk upah. Sumber data diperoleh berdasarkan wawancara dengan Lusiana (30), satu di antara petani di Desa Sungai Itik. 

Tabel 1

Jumlah Biaya Pengeluaran Konsumsi Tradisi Belalle’

 

No.

Proses 

Budidaya Padi

Barang Konsumsi

Harga

Jumlah Biaya

1.

Penyemaian

Gula 1 Kg

Rp.13.000




Kopi

Rp.6.000




Teh

Rp.2.000




Lauk-pauk

Rp.50.000

Rp.71.000

2.

Pencabutan Benih

Gula 1 Kg

Rp.13.000




Kopi

Rp.6.000




Teh

Rp.2.000




Lauk-pauk

Rp.50.000

Rp.71.000

3.

Penanaman

Gula 1 Kg

Rp.13.000




Kopi

Rp.6.000




Teh

Rp.2.000




Lauk-pauk

Rp.50.000

Rp.71.000

4.

Penyiangan Rumput (Pembersihan Gulma)

Gula 1 Kg

Rp.13.000




Kopi

Rp.6.000




Teh

Rp.2.000




Lauk-pauk

Rp.50.000

Rp.71.000

5.

Pemanenan

Gula 1 Kg

Rp.13.000




Kopi

Rp.6.000




Teh

Rp.2.000




Lauk-pauk

Rp.50.000

Rp.71.000


Total

Rp.335.000

 

 

Tabel 2

Jumlah Biaya Upah Usaha Tani Padi

 

No.

Proses 

Budidaya Padi

Tenaga Kerja

Upah

Jumlah Biaya

1.

Penyemaian

5 Orang

Rp.30.000/Orang

Rp.600.000

2.

Pencabutan Benih

5 Orang

Rp.30.000/Orang

Rp.600.000

3.

Penanaman

Per Anggar

(10 x 10 m2

55 anggar

x Rp.35.000

Rp.1.925.000

4.

Penyiangan Rumput (Pembersihan Gulma)

30 Orang

Rp.30.000

Rp.900.000

5.

Pemanenan

Mesin Perontok Padi

Rp.600.000/Ton

x 5 Ton

Rp.3.000.000



Total 


Rp. 7.025.000

  

Tabel di atas telah menggambarkan perbedaan pengeluaran biaya antara masyarakat yang menerapkan tradisi belalle’ dengan yang tidak. Beda pengeluaran keduanya adalah selisih antara jumlah upah dikurangi biaya konsumsi tradisi belalle’. Yaitu Rp.7.025.000 - Rp.335.000 = Rp.6.690.000. Besaran selisih ini berpotensi pula menjadikan jumlah pendapatan selama satu kali panen (±4 bulan) antara pelaku tradisi belalle’ dan bukan pelaku berbeda. Selain itu, Bagi yang mengaplikasikan tradisi belalle’, selisih sebesar Rp.6.690.000 tersebut dapat dialokasikan untuk pengeluaran kebutuhan lain. Seperti kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan. Pengeluaran biaya ini relatif. Pengeluaran bisa saja berubah tergantung faktor lain, seperti; luas garapan sawah, kondisi kesuburan tanaman, iklim cuaca, dan lain sebagainya. 


Ada perbedaan yang krusial antara menerapkan tradisi belalle’ dengan menggunakan teknologi dan sistem upah pertanian. Di satu sisi, jika tradisi belalle’ masih diagungkan, pengaruhnya mempererat ikatan persaudaraan antar masyarakat, membangun kekerabatan, melestarikan budaya Melayu Sambas, dan membangun relasi bertetangga. Di sisi yang lain, teknologi dan atau sistem upah lebih menawarkan produktivitas hasil usaha tani padi yang efisien dan efektif tanpa banyak menguras tenaga dan waktu. 

Semua pembahasan di atas, sejatinya tidak lepas dari pengawasan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Tuhan Pencipta Alam. Berikut ini adalah ayat-ayat Alquran yang berhubungan. 

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 58) [5] 

Ayat di atas menerangkan bagaimana tanah yang subur dapat menunjang kesuburan tanaman. Adapula tanah yang tidak baik. Tanaman yang tumbuh subur merupakan atas anugerah dari Allah. Sedangkan tanah tidak subur, sebagaimana pun perlakuannya tanpa izin Allah tidak akan bisa subur. Ini juga menggambarkan sifat manusia, ada yang baik dan ada pula yang buruk (Shihab, 2013: 124). 

Begitu pula dengan tanaman padi. Jika tanahnya bagus, maka tanaman padi akan subur. Berdasarkan pengamatan, Desa Sungai Itik dalam memiliki potensi tanah yang bagus. Banyak masyarakat yang gigih dalam mengelola tanaman, hasil panen berlimpah ruah.

Allah memerintahkan manusia untuk mengelola tanaman dengan baik sebagai bentuk kepatuhan kepada-Nya. Allah akan menjadikan hasil pertanian dapat dimanfaatkan oleh petani untuk memenuhi kebutuhan hidup. Allah berfirman dalam QS. Al-An’am ayat 99.[6]

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ 

 “Dan Dialah yang mengeluarkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohon berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (Kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” 

Berkaitan dengan tradisi belalle’, hakikatnya merupakan bagian dari anjuran Allah subhanahu wa ta’ala untuk saling membantu satu sama lain. Perkara ini juga disebutkan dalam Alquran surah Al-Maidah ayat 2. 

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” 

Kalam Allah tersebut menganjurkan untuk saling menolong dalam kebajikan atau kebaikan dan merupakan kewajiban seorang muslim. Kebaikan di sini maknanya menyeluruh, mencakup segala sesuatu yang menyangkut kebaikan dan ketakwaan (Shihab, 1996:3). Termasuklah belalle’ yang dilakukan masyarakat Melayu Sambas dalam mengelola tanaman padi.

   


Sumber: 

[1] Badan Agribisnis, Arah kebijaksanaan Pengembangan Agribisnis di Indonesia, (Jakarta: Departemen Pertanian, 2000)  

[2] Ufira Isbah dan Rita Yani Iyan, “Analisis Peran Sektor Pertanian dalam Perekonomian dan Kesempatan Kerja di Provinsi Riau”, Jurnal Sosial Ekonomi Pembangunan Tahun VII No. 19, November 2016, 45-54 

[3] Badan Pusat Statistik, Kalimantan Barat dalam Angka 2018 

[4] Anton, “Ungkapan Tradisional dalam Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Bajo di Pulau Balu Kabupaten Muna Barat”, Jurnal Humanika No. 15, Vol. 3, Desember 2015

[5] Ahmad Hatta, Tafsir Qur’an Per Kata (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2016) h.158 

[6] Kementerian Agama RI, Alquran dan Terjemahnya (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1990)