Lagi, lagi dan lagi kita harus menelan pil pahit kenyataan dunia pendidikan tercoreng dengan perilaku oknum pelajar yang melakukan tawuran, bukan hanya saja merugikan diri sendiri tetapi sudah pasti merugikan orang lain, bahkan yang paling fatal adalah berakibat hilangnya nyawa seseorang.

Patut kita pahami bahwa hal ini bukanlah masalah sepele, perilaku oknum pelajar yang gemar tawuran ini bukan lagi dalam derajat kenakalan remaja biasa, perilaku ini sangat meresahkan dan mengarah ke tindak kriminal dengan ancaman hukuman pidana berat meskipun usia mereka masih dibawah 18 tahun.

Sebagai generasi penerus bangsa, harapan kita sebagai bagian dari masyarakat tentu seharusnya oknum pelajar ini sadar diri dan berorientasi pada produktivitas prestasi akademik untuk dapat memajukan bangsa.

Tawuran adalah bentuk perkelahian masal yang melibatkan dua (2) kelompok atau lebih. Oknum pelajar yang melakukan tawuran tidak mampu berfikir rasional, tidak mempedulikan situasi dan kondisi untuk beraksi hingga berujung pada konfrontasi dengan masyarakat.

Kerusakan sarana dan prasarana umum, gangguan ketertiban dan keamanan, kemacetan lalu lintas, munculnya emosi dari masyarakat adalah beberapa contoh konfrontasi lanjutan akibat dari tawuran antar pelajar. 

Tentu banyak sekali berbagai faktor yang mendasari perilaku tawuran antar pelajar ini, antara lain faktor intern dari dalam keluarga, lingkungan/teman sepergaulan dan budaya turunan yang salah dari senior di lembaga pendidikan.

Tidak kita pungkiri bahwasanya tahapan remaja adalah tahapan rentan, tahapan transisi sehingga muncul ketidaksetabilan kondisi piskologis seseorang dalam pencarian pengakuan diri/jati diri.

Pola pikir dan perilaku mereka akan terbentuk dan sangat terpengaruh oleh keadaan sekitar, misalnya saja dalam pergaulan yang dominan keras, maka sifat egois, susah di kontrol, brutal, pemberani dan serakah akan kekuasaan adalah karakter yang harus dimunculkan untuk mendapatkan pengakuan, begitu juga sebaliknya.

Dalam tahapan ini terdapat pergejolakan antara pikiran dan hati individu/pelajar, disaat hati senantiasa menyadari perilaku yang dilakukan menyimpang dan suatu kesalahan, akan tetapi dalam pola pikir tidak bisa menerima hal tersebut.

hal ini akibat adanya dorongan dari faktor eksternal seperti kesalahan pandangan dogmatis, solidaritas, rasa setia kawan dan lain sebagainya yang membuat rasionalitas pelajar goyah. 

Ini adalah proses sosial saat pelajar menunjukkan eksistensinya, meskipun salah arah.


 Upaya Pencegahan

Sungguh miris saat remaja/pelajar tidak peduli terhadap kerusakan dan kerugian yang timbul akibat tawuran yang terjadi. Terlebih saat tidak adanya empati kepada korban tawuran mencerminkan degradasi moral pelaku tawuran.  

Menjadi tanggung jawab kita bersama agar bangsa ini maju dengan generasi-generasi penerus bangsa yang unggul, baik dalam budi pekerti dan akhlak, dan sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk mencegah kejadian ini terulang kembali.

Pihak keluarga, sekolah, masyarakat dan negara perlu bekerja sama demi menjaga generasi-generasi penerus bangsa ini.

Penanaman akhlak dan adab adalah fokus utama yang harus dilakukan. Semenjak dini perlu upaya untuk menanamkan nilai-nilai positif, disiplin, tanggung jawab, pola pikir dan sikap saling menghargai dalam kehidupan bermasyarakat.

Kondisi harmonis dalam keluarga akan memberikan dampak positif untuk perkembangan anak, begitu pula sebaliknya, kehidupan anak yang penuh dengan hal negatif tentu juga akan menjadikan anak berorientasi negatif.

Perhatian orang tua dan keluarga adalah salah satu wujud usaha preventif, termasuk dalam mempersiapkan mental remaja. Selain itu perlu adanya dukungan dan peran serta masyarakat dalam bentuk pengawasan pelajar, sehingga terdapat kontrol bagi pelajar untuk bertindak.

Ketersediaan sarana dan prasarana yang bermanfaat bagi pelajar harus kita upayakan. Negara-negara maju memiliki banyak fasilitas untuk masyarakat, khususnya pelajar, terdapat banyak fasilitas olahraga dan kesenian yang ada di lembaga pendidikan.

Tujuannya ketersediaan sarana dan prasarana ini adalah untuk menyalurkan minat dan bakat siswa/pelajar, sehingga mereka sibuk dalam pengembangan diri yang bermanfaat.

Peran sekolah selain sebagai wadah menimba ilmu dapat memberikan ekstrakurikuler bagi siswa, seperti diketahui, ketiadaan aktivitas dan longgarnya pengawasan sangat berpotensi menjadi pemicu siswa/pelajar untuk menyalurkan kegiatan yang menyimpang.

Selain itu pemberlakuan sanksi berat bisa diterapkan bagi siswa yang terlibat tawuran seperti penundaan kenaikan kelas, pengeluaran dan blacklist dari sekolah hingga kerja sosial. Sanksi berat sebagai usaha untuk memberikan warning bagi  pelajar yang berniat untuk berperilaku menyimpang.

Pemberian akses dan kemudahan informasi terkait proses hukum yang berlaku seperti sosialisasi terkait bahaya tawuran dan jerat hukum yang mengancam pelaku. Dalam hal ini pemerintah melalui Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak telah mengatur hukum terkait Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH).

Undang-Undang tersebut memuat secara rinci dari tahapan-tahapan proses penanganan Anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dari awal hingga akhir.

Tujuan dibuatnya Undang-Undang ini sebenarnya adalah untuk menghindarkan anak dari jeratan hukum, bukan sebagai tameng bahwa setiap remaja bebas melakukan tindakan kriminal.