Saat ini, saya masih saja terbelenggu oleh perdebatan banyak pihak soal apakah perang yang berkecamuk di Suriah disebabkan oleh konflik sektarian agama, atau sesungguhnya adalah perang politik Internasional dan adakah hubungan erat kausalitas antara agama dengan kekerasan?

Konflik yang sering terjadi ber- eskalasi pada perebutan kekuasaan, sehingga narasi-narasi agama di legitimasi sedemikian rupa untuk suatu tujuan politik. Kita melihat Indonesia pun sering mengalami kasus seperti ini.

Sementara, kaum primordialis berpandangan bahwa agama sebagai variable yang indipenden dan tidak bergantung pada aspek-aspek lain. Sehingga, agama yang ada dalam dirinya memiliki unsur Inheren yang dapat menjadi penyebab konflik. 

Tragedi Suriah dimulai dengan demonstrasi damai oleh rakyat hingga berujung konflik berkepanjangan, didasari oleh Arab Spring  yang bermula di Tunisia untuk melengserkan rezim yang dianggap zalim, diktator dan otoriter. Arab Spring sendiri memudar pada pertengahan tahun 2012, namun konflik di suriah masih terus memanas.

Muncul perubahan persepsi sebuah konflik yang diawali perang saudara menjadi perang agama yang melibatkan kekuatan internasional. Konflik yang menelan ratusan ribu jiwa ini dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk mempertajam sentimen sekte dalam islam, yaitu Sunni-Syiah.

Saat ini, Sentimen dan loyalitas agama bisa menular ke sesama pemeluk agama di Negara-negara lain, sehingga pihak-pihak yang terlibat perang akan semakin meluas. Namun apakah ini murni tentang peran sekte Sunni-Syiah? Mari kita melihat konflik tersebut secara lebih objektif.

Pemerintahan Bashar Al Assad

Keluarga Bashar Al Assad memang berasal dari kalangan Syiah Alawiyah atau Nushairiyah. Namun secara politik, tidak semua kalangan pemerintah berasal dari Syiah Alawi. Para pemimpin militer 43% Suni dan 37% Alawi, komposisi menteri 58% Suni dan 20 % Alawi, sisanya diisi oleh Druze, Ismaili, dan Kristen.

Ada sekitar 18 aliran agama yang berbeda di Suriah. Pemerintah dan lembaga semua sekuler dan melindungi hak-hak semua warga Suriah. Di Suriah tidak ada putusan sekte, semua sekte diwakili seluruh pemerintah, DPR dan militer.

Media Barat selama bertahun-tahun telah menggambarkan kekejaman Bashar al-Assad, tapi kenapa rakyat Suriah masih terus mendukungnya? Sementara di dunia termasuk juga di Indonesia percaya bahwa konflik Suriah adalah perseteruan antara muslim Sunni dan Syiah.

Siapa yang saling berperang di suriah?

Di Suriah kita dapat melihat berbagai macam peperangan dengan didasari tujuan yang berbeda-beda pula. Perang yang berbeda-beda itu berkelindan satu sama lain di beberapa tempat dengan berbagai cara, setiap kelompok bentrok dengan berbagai kelompok lain.

Terjadi berbagai macam padangan kelompok dalam memaknai “teroris” di Suriah, kita betul-betul tersamarkan dan tidak dapat melihat para pemberontak sebagai satu kelompok dengan satu sudut pandang, satu rantai komando dan satu pesan politik.

Awal mula konflik Suriah yang sebenarnya

Bukanlah Arab spring, semua ini berawal ketika pemerintahan Basyar al-Assad menolak proposal Turki untuk membangun pipa minyak dan gas alam antara Qatar dan Turki melalui Suriah. Sejak saat itu, Turki beserta sekutunya menjadi 'arsitek utama dari konflik Suriah'.

Dengan kondisi demikian, Timur Tengah kian tercabik-cabik lantaran rencana pipa minyak dan gas yang kemudian dibenturkan dengan memperuncing perbedaan keyakinan atau agama. Tentu, Situasi itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menginginkan pergantian rezim yang nantinya lebih bersedia membuka jalur pipa minyak dan gas kepada yang berkepentingan.

Namun Kenyataan nya, tidak banyak orang menyadari, segala pemberitaan tentang kekejaman tentara Suriah dan Rusia di Suriah itu tidak benar. Media Barat menyebarkan berita bohong secara terorganisir.

Pada dasarnya, apa yang terjadi di Suriah bukanlah konflik sektarian, yang membenturkan antara Sunni-Syiah, ataupun Muslim dan Non Muslim. Sangat jelas bahwa ini semua merupakan agenda atau skenario negri barat untuk menghancurkan Negara-negara muslim dengan menggunakan isu sekte agama.Ini bukanlah  soal perbedaan Sunni-Syiah tapi pihak yang membuat Sunni-Syiah itu saling bermusuhan karena perbedaan.

Untuk itu, penting kita mengamati apa yang sebenarnya terselip dari peperangan yang telah menelan ribuan korban jiwa yang tidak berdosa itu. Isu Sunni-Syiah yang berembus pada akhirnya hanya menjadi alat strategis bagi kaum radikal, terutama bagi ISIS.

Lalu, Apa pelajaran dari konflik Suriah bagi Negara kita Indonesia?  Meningkatnya gerakan anti Syiah di Indonesia juga cukup mengkhawatirkan. Hal ini mengingat jika kesamaan tujuan, maka tentu ini sangat berbahaya. Mereka juga memiliki persepsi yang sama terhadap Syiah.

Selain itu, kini mulai terjadi konflik-konflik horizontal disini, baik Dari kalangan elit, kalangan middle class maupun kalangan bawah. Penyebab konflik pada umumnya adalah kasus yang sederhana.

Para pengemban amanah sebaiknya lebih bijak dan mampu membaca perkembangan situasi. Walau kita menganut sistem demokrasi, keangkuhan dan arogansi pejabat, pada akhirnya publik akan menilai sebagai tindakan otoriter yang tidak disukai rakyat.

Konflik Suriah memberikan sebuah pelajaran berharga bagi kita tentang makna kebhinekaan dan kewajiban untuk bersatu antar entitas generasi bangsa agar terwujudnya cita-cita Negara Republik Indonesia yang berkesatuan, adil dan makmur.