Keberadaan penulis dalam karya sastra tentunya sangat penting. Tanpa adanya penulis, maka mustahil karya sastra dapat hadir di tengah-tengah kita. Penulis sastra juga dikenal dengan sebutan 'sastrawan' mereka adalah sosok yang membuat, menulis, dan menghasilkan karya sastra. 

Jika berbicara mengenai sejarah sastra Indonesia, maka yang akan teringat oleh kita adalah karya-karya luar biasa dan sastrawan yang hebat.

Pada setiap periode ataupun angkatan dalam sejarah sastra Indonesia, tentu memiliki banyak sastrawan yang berkualitas. Para sastrawan tersebut lah yang berperan vital dalam membangun fondasi sastra di bumi pertiwi. 

Adapun tokoh-tokoh sastra pada setiap angkatannya, akan dibahas satu per satu.

1. Angkatan Balai Pustaka
Angkatan ini telah melahirkan banyak pengarang sastra yang berkompeten. Sebut saja Merari Siregar dengan novelnya yang fenomenal berjudul Azab dan Sengsara (1920), setelah itu ada Marah Rusli yang terkenal karena romannya berjudul Sitti Nurbaya (1992) Ada pula sastrawan hebat bernama Abdul Muis, dengan karyanya berupa roman yang berjudul Salah Asuhan (1928), dan banyak lagi. 

Bayangkan, jika angkatan balai pustaka tidak memiliki mereka sebagai sastrawan, maka mungkin saja perkembangan sastra di Indonesia kurang berlanjut dengan baik pada angkatan setelahnya. 

2. Angkatan Pujangga Baru
Angkatan ini berkisar antara tahun 1930-1945. Pada masa pujangga baru, eksistensi dari para sastrawan sangat terlihat. Para sastrawan muda berusaha untuk membuat majalah sastra, walau beberapa kali gagal. 

Namun, akhirnya mereka berhasil menerbitkan majalah Pujangga Baru. Hal ini bertujuan, agar para penulis sastra dapat menerbitkan karya-karya mereka di majalah tersebut dan agar para sastrawan tidak bercerai-berai karena menerbitkan di berbagai majalah. 

Adapun beberapa tokoh yang berperan penting pada angkatan ini, yaitu S. Takdir Alisjahbana yang merupakan pimpinan redaksi majalah pujangga baru, Sanusi Pane, M. Amir, Ki Hadjar Dewantara, dan lain sebagainya. 

3. Angkatan 1942-1945
Pada angkatan ini, suasana politik sedang bergejolak.
Kondisi perekonomian pun sangat sulit. Sehingga kemunculan pengarang-pengarang sastra pada masa ini, sangatlah berperan penting dalam perkembangan sastra hingga saat ini. 

Tokoh-tokoh tersebut tetap menghasilkan karya sastra, walau di tengah keadaan politik dan ekonomi yang belum stabil akibat pendudukan Jepang yang berlanjut hingga usaha untuk mempertahankan kemerdekaan.

Adapun sastrawan tersebut di antaranya Chairil Anwar yang terkenal dengan puisinya berjudul Aku,  Achdiat K. Mihardja dengan karyanya Atheis, Pramoedya Ananta Toer dengan romannya berjudul Bukan Pasar Malam dan lainnya. 

4. Angkatan 1950-an
Pada masa ini, terjadi krisis dalam kehidupan bangsa Indonesia. Khususnya di bidang politik. Bahkan lahirlah Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) oleh tokoh-tokoh Komunis. 

Tentu, saat itu adalah masa yang sulit bagi para sastrawan untuk berkreatifitas. Segala sesuatunya diwarnai oleh berbagai konflik politik ataupun ideologi. 

Namun, dengan gigihnya para penyair sastra tersebut tetap semangat dalam menghasilkan berbagai karya. Contohnya saja W.S Rendra dengan karya apiknya yaitu Ballada Orang-Orang Tercinta, Ajip Rosidi dengan cerpennya berjudul Di Tengah Keluarga, adapula seorang penyair wanita bernama N.H Dini dengan salah satu karya apiknya berjudul Dua Dunia.

5. Angkatan 1966
Masa ini adalah masa peralihan dari orde lama ke orde baru. Di mana kondisi bangsa Indonesia pada saat itu masih belum baik-baik saja. Namun nafas kembali untuk sastrawan Indonesia, di mana pada angkatan ini lahirlah majalah horison yang memberikan semangat lagi bagi para penulis. 

Pada masa ini bermunculan penulis sastra yang cukup berpengaruh.
Adapun penulis sastra yang cukup populer adalah Taufik Ismail (Tirani dan Benteng), Sapardi Djoko Damono (Dukamu Abadi), Abdul Wahid Situmeang (Sajak Pembebasannya), Sutardji Calzoum Bachri (Amuk).
Para sastrawan tetap memegang peranan yang cukup penting. 

6. Angkatan 2000
Angkatan ini adalah angkatan yang cukup bebas. Maksudnya, para penulis sastra tidak harus berpatok pada suatu aturan tertentu. Pada angkatan ini, siapa saja bisa menjadi penulis dengan cukup mudah dikarenakan adanya kemajuan teknologi. Peran penulis masih sama penting dalam angkatan ini. 

Adapun penulis yang terkenal seperti Anwar Fuady dengan novel Negeri Lima Menara, Habiburrahman El-Shirazy dengan novel Ayat-Ayat Cinta, Tere Liye dengan novel Pulang, ada pula penulis sastra wanita kakak beradik, yaitu Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, serta masih penulis sastra lainnya. 

Dari enam angkatan di atas, dapat kita lihat dan simak bahwa peran penulis dalam suatu karya sastra sangatlah sentral. 

Di setiap angkatan, para sastrawan memiliki peran yang berbeda, walau sama-sama membuat suatu karya sastra. Contohnya pada angkatan Pujangga Baru, sastrawan tersebut berusaha keras untuk membuat majalah baru agar para sastrawan lain lebih mudah menerbitkan karyanya dan tidak terpecah belah. 

Sedangkan pada angkatan 50-an sastrawan tersebut tetap memiliki semangat tajam untuk menghasilkan suatu karya sastra walau di tengah pergolakan politik yang melanda Indonesia pada saat itu.


Dengan demikian, eksistensi penulis dalam merealisasikan karya sastra tidak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak bisa dilupakan.

Ketika membaca suatu karya sastra, maka kita juga harus mengetahui siapa pengarang yang mampu menghasilkan karya tersebut. Peran sastrawan dalam perkembangan sejarah sastra Indonesia harus tetap diperhatikan. 

Daftar Pustaka:
Erowati, Bahtiar. 2011. Sejarah Sastra Indonesia. Ciputat: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Yudiono K.S. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.