Kebanyakan orang memiliki stereotip yang negatif tentang filsafat. Bagi mereka, ilmu filsafat sangat rawan dalam menjadikan seseorang ateis dan kemungkinan besar lulusan filsafat tidak akan menjadi apa-apa di masa yang akan datang. 

Selain itu, manfaat ilmu filsafat juga tidak bisa dirasakan secara langsung, sehingga hal ini akan terbentuk persepsi masyarakat bahwa filsafat itu adalah ilmu yang tidak ada gunanya sama sekali. Maka, dari hal-hal itulah yang menjadi dugaan bagi masyarakat pada umumnya dalam menilai lulusan filsafat. 

Tetapi, apa yang dikatakan oleh kaum awam hanyalah sebatas asumsi-asumsi liar yang tidak ada dasarnya sama sekali mengenai filsafat. Justru eksistensi lulusan filsafat nanti akan sangat berguna dalam sektor-sektor kehidupan, khususnya dalam bidang teknologi informasi.

Zaman sekarang sudah memasuki era revolusi industri 4.0 yang berarti teknologi informasi telah menjadi dasar atau fondasi dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak abad ke-21.

Jika pada masa lalu, orang-orang bekerja dengan cara yang manual atau hanya mengandalkan tenaganya saja, kini era yang modern sekarang menjadikan teknologi sebagai alat bantu hidup manusia yang utama. 

Misalnya, pada zaman dulu, orang-orang menjahit dengan cara yang manual dan terbilang sangat sederhana. Tetapi, di zaman sekarang sudah terdapat mesin jahit yang dapat menjahit pakaian dengan tingkat akurasi yang tinggi, sehingga hal ini tentu akan sangat membantu para penjahit dalam melakukan pekerjaannya.

Misalnya lagi, pada zaman dulu, orang-orang hanya melakukan surat-menyurat sebagai alat komunikasi yang utama pada eranya. Tetapi, di zaman sekarang sudah terdapat sebuah sistem komputer berbentuk kecil yang bisa digenggam oleh tangan kita, yaitu smartphone

Smartphone sekarang dinilai jauh lebih efektif dalam mencari, membagi, dan memberi informasi dengan sangat cepat. Jadi, manusia tidak perlu lagi pergi ke tempat pengiriman surat untuk hanya memberikan pesan atau informasi kepada orang. Kini, hanya melalui smartphone saja, orang-orang dapat berkomunikasi dalam jarak yang jauh dan lebih hemat biaya. 

Lalu, pertanyaannya, bagaimanakah peran lulusan filsafat dalam bidang teknologi?

Filsafat adalah seni bertanya. Mempertanyakan sesuatu hingga ke akar-akarnya adalah hal yang wajib bagi lulusan filsafat. Semua orang pada dasarnya adalah seorang filsuf, karena dia mempertanyakan sekaligus memperjuangkan sesuatu.

Misalnya pada smartphone. Seseorang tidak akan mungkin bisa mencetus konsep smartphone jika ia tidak pernah bertanya mengenai benda kecil apa yang dapat sangat membantu kehidupan manusia? Benda kecil apa yang bisa menghubungkan dan menyatukan orang dari belahan dunia? Benda kecil apa yang bisa melakukan segala pekerjaan? 

Filsafat adalah ilmu kritis. Sama seperti poin penjelasan yang sebelumnya. Seni bertanya dan kritis adalah sesuatu yang saling berkaitan. Dengan berpikir kritis, maka muncullah sebuah pertanyaan-pertanyaan yang unik. Dari pertanyaan-pertanyaan yang unik akan dijawab dengan jawaban yang unik juga.

Contohnya pada e-commerce, aktivitas jual beli yang dilakukan melalui media elektronik. Seseorang dapat mencetus atau membuat konsep e-commerce karena dia berpikir kritis. 

Seseorang tersebut dapat melihat permasalahan yang terjadi dengan jeli bahwa pada saat itu manusia hanya melakukan aktivitas jual beli secara manual saja, yang di mana hal itu membutuhkan tenaga kaki manusia atau alat transportasi untuk pergi ke tempatnya demi melakukan transaksi dan hal itu dirasa kurang efektif olehnya.

Lalu, kenapa tidak seseorang tersebut berpikir untuk menciptakan sebuah media perantara berupa e-commerce antara penjual dan pembeli sehingga orang-orang dapat melakukan aktivitas jual beli daring, yang mana hal itu akan sangat efektif dan efisien bagi kedua belah pihak.

Contoh lainnya seperti jasa pelayanan angkutan, yaitu Gojek. Gojek adalah sebuah perusahaan teknologi asal Indonesia yang melayani angkutan melalui jasa ojek.

Namun, hal yang menariknya terletak pada pendiri Gojek yang sangat cermat melihat permasalahan sekitar yang berawal dari sulitnya para ojek umum mencari nafkah untuk keluarganya karena profesi nya sebagai ojek umum kurang mendapatkan pengakuan dan respek dari masyarakat.

Sebenarnya CEO dari Gojek sendiri sadar dan melihat bahwa permasalahan itu ada. Lalu, kenapa tidak pendiri Gojek itu membuatkan sebuah aplikasi bernama Gojek agar para ojek mendapatkan pengakuan dan pendapatan yang lebih layak, serta mempermudah bagi masyarakat untuk bepergian dengan hanya menggunakan aplikasi layanan angkutan melalui jasa ojek.

Dengan mempertanyakan secara kritis dan memperjuangkannya akan membuat seseorang terdorong untuk membuat inovasi-inovasi yang belum pernah terpikirkan sebelumnya dan memberikan dampak yang luar biasa terhadap kemajuan teknologi. Itulah gunanya filsafat dalam bidang teknologi.

Filsafat mendorong orang berpikir secara mandiri. Lulusan filsafat mampu berpikir secara menyeluruh, memperhitungkan berbagai hal secara kaya dan luas serta memahami pola hidup setiap bidang yang digelutinya dengan baik, khususnya dalam bidang teknologi. Dan, tentu saja filsafat bukan ilmu terapan.

Filsafat tidak memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana dalam menciptakan teknologi. Filsafat justru akan bertanya apa itu teknologi? Mengapa manusia harus menggunakan teknologi? Apakah teknologi itu layak digunakan?

Dengan cara berpikir seperti ini, filsafat akan membantu manusia mengatur permasalahan dalam bentuk yang sistematis dan membawa pada pemahaman yang akhirnya akan menuju kepada tindakan yang lebih layak.