Pada era yang lumrah disebut sebagai era digital, mobilisasi dan arus informasi berputar dengan cepat. Tanpa tedeng aling-aling, suatu isu di pusat ibu kota, bisa menjadi trending topic yang mengikutsertakan cuitan dari masyarakat di ujung timur maupun barat nun jauh sana. Sehingga tak heran muncul satu terma baru untuk merefresentasikan situasi ini, yang disebut dengan digital citizenship (masyarakat digital/kewarganegaraan digital)

Namun, dengan semakin derasnya arus digitalisasi juga berimplikasi besar terhadap tereduksinya peranan dan fungsi kertas. Hal ini merupakan imbas dari dikedepankannya peran teknologi yang sophisticated dengan membentuk suatu realitas maya (virtual reality) dan pada akhirnya proses demikian menyebabkan peran kertas terpinggirkan dengan sendirinya. Semua menjadi serba praktis dengan hanya mengklik pada smartphone maupun perangkat elektronik lainnya.

Walaupun demikian, merunut pada garis historis, patut untuk direnungi bahwasanya kelahiran dari peradaban umat manusia yang ditandai dengan ditemukannya tradisi tulisan, menjadi bagian utuh dari terciptanya kertas. Tradisi tulisan yang masih sangat sederhana pada waktu itu, hanya memanfaatkan media seadanya dan dipandang tidak efektif dan efesien. Sehingga, untuk mempermudah penulisan teks dan naskah adalah Tsai Lun, orang yang menemukan kertas pertama kali. Bahan untuk membuat kertas sendiri berasal dari bambu yang mudah didapat di seantero China pada tahun 101 Masehi. Oleh karenanya, peradaban Cina tercatat dalam sejarah sebagai yang pertama kali menyumbangkan kertas bagi Dunia.

Atas refleksi inilah mengapa kita perlu untuk memahami peran kertas secara subtansial. Arus digitalisasi dan modernitas yang mengemuka mestinya tidak serta merta meminggirkan peran kertas. Sadar ataupun tidak, bahkan sumbangsih atas keilmuan dan kemajuan peradaban manusia yang mengantarkan pada era digital tak luput dari peran kertas sebagai media yang mengakomodir berbagai literatur penelitian dan akademik ilmuan maupun pakar teknologi. Maka itu, adalah “ibarat kacang lupa pada kulit” apabila pada era sekarang ini peran kertas justru dipinggirkan, jika enggan menyebut dihilangkan.

Disamping itu, bak dua sisi mata uang, penggunaan kertas juga memiliki dampak buruk, terutama perihal dampak lingkungan. Peningkatan kebutuhan kertas dan produk sejenis tentunya diiringi dengan peningkatan kebutuhan akan bahan baku dan bahan tambahan lainnya. Kebutuhan kertas nasional sendiri diketahui sekitar 5,6 juta ton per tahun. Untuk membuatnya diperlukan bahan baku kayu dalam jumlah besar dan mahal.

Perlu diketahui untuk memproduksi 1 rim kertas diperlukan 1 batang pohon usia sekitar 5 tahun, dan untuk menghasilkan 2 pack tisu berisi 40 sheet membutuhkan 1 batang pohon berumur 6 tahun. Padahal 1 batang pohon itu bisa menghidupkan sekitar 3 orang.Selain itu, limbah yang dihasilkan dari proses produksi kertas dan tisu juga sangat besar. Baik secara kuantitatif dalam bentuk cair, gas dan padat maupun secara kualitatif. (surabayanet.com)

Menurut hemat penulis, pada titik ini solusi untuk semua persoalan lingkungan bukanlah dengan menuntut masyarakat sebagai pengguna untuk tidak lagi bergantung pada kertas, namun mulai untuk menegaskan secara ketat agar pola konsumsi kertas dapat ditekan dan dipergunakan secara efisien. Sebab, tidak mungkin mengedepankan solusi ekstrem dengan mengalihkan semua fungsi kertas, karena apabila cara ini yang ditempuh, maka sama halnya dengan membunuh peradaban tulisan (literasi) itu sendiri.

Modernitas mestilah dipahami secara berimbang. Bukan melulu tentang hal praktis, namun harus disandarkan pada kebutuhan secara manusiawi. Kemudahan yang ditawarkan oleh perangkat teknologi memang tidak bisa dihindari, tapi akan lebih bijak bila kemudian mampu diiringi dengan lahirnya pemikiran mencerahkan bagi peradaban umat manusia.

Contoh nyata dari semua ini penulis temukan pada statemen seorang penulis indie Indonesia-yang penulis lupa namanya. Ia menyebutkan, dahulu sewaktu akses menuju sumber referensi buku yang diinginkan sangat sulit, namun segera setelah buku tersebut didapat, si pembaca akan mengupas tuntas isi bacaan yang ada, tak jarang mereka itu disebut “filsuf yang sudah khatam zahir bathin terhadap bahasan didalam buku yang mereka baca. 

Berbeda halnya dengan sekarang ini, disaat kemudahan untuk mengakses sumber bacaan, bahkan beberapa tersedia dalam bentuk digital seperti ebook, justru malah mengakibatkan kemunduran berpikir. Beberapa diantaranya cenderung hanya menjadi kolektor, dengan hanya sesekali menyingkap halaman buku. Sehingga tak mengejutkan, Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Kembali pada persoalan kertas.

Dapat dikatakan kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan peradaban ataupun keilmuan. Disatu sisi, kemajuan teknologi bisa menjadi bumerang yang justru merugikan bagi masyarakat sebagai pengguna. Hal tersebut, dapat menjadi alasan kuat untuk tetap mempertahankan fungsi kertas dalam kehidupan masyarakat.

Selain itu, dalam artikel kompas (15 juli 2014), Rony K Pratama menjelaskan ihwal pentingnya “literasi dan pelajaran kliping”. Dua elemen ini sangat penting untuk kembali dihidupkan, terutama di tingkat Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, mengkliping berita dari koran ataupun majalah (dengan media kertas) bukan sekadar aktivitas gunting-menggunting, melainkan juga disiplin literasi. Pelajaran kliping juga mendidik agar siswa tajam daya kognitifnya terhadap informasi yang dikumpulkan. Sebab itu, ia harus teliti memilah dan memilih berita dalam satu tema secara sistematis dan logis.

Pelajaran kliping tak ubahnya pengarsipan yang bisa diwariskan turun temurun. Tidak seperti, jejak literasi digital yang bisa hilang kapan pun. Berbeda halnya dengan naskah yang tercecer, bisa jadi suatu waktu ditemukan oleh anak cucu mereka, sebagai pendukung atas pembacaan terhadap penelusuran sejarah otentik.

Karya-karya agung penulis zaman dahulu pun dapat sampai pada era sekarang, tak luput dari peran kertas sebagai media. Lantas, pemikir atau ilmuwan zaman kini juga tidak serta merta bisa lepas dari Kertas, mungkin saja media presentator sekarang ini akan lebih canggih dengan memadupadankan teknologi mutakhir, tapi tetap, fungsi kertas sebagai medium penyampai informasi kepada audiens tidak bisa ditiadakan begitu rupa.

Dengan demikian tesis Frederick Wilfrid Lancester, pakar informasi Inggris pada 1978 tentang Masyarakat tanpa kertas (paperless society), yakninya sebuah masyarakat yang tidak lagi menggunakan kertas sebagai medium tulis, baca, dan pertukaran informasi, telah menemukan antitesa baru sebagai bantahan. 

Kongklusi umum dari penuturan penulis di atas menemukan bahwasanya fungsi kertas dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dihilangkan, kertas tetap menjadi bagian utuh yang mengawal peradaban umat manusia. Kalaupun ada hal yang mesti diperhatikan, bukanlah pada upaya mengeliminir kertas, tapi lebih kepada bagaimana dampak lingkungan dari kertas dapat diatasi dengan melakukan semisal, daur ulang (recycling) dan penggunaan kertas yang lebih bijak dan efisien.