Kira-kira apa yang terlintas dibenak kita ketika mendengar maupun membaca kata “kertas”? beberapa hal yang mungkin saja terlintas dibenak kita, seperti (1) kertas adalah bahan tipis berwarna putih polos yang digunakan untuk menulis, coret-coret, membuat sketsa, membuat origami, dan lain sebagainya, (2) kertas mengingatkan kita tentang perpustakaan yang menjejer ratusan bahkan ribuan buku di rak-rak dengan susunan yang elok dan rapih, sementara terlihat beberapa orang yang sedang membaca, atau hanya sekadar membolak-balik halamannya saja, (3) kertas menjadi bagian aktivitas para nasabah dan pegawai Bank yang sedang menghitung uang dengan jari, maupun melalui mesin, (4) aktivitas ibu-ibu yang menjadikan kertas sebagai pembungkus makanan sambil bergunjing di pasar, (5) kertas mengingatkan kita tentang mesin fotocopy dengan berbagai aktivitas manusia dalam memperlakukan kertas setiap harinya. Tentu saja, sangat banyak yang terlintas dibenak kita. Namun yang paling penting adalah mengapa dan untuk apa kata ‘kertas’ tersebut hadir dalam kehidupan manusia dari zaman Old, sampai era Kids Zaman Now?

Kertas merupakan bahan tipis, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Kehadiran kertas menjadi penemuan terbesar dalam sejarah peradaban umat manusia dimuka bumi. Dalam sejarahnya, kertas dijadikan sebagai medium utama untuk menuliskan berbagai pemikiran yang berpusat pada refleksi manusia terhadap kehidupan personal, keluarga, masyarakat, alam, maupun tentang ‘ke-Tuhanan’. Melalui kertas, kita dapat mengetahui sejarah perkembangan filsafat, bahkan ilmu pengetahuan lainnya yang dicetak dalam bentuk buku. Dengan begitu, kehadiran kertas menjadi penting agar masyarakat kontemprer dapat mengetahui begitu pentingnya sejarah kertas untuk kebutuhan umat manusia.

Sebelum kertas ditemukan, manusia menuliskan pemikirannya melalui medium, pohon, daun lontar, kulit binatang, sutra, batu, dinding goa, dan lain-lain. Bangsa Mesir (3500 SM) menjadikan papyrus sebagai bahan utama untuk kebutuhan menulis. Kehadiran Papyrus ini sangat populer di Yunani dan Romawi, bahkan berkembang di Timur Tengah, Asia, dan Eropa. Di Arab, pelepah daun kurma dijadikan sebagai media utama dalam menulis. Di Barat, sebelum kertas ditemukan maka perkamen atau vellum yang terbuat kulit domba atau sapi sebagai medium utama di dalam penulisan. Sementara, di nusantara terdapat berbagai manuskrip-manuskrip kuno yang ditulis melalui media daun lontar.

Perubahan revolusioner di dalam pembuatan kertas terjadi di Cina sekitar tahun 101 M. Penemu kertas di Cina adalah Cai Lun (Ts’ai Lun). Ia hidup dalam era Dinasti Han, abad ke-1 – abad ke-2 Masehi, bertugas sebagai Kasim di Istana. Selain sebagai Kasim, Cai Lun juga bertugas sebagai pegawai negara pengadilan kekaisaran. Kemudian, pada tahun 105 M, Cai Lun memperkenalkan contoh kertas kepada Kaisar Han Hedi. Akhirnya, penemuan Cai Lun menyebar sampai ke Jepang, Korea, Mongolia, dan Timur Tengah.

Penyebaran bangsa Cina mengitari Asia, sampai ke Timur Tengah menjadi entry point terhadap perkembangan pembuatan kertas. Termasuk pada Dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah, yang berhasil mengalahkan pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 M. Para tahanan perang dari Dinasti Tang mengajarkan pembuatan kertas kepada orang-orang Arab di Samarkand, Irak pada Abad ke-8 M. Tercatat dalam sejarah, industri kertas yang berpusat pada kejayaan Dinasti Abbasiyah menyebar ke negara-negara lainnya di Eropa seperti di Spanyol pada tahun 1151 M, Fabrino, Italia pada 1276 M, dan di Nuremberg Jerman satu abad kemudian.

Perkembangan selanjutnya, industri kertas mengalami perubahan yang signifikan seiring dengan ditemukannya teknologi mesin Fourdrinier untuk memproduksi lembaran kertas tipis dengan metode wire screen yang bergerak oleh Nicholas Louis Robert pada tahun 1799. Tahun 1809, John Dickinson menemukan mesin Silinder untuk tehnik pengeringan kertas. Tahun 1927, Amerika Serikat mengembangkan teknologi mesin Fourdrinier yang lebih progresif.

Produksi kertas tidak hanya sebatas untuk menulis saja. Namun, kertas tersebut juga digunakan untuk kebutuhan melukis, sketsa, cetak foto, packaging (pembungkus), uang, tissue pembersih, dan masih banyak lagi kegunaannya. Tentu saja, hal ini sangat menentukan eksistensi dunia kertas di era digital yang berkembang sangat pesat saat ini. Kehadiran internet menjadi penanda baru era digital, di mana manusia dapat mengakses segala informasi, ilmu pengetahuan, hanya melalui handphone tablet, android. Artinya, ada semacam kecemasan bahwa dengan berkembangnya dunia teknologi informasi, maka eksistensi kertas sebagai kebutuhan manusia semakin berkurang, bahkan beransur menghilang.

Hadirnya portal jurnal online, koran online, majalah online, e-book, blog, bahkan website merupakan wajah-wajah dunia digital yang kita temukan saat ini. Berbagai portal ini dipandang mampu menggantikan dunia kertas yang selama ini digunakan manusia secara konvensional seperti buku, majalah, jurnal, dan lain-lain. Di satu sisi, era digital (teknologi-informasi) menjadi kebutuhan yang sangat signifikan karena masyarakat dapat mengakses segala informasi secara terbuka, dan demokratis. Artinya, era digital merupakan keniscayaan sejarah masyarakat kontemporer yang tidak bisa dibendung. Di sisi lain, era digital dipandang sebagai ancaman terhadap keberadaan dunia literasi media cetak yang selama ini menggunakan kertas sebagai bahan utama di dalam mencetak buku, majalah, jurnal, koran. Sehingga, di era digital saat ini banyak penerbit yang gulung tikar, karena usaha mereka telah digantikan oleh media online.

Barangkali, kertas dalam konteks literasi menjadi persoalan ketika era digital telah menggantikan fungsinya. Namun, yang perlu dipahami adalah masyarakat pembaca tentu masih senang dengan cara-cara konvensional dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan melalui media cetak termasuk generasi zaman Old, generasi X, termasuk generasi Y. Sementara, generasi Z yang lahir di tahun 2000-an, dipandang penguasa era digital yang cenderung menjadikan teknologi-informasi sebagai menu utama di dalam mengakses segala bentuk informasi, maupun ilmu pengetahuan. Selagi kuota internet belum habis, atau jaringan wifi masih hidup maka generasi Z tetap aktif memainkan gadget berupa tablet, android, smartphone, dan laptop.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi di era digital saat ini, tentu saja tidak mempengaruhi produksi kertas setiap harinya. Indonesia, termasuk negara yang produktif dalam memproduksi kertas. Bahkan Indonesia merupakan salah satu negara eksportir kertas terbesar di Asia. Data tahun 2016, menyebutkan bahwa kebutuhan kertas ASEAN justru diekspor dari Indonesia. Berdasarkan data tersebut, Indonesia termasuk peringkat pertama di ASEAN dalam persaingan industri kertas. Sementara di dunia, Indonesia termasuk dalam peringkat keenam.

Saat ini, industri kertas juga banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, dunia pendidikan (Perguruan Tinggi dan Sekolah), perkantoran, tempat ibadah, gedung pemerintahan, toko, pasar, bahkan diberbagai sektor kehidupan masyarakat lainnya. Dalam konteks kerajinan (craft), sampah kertas didaur ulang untuk kebutuhan pembuatan kerajinan dan karya seni. Beberapa bentuk kerajinan yang dihasilkan dari kertas daur ulang, seperti celengan, figura foto, stopmap, box tissue, kalender. Dalam konteks karya seni, beberapa seniman yang memiliki konsentrasi penciptaan karya seni yang berpusat pada kertas daur ulang (recycle) seperti Su Blackwell, Natasha Kerr, Susan Stockwell, Louise Baldwin, Jennifer Collier, dan Jane Perkins.

Mencermati eksistensi kertas di era digital saat ini, tentu dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kehadiran kertas terus hadir dan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi-informasi yang canggih. Berbagai asumsi terkait kecemasan tentang industri kertas akan mengalami kemunduran, karena era digital dianggap mendominasi dan bakal menggantikan posisi kertas dalam kehidupan. Hal ini, tentu saja tidak dapat digeneralisir begitu saja. Mengingat produksi kertas tidak hanya sebatas untuk kebutuhan menulis semata, namun kertas juga difungsikan dalam sektor kehidupan masyarakat lainnya. Tentu saja, produksi kertas menjadi salah satu sumber ekonomi yang mampu meningkatkan martabat negara Indonesia di mata regeional ASEAN, maupun Internasional.