Siapa yang tidak kenal dengan kertas? Kertas merupakan sebuah media yang umumnya digunakan untuk menulis atau menggambar. Ditemukannya kertas adalah sebuah penemuan luar biasa dalam sejarah peradaban umat manusia. 

Penemuan kertas tidak dapat dipisahkan dari pertama kalinya manusia mengenal aksara atau tulisan. Kebudayaan aksara pertama kali diperkenalkan oleh salah satu bangsa yang ada di lembah Mesopotamia, yaitu Sumeria. Mereka menggunakan tanah liat yang masih basah sebagai media untuk menulis yang kemudian dikeringkan dan dibakar agar tahan lama. Hal ini telah berlangsung sejak tahun 4.000 SM.

Namun kemudian di waktu yang hampir bersamaan, tepatnya 3.500 tahun SM, bangsa Mesir memperkenalan kertas yang dibuat dari serat pohon papyrus. Di mana tanaman tersebut tumbuh subur di sepanjang Sungai Nil. 

Masyarakat Mesir Kuno menggunakan serat papyrus untuk membuat kertas. Bagian tumbuhan yang diambil adalah batang bagian dalamnya, kemudian batangnya dipipihkan hingga airnya keluar dan lalu direndam dalam air bersih selama kurang lebih satu minggu. 

Langkah berikutnya, susun batang horizontal dan vertical secara bergantian di atas kain tebal yang dapat menyerap air hingga membentuk persegi. Lalu tutup kembali menggunakan kain dan kemudian press dengan suatu pemberat selama satu minggu, setelah itu kain dibuka dan dijemur selama sehari agar hasilnya maksimal.

Pembuatan kertas modern baru dimulai pada pada abad kedua, ketika Cina berada dalam kekuasaan Dinasti Han. Penemunya adalah Ts’ai Lun. Kertas tersebut terbuat dari kulit kayu, kain, dan batang gandum. 

Kelebihan dari kertas buatanya adalah relatif murah, ringan, tipis, dan tahan lama. Pada pertengahan abad ke-8 teknik pembuatan kertas jatuh ke tangan orang-orang Arab. Tawanan-tawanan perang Cina, pada masa pemerintahan Dinasti Tang, yang kalah perang pada Pertempuran Sungai Talas mengajarkan cara membuat kertas kepada orang-orang Arab. 

Hingga kemudian didirikan pabrik kertas yang pertama di dunia, yaitu di daerah Samarkand. Tidak lama kemudian teknik pembuatan kertas mulai merambah ke Eropa, tepatnya setelah Perang Salib. Sedangkan di Indonesia kertas mulai ada sekitar abad ke-9. Kertas tersebut terbuaat dari batang pohon mullbery yang disebut daluang.

Dapat dikatakan hampir setiap hari kita menggunakan kertas, baik dalam bentuk lembaran, buku, majalah, koran, atau bahkan pembungkus makanan. Dalam bidang akademik, kita mengenal kertas sejak diajarkan bagaimana cara menulis. 

Berarti hal tersebut terjadi sejak kita menginjak umur lima tahun. Ketika sekolah, baik di tingkat TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, bahkan hingga kita bekerja akan selalu berhadapan dengan benda yang kita sebut sebagai kertas. Bayangkan saja, jika satu orang membutuhkan minimal 1 rim kertas dalam satu tahun dan kita menggunakan kertas dari umur 5 hingga 60 tahun, maka selama kita hidup minimal kita membutuhkan kertas sebanyak 57 rim. 

Dimana 1 rim kertas kira-kira membutuhkan satu batang pohon yang berusia lima tahun. Padahal jumlah populasi manusia di bumi ini yang berumur 5 hingga 60 tahun ada sekitar 5,913 miliar jiwa (Berdasarkan data US Cencus Bureau 2018). Dapat dihitung kan berapa jumlah pohon yang harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas di seluruh dunia.

Hutan memang disediakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia di bumi, namun dalam konteks ini adalah memanfaatkannya sebaik mungkin secara bertanggung jawab. Bukan dengan mengeksploitasi secara brutal demi memenuhi keserakan manusia tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan akibat hal tersebut. 

Sebagai penghuni bumi, kita juga harus mejaga dan melestarikannya karena bumi tidak hanya kita nikmati untuk saat ini saja, tetapi juga untuk anak cucu kita di masa yang akan datang. Langkah yang kita ambil saat ini, akan menentukan keberlangsungan kehidupan di bumi ini untuk hari esok, lusa, dan masa depan.

Saat ini, banyak hutan yang gundul akibat deforestation untuk pembuatan pulp atau bubur kertas. Kegiatan tersebut mengakibatkan rusaknya ekosistem hutan. Padahal kita tahu bahwa hutan adalah paru-paru dunia sekaligus sebagai habitat dari bermacam-macam hewan dan tumbuhan yang beberapa diantaranya adalah bersifat endemik. 

Hal tersebut akan mempengaruhi kelangsungan hidup mereka. Manusia pun pasti juga akan merasakan dampaknya. Kebakaran hutan dan kekeringan panjang ketika musim kemarau serta banjir bandang dan tanah longsor saat musim penghujan adalah rutinitas yang terjadi setiap tahunnya. 

Bahkan, dampak global yang dirasakan saat ini oleh penduduk dunia ialah meningkatnya suhu di bumi atau kita biasa menyebutnya sebagai global warming. Karbondioksida yang berlebihan di atmosfer, yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, tanpa diimbangi dengan penanaman pohon akan membuat bumi semakin panas. 

Hal yang lebih parah lagi es di kutub akan mencair karena fenomena tersebut, sehingga muka air laut akan naik. Pengaruhnya ialah banyak hewan, tumbuhan, bahkan manusia yang mati karena tidak dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang seperti itu.

Walaupun begitu banyak dampak yang terjadi terhadap lingkungan, namun kita juga tidak bisa melarang atau bahkan memberhentikan produksi kertas. Karena di sisi lain kita juga membutuhkannya. Bahkan menurut Kepala Balai Besar Pulp dan Kertas, Andoyo Sugiharto, Indonesia merupakan negara produsen kertas nomor 6 terbesar di dunia dan negara produsen pulp nomor 9 terbesar di dunia. 

Kita boleh saja berbangga dengan hal itu, namun dibalik pencapaian tersebut ada lingkungan yang harus dikorbankan, karena menurut Andoyo, hampir sebagian besar total produksi pulp pada tahun 2013 (4,55 juta ton) adalah kayu dan hanya 0,0004% saja yang menggunakan pulp bambu.

Solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah ini antara lain melakukan daur ulang kertas. Walaupun hasil kertas daur ulang memiliki kualitas satu tingkat di bawah kertas aslinya, namun tetap masih bisa digunakan. Misalnya saja kerta HVS putih bekas didaur ulang mungkin bisa digunakan sebagai kertas koran. Setidaknya hal tersebut akan mengurangi jumlah pohon yang ditebang. 

Kemudian langkah selanjutnya adalah menghemat penggunaan kertas dan yang terakhir adalah lebih menggalakkan lagi penggunakan bahan lain yang lebih mudah di dapat dan lebih ramah lingkungan sebagai bahan baku pembuatan kertas (bahan nonkayu). 

Misalnya saja menggunakan limbah hasil pertanian seperti tandan kosong sawit, jerami, ampas tebu, atau bahan nonkayu lainnya seperti kapas dan bambu. Bahan baku nonkayu dalam pembuatan pulp mempunyai beberapa kelebihan diantaranya yaitu lebih mudah untuk dibuat pulp, mudah untuk digiling, dan mudah diputihkan dengan bahan yang ramah lingkungan.